Hukum Menjual Kembali Makanan Sisa Pembeli, Apakah Boleh?

0
1272

BincangSyariah.Com – Ketika makan di warung makan atau tempat makan tertentu, kita sering menyaksikan di antara pembeli ada yang tidak menghabiskan makanannya. Misalnya, pembeli pesan sate 20 tusuk namun hanya dimakan 10 tusuk, atau pesan satu piring nasi namun hanya dimakan setengahnya. Dalam keadaan demikian, bagaimana hukum pemilik warung menjual kembali makanan sisa pembeli tersebut, apakah boleh?

Dalam Islam, di antara adab ketika makan adalah menghabiskan makanan. Kita dilarang menyisakan dan membuang makanan. Bahkan jika kita selesai makan, kita dianjurkan membersihkan sisa makanan yang ada di tangan kita dengan cara menjilatnya. Ini dimaksudkan agar tidak ada sebutir makanan pun yang terbuang sia-sia.

Oleh karena itu, jika kita makan di warung atau lainnya, maka kita hendaknya menghabiskannya. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Anas bin Malik, dia berkata;

أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاث ، وقال : إذا سقطت لقمة أحدكم فليمط عنها الأذى ، وليأكلها ، ولا يدعها للشيطان . وأمرنا أن نسلت الصحفة ، وقال : إن أحدكم لا يدري في أي طعامه يبًارك له

Sesungguhnya Rasulullah Saw jika selesai makan, maka beliau menjilat jari-jarinya sebanyak tiga kali, dan beliau bersabda; Jika makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh setan. Beliau juga memerintahkan kami untuk membersihkan piring, dan beliau bersabda; Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.

Adapun mengenai menjual sisa makanan pembeli bagi pemilik warung, maka hukumnya diperbolehkan selama makanan tersebut masih bagus dan layak untuk dijual. Hal ini karena sisa makanan tersebut sudah menjadi harta yang ditingalkan oleh pembelinya sehingga boleh bagi pemilik warung untuk mengambilnya dan menjualnya kembali. Namun, apabila makanan tersebut sudah tidak layak, misalnya sudah tercampur kuah atau sudah ada bekas gigitan, maka kita tidak boleh menjualnya kembali, karena ini terkait etika berdagang.

Baca Juga :  Bolehkah Bermurah Hati dalam Jual Beli?

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Tasyri’ Al-Jina-i fi Al-Islam berikut;

اْلأُشْيَاءُ الْمَتْرُوْكَةُ هِىَ اْلأُشْيَاءُ الَّتِىْ كَانَتْ مَمْلُوْكَةً لِلْغَيْرِ ثُمَّ تَخَلَّى عَنْهَا مَالِكُهَا كَالْمَلاَبِسِ الْمُسْتَهْلِكَةِ وَبَقَايَا الطَّعَامِ وَكَنَاسَةِ الْمَنَازِلِ وَحُكْمُ اْلأُشْيَاءِ الْمَتْرُوْكَةِ هُوَ حُكْمُ اْلأَشْيَاءِ الْمُبَاحَةِ ِلأَنَّ اْلأَشْيَاءَ الْمَتْرُوْكَةَ تُصْبِحُ بِتَرْكِهَا لاَ مَالِكَ لَهَا

Barang-barang yang ditinggalkan adalah barang-barang yang dimiliki oleh seseorang kemudian dia meninggalkannya, seperti pakaian-pakaian yang mau rusak, sisa makanan, sapu-sapu rumah. Hukum barang-barang yang dinggalkan tesebut adalah seperti halnya hukum barang-barang yang mubah, karena sesungguhnya barang-barang yang ditinggalkan akan menjadi tidak punya pemilik ketika telah ditinggalkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here