Menjual Ayam Aduan, Apakah Sah?

1
875

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah kesempatan, penulis pernah mendapat pertanyaan dari seseorang yang biasa menjual ayam aduan. Dia bertanya apakah menjual ayam aduan hukumnya sah, dan apakah dia berdosa jika ayam tersebut dijadikan ayam petarung oleh pembeli?

Memelihara dan menjual ayam aduan hukumnya adalah boleh dan sah. Selama syarat-syarat penjualan terpenuhi, maka penjualan ayam aduan dinilai sah, meskipun dengan harga yang lebih tinggi dan lebih mahal dibanding ayam-ayam biasa. (Baca: Bolehkah Membunuh Ayam Tetangga yang Merusak Tanaman?)

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Mughnil Muhtaj berikut;

وَيَصِحُّ بَيْعُ جَارِيَةِ الْغِنَاءِ وَكَبْشِ النِّطَاحِ وَدِيكِ الْهِرَاشِ وَلَوْ زَادَ الثَّمَنُ لِذَلِكَ ) قُصِدَ أَوْ لَا لِأَنَّ الْمَقْصُودَ أَصَالَةُ الْحَيَوَانِ

Sah menjual budak perempuan penyanyi, kambing aduan, dan ayam sabungan meskipun harganya dinaikkan untuk kepentingan tersebut atau tidak karena produk yang dimaksud pada asalnya adalah hewan (bukan hewan aduan dan lainnya).

Meskipun menjual ayam aduan atau ayam sabung dihukumi sah dan boleh, namun jika penjual sudah yakin bahwa pembeli akan menggunakan ayam aduan tersebut untuk tujuan sabung dan bertarung, maka aktifitas menjualnya dihukumi haram.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Asnal Mathalib berikut;

فَلَوْ بَاعَ الْعِنَبَ مِمَّنْ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا بِأَنْ يَعْلَمَ أو يَظُنَّ منه ذلك أو الْأَمْرَدَ من مَعْرُوفٍ بِالْفُجُورِ بِهِ وَنَحْوِ ذلك من كل تَصَرُّفٍ يُفْضِي إلَى مَعْصِيَةٍ كَبَيْعِ الرَّطْبِ مِمَّنْ يَتَّخِذُهُ نَبِيذًا وَبَيْعِ دِيكِ الْهِرَاشِ وَكَبْشِ النِّطَاحِ مِمَّنْ يُعَانِي ذلك حَرُمَ لِأَنَّهُ تَسَبُّبٌ إلَى مَعْصِيَةٍ

Bila seseorang menjual anggur kepada orang yang akan menjadikan anggur itu sebagai khamar, baik dia yakin atau menduga kuat, atau pemuda ganteng yang sudah terkenal berbuat keburuka dan sejenisnya dari segala tasaruf yang dapat mengantarkan pada kemaksiatan, seperti penjualan kurma untuk fermentasi arak dan penjualan ayam serta kambing aduan yang dimaksudkan untuk itu, maka hal itu haram karena menjadi sebab pada perbuatan maksiat.

Baca Juga :  Pemilu 2019 dan Urgensi Literasi Politik Bagi Siswa

Hal ini karena penjual sudah membantu pembeli untuk melakukan kemaksiatan dengan mengadu ayam aduan tersebut. Sementara membantu orang lain berbuat maksiat hukumnya adalah haram. Ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 2 berikut;

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Janganlah kalian saling membantu untuk (perbuatan) dosa dan kezaliman.

1 KOMENTAR

  1. Mohon dibahas hukumnya mengelola uang titipan, misalkan seorang bendahara yg menyimpan uang organisasinya di rek pribadi, apakah bunga atau bagi hasilnya dapat bernilai haram baginya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here