Menolak Jenazah Covid-19 Menurut Hukum Islam

1
11

BincangSyariah.Com – Pandemi Covid-19 masih melanda pelbagai negara di dunia. Jutaan orang meregang nyawa. Di Indonesia jumlah pasien yang meninggal akibat positif  virus corona mencapai 38.753 orang. Sayangnya,  terdapat masyarakat yang menolak jenazah Covid-19. Pelbagai alasan yang muncul; takut  tertular virus dan membahayakan massyarakat lain. Nah, bagaimana menolak jenazah Covid-19 menurut hukum Islam?

Menurut Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, dalam kitab al-Umm mengatakan menguburkan mayit merupakan suatu yang wajib dalam Islam. Seyogianya seorang yang mati memperoleh haknya di dunia berupa dimandikan, kain kafan,dishalatkan, dan dikuburkan. Itu hukumnya sebagai fardu kifayah.

Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm menjelaskan;

قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ: حَقٌّ عَلَى النَّاسِ غُسْلُ الْمَيِّتِ، وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ، وَدَفْنُهُ لَا يَسَعُ عَامَّتَهُمْ تَرْكُهُ، وَإِذَا قَامَ بِذَلِكَ مِنْهُمْ مَنْ فِيهِ كِفَايَةٌ لَهُ أَجْزَأَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَهُوَ كَالْجِهَادِ عَلَيْهِمْ حَقٌّ أَنْ لَا يَدَعُوهُ،

Artinya; Ada pun hak seorang mayit pada manusia lain; memandikan si mayit,  menyediakan kain kafan, menshalatinya, dan menguburkannya, sejatinya  kewajiban ini tidak berlaku bagi semua orang.  Apabila sebagian orang melakukannya, maka hal itu sudah  memadai bagi yang lain, dan menggugurkan kewajiban bagi manusia lain.  Demikian itu laksana jihad bagi mereka untuk melaksanakannya.

Merujuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 18 Tahun 2020, menegaskan bahwa menguburkan jenazah akibat Covid-19 adalah fardu kifayah. Untuk proses pemakaman jenazah dikubur sesuai aturan syariah dan protokol medis. Jenazah di masukkan dalam liang lahat beserta dengan petinya, tanpa harus membuka plastik dan kain kafan terlebih dahulu.

Pada sisi lain, Lembaga  Fatwa Universitas Al-Azhar pun menegaskan bahwa menolak jenazah akibat Covid-19 hukumnya haram. Lebih lanjut, menolak menguburkan jenazah tersebut pun merupakan  perbuatan yang tercela, dan jalan tercela. Sebab perbuatan demikian tergolong perbuatan yang tak menghormati si mayit. Padahal perintah agama sejatinya untuk memuliakan manusia.

Lembaga Fatwa Al Azhar mengatakan;

 رفض استلام جثة المتوفى بفيروس كُورونا، أو اعتراض جنازته ومنع دفنه؛ أمر منكر وسلوك محرم مناف لحرمة الموت، ولأوامر الدين بإكرام الإنسان، فضلاً عن أنه لا يليق بأصحاب المُروءة وذوي الفضائل

Artinya; Penolakan terhadap jenazah dengan virus Corona, atau menolak untuk pemakaman dan mencegah penguburannya merupakan perkara jahat (buruk) dan perilaku terlarang bertentangan dengan perintah untuk memuliakan orang meninggal, bertentangan dengan perintah agama untuk menghormati setiap manusia. Selain itu tidak sesuai dengan muraah (derajat) dan tak sesuai dengan pemilik budi luhur.

Fardu Kifayah Jenazah Akibat Wabah

Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff, dalam kitab  at- Taqriratu as Sadidatu fil Masaili al Mufidah,mengatakan bahwa yang tergolong mati syahid akhirat sangat banyak. Antara lain; mati karena kebakaran, meninggal karena wabah, wafat sebab melahirkan, tutup usia sebab tenggelam. Pun jenazah pasien Covid-19 di Indonesia termasuk juga dalam golongan syahid akhirat.

Menurut Habib Syekh Al Kaff mayat syahid akhirat maka kewajiban fardu kifayah yang 4 berlaku padanya. Itu berbeda dengan syahid dunia, yang tak dimandikan dan dishalati. Pendek kata, syahid akhirat wajib kifayah hukumnya memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan. Ini juga berlaku bagi korban Covid-19.

Adapun Ibnu Qudamah Al-Maqdisi  dalam kitab al-Mughni mengatakan bahwa orang yang meninggal akibat wabah tergolong mati syahid akhirat. Untuk jenazah yang mati dalam keadaan syahid akhirat, maka fardu kifayah yang empat tetap dilaksanakan baginya. Itu merupakan suatu kewajiban.

Dalam al Mughni Jilid II, halaman 399;

فأمَّا الشَّهيد بغير قتْل؛ كالمبطون، والمطعون، والغَرِق، وصاحب الهدم، والنُّفَساء، فإنَّهم يُغسَّلون، ويُصلَّى عليهم؛ لا نعلم فيه خلافًا، إلَّا ما يُحكَى عن الحسَن: لا يُصلَّى على النُّفَساء؛ لأنَّها شهيدة

Artinya; adapun orang yang syahid (akhirat) yang terbunuh bukan di Medan peperangan , seperti sakit perut, korban wabah, kebakaran, korban akibat reruntuhan, dan wanita meninggal karena nifas (melahirkan) maka mereka dalam fardu kifayahnya dimandikan, dishalatkan, dan tak ada perbedaan pendapat. Meskipun ada satu kisah yang menceritakan oleh Hasan; orang yang meninggal karena melahirkan (nifas) tak wajib dishalatkan, karena dia syahid.

Kewajiban fardu kifayah yang empat juga diungkapkan oleh Imam Asy Syaukani dalam kitab Nailul Author. Ini berbeda dengan jenazah yang mati syahid dunia, misalnya korban peperangan, maka tak wajib dimandikan dan dishalatkan. Sedangkan jenazah akibat penyakit wabah, misalnya; thaun, dan sekarang Covid-19,tak dapat dipungkiri, maka fardu kifayah yang empat berlaku baginya.

Dalam kitab Nailul Author Jilid IV, halaman 37 Imam Syaukani mengatakan;

وأمَّا سائِرُ مَن يُطلَقُ عليه اسمُ الشَّهيد؛ كالطَّعين، والمبطون، والنُّفَساء، ونحوِهم-فيُغسَّلون إجماعًا

Artinya; ada pun sekalian yang disebut dengan mati syahid (akhirat), seperti orang yang meninggal akibat wabah, sakit perut, dan karena melahirkan (nifas), dan sebagainya, maka mereka wajib di mandikan. Hukum ini menurut Ijma’ ulama.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Abu Zakaria Muhyuddin an-Nawawi dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhadzab. Imam Nawawi mengatakan bahwa orang yang mati syahid akhirat (mati bukan karena berperang melawan orang kafir) maka kewajiban fardu kifayah tetap dilaksanakan bagi mereka.

Dalam dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhadzab.Jilid V, halaman 264.

 (الشُّهداءُ الذين لم يموتوا بسبب حرْب الكفَّار؛ كالمبطون، والمطعون، والغريق، وصاحب الهَدْم، والغريب، والميِّتة في الطَّلق، ومَن قتَلَه مسلمٌ أو ذِمِّيٌّ، أو مات في غير حال القِتال، وشِبهِهم- فهؤلاء يُغسَّلون ويُصلَّى عليهم بلا خلافٍ)

Artinya;orang orang yang mati tidak disebabkan oleh peperangan melawan orang kafir, seperti meninggal karena wabah thaun, tenggelam, korban reruntuhan bangunan, mati karena penyakit ganjil, meninggal karena diasingkan, dan barang siapa yang meningal muslim atau kafir dzimmi, atau mati tidak dalam peperangan, maka mereka itu dimandikan jenazahanya dan di shalatkan.

Demikian penjelasan tentang hukum menolak jenazah Covid-19 menurut hukum Islam. semoga bermanfaat.

(Baca:MUI dan PBNU Imbau Masyarakat Jangan Tolak Jenazah Pengidap Virus Corona)

 

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here