Meninggal di Perantauan, Apa Hukum Memindahkan Jenazah ke Kampung Halaman?

0
2627

BincangSyariah.Com – Ada sebuah peristiwa unik dan cukup menarik untuk kita bahas dan dipecahkan. Ada orang yang berdomisili di Semarang kemudian ia meninggal di Surabaya. Sebelum disalati di Surabaya sebagai tempat meninggalnya ia dibawa langsung ke Semarang (tempat ia berdomisili) atas permintaan keluarganya.

Lantas bagaimana pandangan ulama memindah mayat atau jenazah dari tempat meninggalnya ke tempat domisilinya itu?

Ada perbedaan pendapat antara Imam Baghawi yang mengatakan makruh dan Imam Mutawali yang mengatakan haram. Pendapat keduanya tentu memiliki dasar kuat dan ijtihad yang mendalam.

Dan ini disebutkan dalam kitab Al-Mahali, Hamisyi al-Qolyubi, juz 1, Hlm. 351-352

ويحرم نقل الميت – قبل دفنه من بلد موته (الى بلد أخر) ليدفن فيه (وقيل: يكره إلا أن يكون بقرب مكة أو المدينة أو بيت المقدس) فيختار أن ينقل إليها لفضل الدفن فيها (نص عليه) الشافعي رضي الله عنه ولفظه لاأحبه إلا أن يكون إلى أخره، وقال بالكراهة البغوي وغيره، وبالحرمة المتولي وغيره

“Haram memindahkan mayit sebelum di kubur dari daerah kematiannya ke daerah lain untuk dikuburkan. Ada pendapat yang mengatakan makruh kecuali jika dekat dengan Mekah dan Madinah atau Baitul Maqdis. Maka sebaiknya dipindah ke sana ada keutamaan mengubur di sana (tempat tinggalnya di Mekkah/Madinah/Bayt al-Maqdis-Jerussalem). Hal ini seperti ditegaskan Imam Syafi’i. Namun, Imam Baghawi dan lainnya (yang sependepat dengannya) mengatakan hukumnya makruh. Sementara imam al-Mutawalli dan lainnya lagi mengatakan haram (memindah)”.

Berdasarkan kutipan ini, ada dua pandangan berbeda dari ulama yakni Imam Baghawi yang nashnya sesuai dengan Imam Syafi’i mengatakan makruh. Dan Imam Mutawali yang mengatakan haram. Konon perbedaan seperti ini sudah biasa terjadi di kalangan ulama.

Lantas bagaimana seharusnya menyikapi fenomena seperti peristiwa di atas? Siapakah yang harus diikuti? Maka jawabannya tergantung konteks peristiwanya. Berdasarkan pertimbangan (misalkan), jika mayat itu tetap dikuburkan di tempat meninggalnya berakibat tidak ada yang mengurusi pusaranya, bahkan berpotensi kuburan itu tidak dirawat bahkan tidak mungkin untuk diziarahi oleh sanak familinya karena sangat jauh dari tempat asalnya, maka dianjurkan mengikuti pendapat Imam Baghawi yang mengatakan hanya makruh dipindah sebab hal demikian berkaitan erat dengan maslahah dan mafsadah demi menjaga kemuliaan kuburan.

Namun sebaliknya, jika penguburan di tempat meninggalnya itu tidak ada problem apa-apa seperti yang disebutkan di atas maka sebaiknya dikuburkan di tempat meninggalnya dengan syarat kemuliaan kuburan tetap terjaga. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here