Menjadi Waliyullah Lewat Menikah

0
1703

BincangSyariah.Com – Seseorang bisa menapaki jejak untuk menjadi waliyullah lewat menikah. Alkisah Nabi Yunus ‘alahimussalam pernah didatangi umatnya. Tiba-tiba, saat di depan pintu rumah, beberapa orang mendengar kalau Nabi Yunus sedang dimarahi istrinya. Mereka lalu bertanya-tanya sampai Nabi Yunus keluar rumah dan menemui mereka. Lalu Nabi Yunus bercerita, « tidak apa-apa. Dahulu, saya pernah berdoa Ya Allah jika aku berdosa, percepatlah balasannya di dunia !. Lalu Allah langsung mengucapkan wahyu-Nya, baiklah kamu akan dihapuskan dosanya di dunia dengan menikahi anak perempuan orang itu. Nabi Yunus pun menikahinya, dan itu yang menjadi istrinya.

Kisah ini dituturkan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin. Dalam bagian yang lain, al-Ghazali menyatakan bahwa ujian para wali adalah kesabaran menghadapi ucapan wanita adalah bagian dari ujian para waliyullah (wa as-shabru ‘ala lisan al-nisa’ mimma yumtanahu bihi al-Awliya’).

Di dalam kitab yang sama, al-Ghazali menceritakan bagaimana dengan menikah itu justru menjadi ladang terbesar ia menjadi ahli ibadah. Ia menceritakan bahwa ada seorang ahli ibadah dahulu selalu bergaul dengan baik terhadap istrinya sampai istri itu wafat. Kemudian, ia ditawari untuk menikah lagi. Namun ia menolak seraya berujar, “sendiri lebih membuat hatiku nyaman dan keinginanku lebih mudah tercapai”. Suatu malam di hari jumat setelah ia wafat,ia bermimpi melihat malaikat-malaikat turun seolah pintu-pintu langit terbuka. Para malaikat turun satu persatu dan yang lain mengikuti. Setiap satu malaikat turun, malaikat itu melihat ahli ibadah itu lalu bilang ke malaikat lain di belakang “ini yang dimaksud buruk itu”. Malaikat kedua, ketiga, dan keempat terus menyebut hal yang sama. Ahli ibadah itu sampai enggan bertanya kenapa mereka berkata demikian.

Baca Juga :  Zuhud, Tafsir Ibriz dan Kyai Bisyri Musthofa

Sampai turun malaikat yang wujudnya seperti anak-anak. Lalu ahli ibadah itu bertanya, “siapa yang mereka tunjuk-tunjuk itu ?” Malaikat itu menjawab, “kamu !” Ahli ibadah itu bingung dan bertanya, “kenapa demikian ?” Lalu malaikat yang berwujud anak-anak itu menjawab, “dulu kami mengangkat amalmu bersama amal-amal orang berjihad di jalan Allah. Setelah hari jumat itu, kami disuruh untuk meletakkan amalmu bersama amal para pendosa. Kami tidak tahu apa yang kamu lakukan sampai jadi demikian”

Mendengar ucapan itu, saat ahli ibadah terbangun ia segera menemui sesama ahli ibadah dan berujar, “nikahkan saya lagi !” Setelah itu ia bahkan punya istri sampai dua atau tiga orang dan tidak pernah bercerai dengan ahli ibadah itu.

Kisah ini dimasukkan kedalam salah satu ulasan manfaat menikah, yaitu mujahadah (melatih sekuat tenaga) jiwa dan riyadhah lewat memimpin keluarga dan menunaikan haknya, sampai bersabar dengan akhlak pasangan hidup. Menurut al-Ghazali, orang ahli ibadah tidak akan teruji sifat-sifatnya yang buruk jika hanya konsentrasi sendirian menjadi ahli ibadah atau sesama sufi yang menjalani hal yang sama. Justru, dengan menikah seseorang sedang melakukan mujahadah jiwa dengan berlatih menunaikan hak keluarga sampai mengajak mereka juga menjadi ahli ibadah. Sikap seperti ini penting, bagi orang yang memang ingin mujahadah lewat membangun keluarga, atau bagi mereka yang masih melakukan ibadah yang zahir saja. Namun, ibadah batin, pikiran, dan hatinya belum berjalan. Maka, mencari nafkah yang halal dan mendidik keluarga itu lebih baik dari ibadah yang memang sudah semestinya seperti shalat.

Di banyak hadis Rasulullah Saw. memang memerintahkan untuk bersabar menghadapi perilaku istri. Seperti dikutip oleh Imam al-Tirmidzi dalam al-Syamail al-Muhammadiyah bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang tidak pernah memukul apapun kecuali dalam peperangan (jihad), termasuk tidak pernah memukul istri dan yang membantunya. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here