Menjatuhkan Talak dalam Kondisi Marah, Apakah Talak Dianggap Terjadi?

0
58

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan rumah tangga pertengkaran antara suami-istri merupakan perkara yang kerap terjadi. Suami dan istri seharusnya dapat memecahkan masalah yang terjadi tanpa mementingkan ego masing-masing. Namun, dalam kondisi tertentu, seperti di saat emosi yang memuncak, terkadang membuat suami lepas kendali dan menjatuhkan talak kepada istri. Apakah menjatuhkan talak dalam kondisi marah dianggap terjadi?

Pengertian Talak

Kata talak menurut bahasa Arab berarti ‘melepas ikatan’. Sementara itu, talak menurut istilah syariat itu suatu pernyataan atau perbuatan yang dapat memutus ikatan perkawinan. Hal ini sebagaimana dalam kitab Asna al-Mathalib juz 2 halaman 263 berikut,

الطلاق هو لغة حل القيد وشرعا حل عقد النكاح بلفظ الطلاق ونحوه

Artinya : “Talak secara Bahasa adalah melepas ikatan. Sementara talak secara istilah syar’i adalah melepas ikatan pernikahan dengan lafad talah dan lainnya.”

Talak merupakan perbuatan yang ditujukan kepada suami untuk memutus ikatan perkawinan. Meskipun demikian, hendaknya suami tidak mudah mengucapkan talak, karena talak merupakan perkara halal yang paling dibenci oleh Allah Swt. Ini sebagaimana sabda Nabi dalam kitab Sunan al-Kubra milik Imam Baihaqy, juz 7 halaman 322 berikut,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم : إِنَّهُ لَيْسَ شَىْءٌ مِنَ الْحَلاَلِ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ مِنَ الطَّلاَقِ

Artinya:

Rasulullah saw. bersabda ‘Sesungguhnya tidak ada perkara halal yang paling dibenci oleh Allah melebihi dari talak.’

Talak dalam Kondisi Marah Menurut Ulama Fikih

Mengenai jatuhnya talak dalam kondisi marah, ulama masih berbeda pendapat. Dalam mazhab syafi’i talak dapat terjadi dalam kondisi marah, sekalipun suami mengklaim bahwa dia tak sadar saat menjatuhkan talak. Penjelasan ini terdapat  dalam kitab Fathul Mu’in berikut:

واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان، وإن ادعى زوال شعوره بالغضب

Artinya:

Ulama kalangan Syafi’i sepakat mengenai jatuhnya talak orang yang marah, sekalipun dia mengaku kehilangan perasaannya di saat marah.

Syeh Ibn al-Qayyim dari mazhab Hanbali memiliki pendapat berbeda mengenai suami yang menyatakan talak di saat marah. Beliau memerinci kondisi marah suami menjadi tiga macam:

Pertama, kondisi marah yang tidak sampai mengganggu akal pikiran suami atau tidak sampai kehilangan kesadaran. Dalam kondisi seperti ini, talak yang dijatuhkan suami dapat terjadi.

Kedua, kondisi sangat marah sampai menghilangkan akal sehat suami. Dalam kondisi ini, talak yang diucapkan tidak berarti apa-apa.

Ketiga, kondisi marah tengah-tengah. Maksudnya adalah pada puncak kemarahan, namun tidak sampai ke taraf hilangnya kesadaran. Dalam kondisi seperti ini talak dihukumi tidak terjadi. Keterangan ini dapat diketahui dalam kitab Hasiyah Ibnu Abidin juz 3 halaman 244 berikut,

للحافظ ابن القيم الحنبلي رسالة في طلاق الغضبان قال فيها إنه على ثلاثة أقسام أحدها أن يحصل له مبادي الغضب بحيث لا يتغير عقله ويعلم ما يقول ويقصده وهذا لا إشكال فيه الثاني أن يبلغ النهاية فلا يعلم ما يقول ولا يريده فهذا لا ريب أنه لا ينفذ شيء من أقواله الثالث من توسط بين المرتبتين بحيث لم يصر كالمجنون فهذا محل النظر والأدلة تدل على عدم نفوذ أقواله

Artinya:

Syekh al-hafizh Ibn al-Qayyim al-Hanbali memiliki catatan perihal talak dalam kondisi marah. Beliau mengatakan bahwa kemarahan itu ada tiga macam. Pertama, munculnya awal kemarahan bagi seseorang yang tidak sampai menghilangkan akalnya. Orang tersebut masih mengetahui apa yang dia katakan. Dalam kondisi ini tidak ada persoalan sama sekali.

Kedua, dia sampai pada puncak kemarahannya sampai tidak menyadari apa yang dikatakan dan dikehendaki. Dan dalam konteks ini, tidak ada keraguan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi apa-apa.

Ketiga, orang yang tingkat kemarahannya berada di tengah di antara level yang pertama dan kedua. Dan dalam kondisi ini perlu dilakukan prenungan ulang. Namun, dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi apa-apa.”

Dalam kondisi marah yang tidak sampai mempengaruhi akal sehat suami, mayoritas ulama berpendapat bahwa talak itu bisa tetap terjadi. Ini sebagaimana terdapat dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahab al-Arba’ah  berikut,

اَلثَّالِثُ : أَنْ يَكُونَ الْغَضَبُ وَسَطًا بَيْنَ الْحَالَتَيْنِ بِأَنْ يَشَتَدَّ وَيُخْرِجُ عَنْ عَادَتِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ كَالْمَجْنُونِ الَّذِي لَا يَقْصِدُ مَا يَقُولُ وَلَا يَعْلَمُهُ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْقِسْمَ الثَّالِثَ يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ

 “Kondisi ketiga disaat kemarahan itu berada ditengah-tengah  antara dua kondisi diatas. Dalam hal  ini, suami samapai pada puncak kemarahan diluar kebiasannya, namun, dia tidak sampai seperti orang gila yang tidak menyadari kemana tujuan apa yang diucapkannya dan tidak mengetahuinya. Menurut mayoritas ulama talaknya seseorang pada kondisi ketiga ini jatuh.”

Talak dalam Kondisi Marah Menurut Hukum Negara

Dalam konteks hukum Islam pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan KHI, tata-cara melakukan perceraian dapat dilihat pengaturannya dalam Pasal 129 KHI berbunyi:

Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.”

Menurut pasal tersebut talak yang diakui secara hukum negara adalah talak yang dilakukan atau diucapkan oleh suami di hadapan Pengadilan Agama. Dalam kasus di atas talak diucapkan suami di luar pengadilan agama, sehingga menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia talak tersebut tidak dapat memutus ikatan suami istri.

Untuk kehati-hatian, talak yang terjadi dalam kondisi suami marah, akan tetapi tidak sampai membuat kehilangan kesadarannya itu menurut mayoritas ulama talaknya dianggap terjadi. Akan tetapi dalam hukum Negara Indonesia berpendapat bahwa perceraian baru bisa terjadi apabila suami menjatuhkan talak di depan Pengadilan Agama.

Wallahu a’lam

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here