Menjaga Etika saat “Sahur on The Road”

0
560

BincangSyariah.Com – Sahur on the road (SOTR) atau sahur di jalan telah berlangsung cukup lama. Penulis tidak tau persis kapan tradisi ini mulai dilakukan. Setiap Ramadan, setiap komunitas selalu memanfaatkan momen sahur untuk sahur bersama dan berbagi. Saat ini lebih kita kenal dengan SOTR.

Dalam pandangan Islam, SOTR boleh saja dilakukan. Ini adalah bagian dari muamalat yang pada dasarnya hukumnya boleh selama tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang. Namun demikian, saat melakukan SOTR hendaknya perlu menjaga sikap agar tidak jatuh pada perbuatan terlarang.

Pertama, mematuhi peraturan lalu lintas. Setiap pengendara motor wajib memakai helm, melengkapi surat-surat kendaraan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak menyerobot lampu merah atau melintasi lajur yang dilarang.

Kedua, memperhatikan tempat atau lokasi berkumpul. Ketika berkumpul tidak boleh mengganggu orang lain. Seperti parkir sembarangan, mengganggu kenyamanan orang lain dari menggunakan fasilitas yang kita pakai. Atau mungkin tempat itu dilarang digunakan untuk berkumpul. Jikalau ada imbauan atau larangan dari pemerintah untuk melakukan SOTR maka patuhilah imbauan tersebut. Karena ini bertujuan baik untuk semuanya.

Ketiga, menjaga kerapian dan kebersihan dari setiap tempat yang kita lewati dan singgahin. Kita juga dituntut membuang sampah bekas makanan ke tempat sampah. Di samping itu, tidak boleh melakukan perusakan terhadap fasilitas umum.

Belakangan tindakan vandalisme sering terjadi. Yaitu corat-coret dinding under pass atau tempat-tempat umum. Tindakan ini dilarang karena merusak pemandangan dan mengganggu kenyamanan. Tindakan vandalisme selain menyebabkan kerusakan juga kerugian bagi negara. Karena setiap fasilitas yang dirusak pasti perlu diperbaiki. Biaya perbaikan tersebut tidaklah murah, sehingga mengakibatkan pembuangan anggaran karena ulah sepele, mencoret-coret dinding.

Baca Juga :  Hukum Merusak Kuburan Non-Muslim

Biasanya perbuatan ini dilakukan oleh remaja atau anak-anak, tujuannya untuk menunjukkan eksistensi kelompok. Perlu kita ketahui bahwa untuk menunjukkan eksistensi bukanlah dengan merusak. Eksistensi bisa ditunjukkan dengan tindakan-tindakan positif.

Keempat, ketika konvoi, perlu menjaga sikap, baik kepada warga setempat atau dengan kelompok lain yang juga sedang melakukan SOTR. Biasanya ketika kita SOTR akan berpapasan dengan kelompok lainnya. untuk itu perlu menjaga sikap. Jangan sampai niat SOTR malah saling ejek, provokasi, berantem dan berujung pada tawuran. Perbuatan semacam ini dilarang oleh Allah Swt dan masuk dalam tindak pidana. Pelakunya bisa dikenakan sanksi penjara yang cukup berat.

Kelima, berbagi makan sahur. Ini esensi yang paling puncak dari SOTR, yaitu berbagi. Berbagi kepada mereka anak jalanan, tuna wisma, petugas malam dan lain sebagainya. Tujuan SOTR bukan sekadar untuk bersenang-senang. Berbagi akan melahirkan nilai silaturahmi.

Terakhir, jangan sampai SOTR melalaikan kewajiban salat Subuh. Tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan salat Subuh, termasuk SOTR. Untuk itu, ketika selesai makan bersama, dilanjutkan menuju ke masjid untuk melakukan salat Subuh berjamaah. Baru kemudian masing-masing dapat melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Semoga pesan ini dapat kita jalankan, agar keindahan Ramadan, kerapian kota dan hubungan antarkelompok dapat berjalan dengan harmoni. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here