Meninggal di Tanah Haram, Apakah Mati Syahid?

0
222

BincangSyariah.Com – Syahid dalam terminologi fuqaha berada pada lingkaran makna yang khusus yaitu syahid dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, istilah syahid atau syuhada hanya ditunjukkan kepada mereka yang gugur ketika berperang dengan kafir harbi (non muslim yang menjajah umat Islam). Dengan kata lain, wafat dalam keadaan jihad. Selain daripada itu, tidak disebut syahid atau syuhada kecuali syahid dalam arti dan konsekuensi berbeda yang dikenal dengan istilah syahid akhirat. [Lihat an-Nawawi : Al Majmu’ Syarh al-Muhadzab]

Letak perbedaan ini dapat dilihat pada cara tajhizul janaiz (perawatan jenazah). Seorang yang syahid dunia akhirat dalam tajhiz-nya hanya dikafani dengan pakaian yang melekat itu kemudian langsung dikuburkan tanpa dimandikan dan disalati sebagaimana orang yang gugur dalam jihad. Sedangkan syahid akhirat dalam tajhiznya masih sama dengan muslim pada umumnya, hanya saja mendapat pahala sebagaimana syuhada dunia akhirat.

Lalu bagaimana dengan orang yang meninggal di tanah Haram, apakah disebut mati syahid?

Pada dasarnya meninggal di tanah haram adalah suatu kehormatan, hanya orang yang beruntung saja yang bisa mendapatkan kesempatan ini. Oleh sebab itulah sahabat Umar memohon dalam do’anya agar diwafatkan di tanah Haram dalam keadaan syahid. Hafsah menceritakan demikian :

قَالَ عمر رضى الله عنه اللهم ارزقتى شَهَادَةً فِي سَبِيلِك وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِك صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Umar berkata “Ya Allah, berikanlah aku anugrah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di tanah Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam. [HR. Bukhari].

Berdasarkan konsep pembagian syahid yang telah dijelaskan di atas dan doa yang disampaikan oleh shahabat Umar, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggal di tanah haram bisa disebut dengan syahid akhirat. Dalam tajhizul janaiz-nya disamakan dengan orang yang meninggal pada umumnya yaitu dimandikan, dikafani dengan tiga lapis, dishalati, dan dikuburkan. Khusus bagi yang dalam keadaan ihram tidak ditaburi wewangian dan kepalanya tidak ditutupi dengan kain. Sebab ada hadits yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, Nabi saw bersabda,

Baca Juga :  Pelaku Dosa Besar dalam Mazhab Teologi Islam

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ، وَلا تَمَسُّوهُ طِيباً، وَلا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ وَلا تُحَنِّطُوهُ، فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مُلَبِّياً

Mandikan dia dengan air dan bidara. Jangan dikasih wewangian, dan jangan ditutupi kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya paa hari kiamat, dalam kondisi membaca talbiyah. [HR. Bukhari], wallahu a’lam bis shawab. 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here