Menjelang Ramadhan 2020, Ini Prediksi Awal Ramadhan Menurut Ilmu Falak

0
2197

BincangSyariah.Com- Menjelang datanya bulan suci Ramadhan, hilal banyak menjadi pembicaraan karena menjadi penentu masuknya bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam ini. Penggunaan hilal sebagai penentu masuknya bulan Ramadhan sendiri merupakan implementasi dari firman Allah SWT yang tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 189 yang berisi jawaban dari pertanyaan kepada Rasulullah mengenai hilal ini.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah itu adalah petunjuk waktu bagi manusia dan (ibadah) haji”

Jalaluddin al-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain menerangkan makna mawaqit ini merupakan waktu-waktu bagi manusia untuk bercocok tanam, iddah perempuan, waktu untuk berpuasa dan waktu untuk berbuka. Oleh karena itu ketika menjelang datangnya bulan suci Ramadhan maupun ketika akan datangnya hari raya idul fitri, hilal selalu menjadi objek yang dicari.

Pencarian hilal untuk penentuan awal bulan ini juga merupakan perintah Rasulullah SAW. Dalam hadisnya Nabi bersabda

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal”. (Baca: Hadis-Hadis Penetapan Awal Ramadan: Melacak Akar Perdebatan)

Dari kata li-rukyatihi sebagai perantara untuk mengetahui hilal ini kemudian timbul perbedaan penafsiran, ada yang memaknai rukyat dengan makna melihat secara fisik dan ada yang memaknai rukyat dengan makna melihat dengan ilmu pengetahuan. Kedua penafsiran ini kemudian memunculkan istilah penentuan awal bulan Kamariah melalui metode hisab dan rukyat.

Salah satu pengamal metode hisab dalam penentuan awal bulan Kamariah ini adalah ormas Muhammadiyah. Dengan konsep hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan, Muhammadiyah telah menetapkan awal bulan Ramadhan tahun 1441 H sejak 25 Februari lalu. Dalam Maklumat yang dikeluarkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020.

Baca Juga :  Benarkah Hubungan Intim pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadan Dilarang?

Penetapan ini berdasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid dengan markaz di Yogyakarta, bahwa ijtima menjelang Ramadhan 1441 H terjadi pada hari Kamis Wage, tanggal 23 April 2020 pukul 09:29:01 WIB. Dengan sudah terjadinya ijtima’ pada pukul tersebut maka ketika Matahari terbenam di Yogyakarta, posisi hilal berada di atas ufuk atau sudah wujud.

Berbeda dengan penentuan awal bulan Kamariah melalui hisab yang sudah bisa ditetapkan jauh-jauh hari, penentuan dengan metode rukyat, sebagaimana yang amalkan oleh Nahdlatul Ulama, harus menunggu hasil dari pelaksanaan rukyat pada tanggal 29 disetiap bulannya. Untuk awal bulan Ramadhan ini, rukyat akan dilaksanakan pada tanggal 29 Sya’ban 1441 H atau pada tanggal 23 April 2020.

Meskipun penetapan awal bulan Ramadhan dengan rukyat ini harus menunggu tanggal 23 April 2020, namun jatuhnya awal Ramadhan ini bisa diprediksi melalui posisi hilal dengan mengacu pada suatu kriteria tertentu. Oleh karena itu, metode rukyat ini tidak bisa dilepaskan dari metode hisab, karena untuk melakukan rukyat harus dihitung terlebih dahulu posisi hilal yang akan di rukyat.

Salah satu kriteria kemungkinan terlihatnya hilal yang berkembang di Indonesia adalah kriteria imkanurrukyat. Kriteria ini merupakan hasil rapat bersama Menteri-menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) yang digunakan untuk acuan dalam membuat penanggalan hijriah untuk keempat negara tersebut.

Menurut kriteria ini, hilal mungkin dilihat ketika pada saat terbenamnya Matahari memiliki tinggi minimal 2 derajat, elongasi minimal 3 derajat dan umur hilal atau jarak antara ijtima dengan terbenamnya Matahari minimal 8 jam.

Jika melihat pada data hisab yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI dalam buku Ephemeris Hisab Rukyat tahun 2020 dan juga Informasi Prakiraan Hilal yang dikeluarkan oleh BMKG, posisi hilal untuk seluruh wilayah Indonesia sudah berada diatas kriteria. Artinya untuk seluruh wilayah Indonesia mempunyai peluang untuk melihat hilal awal Ramadhan 1441 H ini.

Baca Juga :  Menjelang Ramadhan 2020, Ini Doa Agar Dapat Jalani Ibadah Ramadhan dengan Baik

Tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam di masing-masing wilayah berkisar antara 2˚ 41’ 56” sampai 3˚ 45’ 36”, untuk elongasinya berkisar antara 4˚ 12’ sampai 5˚ 6’ 36” dan umur hilalnya berkisar antara 6 jam 6 menit hingga 9 jam 20 menit.

Wilayah Indonesia bagian Timur menjadi daerah yang terlebih dahulu mengalami Matahari terbenam. Oleh karena itu tinggi hilal, elongasi dan umur hilal untuk wilayah Indonesia bagian timur ini lebih rendah daripada wilayah lain. Di daerah Jayapura misalnya, terbenamnya Matahari terjadi pada pukul 17.37 WIT, itu artinya jarak antara ijtima dengan terbenamnya Matahari hanya 6 jam 14 menit.

Sedangkan untuk tinggi hilal dan elongasinya adalah 2˚ 41’ 56” dan 4˚ 16’ 5”. Jika melihat kriteria imkanurrukyat, daerah Jayapura ini sudah memenuhi kriteria untuk tinggi hilal dan elongasi, sedangkan untuk umur hilal belum masuk dalam kriteria.

Ketika daerah bagian timur Indonesia saja sudah memenuhi kriteria tinggi hilal, maka semakin ke barat akan semakin besar kemungkinan terlihatnya hilal. Hal ini terjadi karena waktu terbenamnya Matahari di wilayah bagian barat Indonesia menjadi lebih lambat dibanding daerah yang berada di sebelah timurnya, sehingga jarak antara ijtima dengan terbenamnya Matahari semakin jauh.

Namun bukan berarti daerah paling barat di Indonesia ini menjadi daerah yang memiliki posisi hilal paling tinggi, karena ketinggian hilal ini bukan hanya berdasarkan pada letak wilayah dalam peta datar, melainkan karena beberapa faktor seperti arah lintasan Bulan dan kemiringan sumbu orbit Bumi.

Daerah di Indonesia yang mempunyai ketinggian hilal awal Ramadhan 1441 H paling tinggi adalah Tua Pejat yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Pada saat terbenamnya Matahari di Tua Pejat ini, hilal berada pada ketinggian 3˚45’52”. Untuk elongasinya pada saat Matahari terbenam sebesar 4˚ 56’ 04” dan umur hilalnya 8 jam 55 menit. Baik tinggi hilal, elongasi dan umur hilal dari daerah Tua Pejat ini semuanya telah memenuhi kriteria imkanurrukyat.

Kemungkinan terlihatnya hilal Ramadhan 1441 H ini semakin besar dengan tidak adanya benda langit lain yang berpotensi memunculkan salah identifikasi dari para perukyat. Karena bisa saja benda langit seperti Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang dianggap sebagai hilal karena posisinya yang berdekatan.

Baca Juga :  Tahukah Kamu, Surat al-Falaq dan Surat An-Nas Bisa Jadi Penangkal Sihir? Ini Penjelasannya (1)

Untuk tanggal 23 April 2020 ini, BMKG menyatakan bahwa selama pelaksanaan rukyat tidak ada benda langit lain yang terletak di dekat Matahari selain hilal tersebut. Dengan adanya peluang terlihatnya hilal ini, maka akan membuka kemungkinan bahwa awal Ramadhan 1441 H ini akan berbarengan antara ormas-ormas yang menganut hisab hakiki dengan ormas-ormas yang berpegangan terhadap hasil rukyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here