Kasus Menjuluki “Monyet”, Ini Nasihat Islam soal Tatakrama Memberi Julukan

0
785

BincangSyariah.Com – Peringatan HUT RI 17 ke-74 pada bulan lalu menyisakan sedikit noda sebab adanya dugaan diskriminasi dan rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Kota Surabaya yang kemudian menciptakan gejolak berupa ancaman disintegrasi negara di tanah Papua. Semua ini berawal di antaranya karena sekelompok mahasiswa asal Papua diteriaki dengan nama monyet. Lantas bagaimanakah hukumnya menjuluki orang lain dengan julukan monyet dan sebagainya dalam agama Islam?

Islam sebagai agama rasional dan sesuai fitrah manusiawi dalam hal ini bersesuaian dengan budi dan akal sehat manusia. Dalam artian, bila sebuah julukan atau sebutan menyakiti atau merugikan orang lain, maka oleh agama hal itu dilarang. Begitu pula sebaliknya. Bila yang diberi sebutan, julukan atau nama lain itu tidak merasa terganggu, maka agama pun melegalkannya.

Baik nama asli maupun nama panggilan yang ditambahkan orang lain, tidak memiliki hukum yang berdiri sendiri. Semuanya tergantung pada motif pemberi nama. Dalam QS. Al-Hujurat: 11 disebutkan pelarangan memanggil orang lain dengan gelar buruk:

 وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَ لْقَابِ ۖ

“Dan janganlah kalian saling memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.”

Kata at-Tanaabuz, bentuk asal dari kata laa tanaabazuu, dijelaskan oleh Ibn ‘Asyur dalam karya tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir berkonotasi negatif, bukan sekadar panggilan biasa. Justru at-Tanaabuz merupakan panggilan dengan nama yang membuat orang lain merasa risih dan tersakiti. Misalnya, beliau mencontohkan tradisi arab ada julukan alfu an-naaqoh yang bermakna “hidung unta” yang dianggap sebagai sebuah ejekan.

Meskipun begitu, lanjut Ibn ‘Asyur, ada banyak julukan yang mungkin dari segi artinya mengandung celaan, namun karena tidak dimaksudkan demikian dan yang diberi julukan tidak mempermasalahkannya maka hal tersebut diperbolehkan pula secara syariat.

Baca Juga :  Tafsir: Ciri-Ciri Shalat Orang Munafik (1)

Contoh Julukan dalam Lintasan Sejarah Islam: Dari Ayah Kucing sampai Si Keledai

Kita tentu mengenal nama Abu Hurairah. Sahabat yang disebut paling banyak yang meriwayatkan hadis dari Nabi. Tapi tahukah kita bahwa Abu Hurairah bukanlah nama aslinya, melainkan Abdullah bin Sakhr. Ia diberi julukan Abu Hurairah oleh Nabi sendiri karena kedekatan dan kecintaannya dengan makhluk bernama kucing yang sering diletakkannya di dalam lengan baju. Abu Hurairah sendiri bermakna “Ayahnya anak kucing”. Karena julukan itu Nabi sendiri yang memberi dan tidak ada teguran dari Allah, dapat kita simpulkan bahwa julukan itu tidak mengapa.

Ada lagi sahabat Nabi yang dijuluki dzu al-yadayn yang secara harfiah bermakna “pemilik dua tangan panjang”. Sekilas nama itu seperti celaan, apalagi dalam konteks budaya kita  di mana panjang tangan sering diasosiasikan pada orang yang suka mencuri.

Lebih jauh lagi, ada perawi hadis terkemuka di era tabiin yang bernama Abdurrahman bin Hurmuz memiliki julukan al-A’raj (Si Pincang). Begitu juga tabiin lain, Sulaiman bin Mahran dijuluki al-A’mash (yang lemah penglihatannya). Dan sufi benama Hatim al-Ashamm (Si Tuli). Yang disebutkan terakhir memiliki cerita unik dibalik julukan yang disematkan orang-orang padanya.

Diceritakan dalam kitab Tabaqat al-Auliya’. Suatu ketika, seorang perempuan mendatangi Hatim ingin mengkonsultasikan padanya suatu masalah. Di sela-sela pembicaraan, dari arah belakang perempuan tersebut terdengar suara menandakan ia secara tidak disengaja buang angin di depan sufi yang sangat dihormati itu. Alangkah malunya si perempuan. Namun dengan cerdasnya, seketika Hatim berujar, “Keraskan lagi suaramu” seraya berpura-pura tuli. Legalah hati perempuan itu karena mengira sang sufi benar-benar tidak mendengar insiden memalukan barusan. Sejak saat itulah Hatim pun dijuluki al-Ashamm

Selain julukan yang terkesan bernada ejekan akan cacat fisik, dalam sejarah Islam ada pula yang diberi julukan nama hewan. Misalnya Khalifah Marwan bin Muhammad, penutup dari Dinasti Bani Umayyah. Ia diberi julukan di akhir namanya “al-Himar“, karena kesabarannya dalam peperangan dipuji seperti sabarnya seekor keledai memikul tugas dari tuannya.

Baca Juga :  Hukum Kentut di Tempat Umum

Semua Kembali pada Motif dan Etika

Semua julukan di atas kembali lagi pada motif pemberi julukan dan perasaan orang yang dijuluki. Bila tidak ada yang berniat buruk dan merasa terganggu, maka hukumnya tidak ada masalah, meskipun julukan itu terdengar tidak mengenakkan bagi orang luar. Sebaliknya, meskipun julukan yang diberikan seperti bernada pujian, tetapi dimaksudkan mengejek atau yang bersangkutan tidak rela dipanggil demikian, maka hendaknya tidak dilakukan, karena termasuk ghibah secara umum. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

الغيبة ذكرك اخاك بما يكرهه

(Ghibah) adalah ketika engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya. (HR. Muslim)

Alhasil, barang siapa yang hendak memberi seseorang julukan hendaknya memperhatikan betul apakah julukan itu menyakitinya atau tidak. Jangan sampai karena salah menjuluki orang lain, kekerabatan dan tali silaturahim terputus.

Kita bisa belajar dari julukan baik yang ada di masa Nabi Saw sendiri. Misalnya dari julukan pemberian Nabi kepada para sahabatnya, seperti Abu Bakar As-Shiddiq (yang senantiasa jujur), Umar al-Faruq (Sang pembeda kebenaran dari kebatilan), Usman bin ‘Affan Dzu an-Nurayn (Pemilik Dua Cahaya/Menikahi dua Anak Nabi), ‘Imran bin Hushain Syabihul Malaikah (Kembaran Malaikat) dan Khalid bin Walid Saifullah (Pedang Allah).

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here