Opini: Menimbang-Nimbang Ceramah Ustaz Abdul Somad

6
754

BincangSyariah.Com – Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam I’lâm al-Muwaqqi‘în ‘an Rabb al-‘Âlamîn (1423, I: 41), syariat Islam dibangun di atas dasar kebijaksanaan dan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Sebab, syariat Islam sepenuhnya adalah keadilan, kasih-sayang, kemaslahatan, dan kebijaksanaan. Sehingga apabila ada satu persoalan yang keluar dari keadilan kepada penindasan, atau dari kasih-sayang kepada kebencian, atau dari kemaslahatan kepada kerusakan, atau dari kebijaksanaan kepada kesembronoan, maka ia bukan syariat Islam meskipun dianggap sebagai bagian syariat Islam.

Dalam hal ceramah, maka setiap ceramah yang meresahkan masyarakat dan mengundang permusuhan di antara sesama anak bangsa bukanlah bagian dari syariat Islam, meskipun disampaikan oles ustaz yang memiliki pengetahuan syariat Islam tingkat tinggi. Sebab, ia telah mengabaikan keadilan, kebijaksanaan, kasih-sayang, dan kemaslahatan yang dihendaki Islam.

Dalam hal ini, beberapa hari lalu sempat viral ceramah ustaz Somad tentang salib, patung, dan jin kafir yang mendiaminya. Sontak pernyataan yang bisa dibilang kontroversial ini mengundang respon beragam, baik dari kalangan Muslim sendiri maupun non Muslim, seperti beberapa kritikan yang bergeliat di media sosial dan bahkan adanya rencana melaporkan sang ustaz ke polisi karena dianggap menghina keyakinan agama tertentu.

Menurut ustaz Somad sendiri, ceramah itu tidak memiliki tendensi untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sebab, ia disampaikan tiga tahun lalu secara tertutup di dalam masjid (cnnindonesia.com, 19/08/2019). Namun demikian, banyak pihak dari kalangan Muslim dan non Muslim menyayangkan ceramah ustaz Somad tersebut. Bahkan menurut Abdul Rohim Ghazali, Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah, ceramah ustaz somad itu merupakan penghinaan simbol agama yang sangat serius (tempo.co, 19/08/2019).

Oleh karena itu, ceramah ustaz Somad ini penting dipertimbangkan dalam kerangka berpikir keislaman ala Ibn Qayyim tadi, yaitu: apakah ceramah ustaz Somad ini mengandung keadilan, atau kebijaksanaan, atau kasih-sayang, atau kemaslahatan? Kalau misalkan ceramah ustaz Somad ini dianggap menghina keyakinan agama tertentu dan menyakiti beberapa perasaan pemeluknya, maka apakah ceramah tersebut masih bisa dianggap mengandung kebijaksanaan, kasih-sayang, dan kemaslahatan?

Baca Juga :  Hukum Thawaf Wada’ bagi Jamaah Umrah

Jika tidak, maka secara sederhana ceramah itu bukan bagian dari syariat Islam, meskipun ia dianggap sebagai bagian dari syariat Islam karena disampaikan oleh seorang ustaz yang pengetahuan keislamannya sudah tidak diragukan lagi. Dengan kata lain, ceramah itu hanyalah pendapat pribadi ustaz Somad yang kebetulan beragama Islam dan tidak terkait sama sekali dengan syariat Islam.

Kesimpulan ini setidaknya dapat perkuat dengan konsep persaudaraan (ukhuwah) dalam Islam. Menurut Yûsuf al-Qaraḍâwî dalam Kaifa Nata‘âmal ma‘a al-Qur’ân al-‘Aẓîm? (1999: 118-119), setidaknya ada tiga jenis persaudaraan yang diatur dalam Islam, yaitu: persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyyah), persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islâmiyyah), dan persaudaraan sebangsa (ukhuwah waṭaniyyah). Persaudaraan ini memiliki tiga unsur yang harus dipenuhi, yaitu: cinta, persamaan, dan saling tolong menolong. Dalam konteks Indonesia, penulis sering mendengar ketiga jenis persaudaraan ini dari tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan demikian, sesama saudara, baik saudara antar manusia, agama (Islam), maupun bangsa harus saling mencintai dan tolong menolong satu sama lain, bukan malah saling benci, menebarkan permusuhan, dan caci-maki. Mengingat persaudaraan dan persamaan manusia ini termasuk salah satu tujuan al-Qur’an (maqâṣid al-qur’ân) yang harus diwujudkan. Hal ini pada gilirannya akan mewujudkan tujuan al-Qur’an lainnya, yaitu perdamaian dunia. Sebab, Islam memang tidak menghendaki peperangan dan pertentangan dalam kehidupan manusia (Kaifa Nata‘âmal ma‘a al-Qur’ân al-‘Aẓîm? hlm. 121).

Dalam perkembangannya, persaudaraan sesama manusia yang ditekankan dalam Islam semakin dikukuhkan oleh kesepakatan (ijmak) internasional tahun 2007. Kesepakatan tersebut melahirkan dokumen Kalimatun Sawâatau A Common Word Between Us and You (ACW) yang ditandatangani oleh 138 ulama dan beberapa tokoh penting Kristen. Salah satu tokoh Muslim yang turut serta menandatangani dokumen ini adalah Sayyid al-Habib ‘Umar bin Hafiz. Hal ini dilakukan karena perdamaian dan keadilan dunia bergantung kepada hubungan baik antara umat Islam dan Kristen.

Baca Juga :  Mengenang Mbah Moen Wafat, Seorang Santri Menulis Syair Mengenang Beliau

Mengingat lebih dari separuh penduduk dunia adalah pemeluk agama Islam dan Kristen. Oleh karena itu, masa depan perdamaian dunia bergantung kepada perdamaian antara umat Islam dan Kristen. Dokumen ACW ini berisi beberapa esensi ajaran agama Islam dan Kristen yang diambil dari al-Qur’an dan Bibel. Dalam hal ini, ada dua esensi ajaran yang sama-sama diajarkan dalam Islam dan Kristen, yaitu cinta Tuhan Yang Esa (love of the One God) dan cinta tetangga (love of the neighbour) (2009: v & 6).

Selain itu, penting mengedepankan cara berpikir wasaiyyah Islam (Islam moderat) ketika membahas masalah orang-orang non Muslim. Menurut Yûsuf al-Qaraḍâwî dalam Kalimât fî al-Wasaṭiyyah al-Islâmiyyah wa Ma‘âlimihâ (2011: 48), salah satu karakteristik wasaiyyah Islam adalah mengakui hak-hak agama minoritas, baik Yahudi, Kristen, Majusi, maupun agama lain seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Baha’i dan lainnya.

Dalam konteks negara Islam, para ulama fikih sepakat bahwa orang-orang non-Muslim adalah bagian dari warga negara Islam. Sehingga dalam konteks kontemporer mereka dikenal dengan istilah muwâṭinûn (warga negara). Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh ikut campur dalam urusan individu dan keagamaan mereka, baik menyangkut akidah maupun ibadah. Umat Islam dilarang memaksa non Muslim untuk mengikuti dan melaksanakan syiar-syiar keislaman. Sebab, dalam kehidupan bernegara mereka berdiri sejajar dengan masyarakat Muslim. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat Muslim pada umumnya.

Dalam konteks ini, apabila keyakinan dan syiar Islam harus dihormati, maka begitu juga dengan keyakinan dan syiar agama-agama lain. Kalau non-Muslim dilarang menghina Islam dan ajaran-ajarannya, maka umat Islam juga dilarang menghina agama lain dan ajaran-ajarannya. Bahkan umat Islam tidak boleh mengekang kebebasan non Muslim untuk menjalankan ajaran-ajarannya. Meskipun ajaran-ajaran tersebut dilarang (haram) dalam Islam, seperti memakan babi dan meminum khamer (Kalimât fî al-Wasaṭiyyah al-Islâmiyyah, h. 48).

Baca Juga :  Ramadan dan Perempuan Jawa: Sebuah Pandangan dari Luar

Adapun dalam hal menghina sesembahan sejatinya Allah melarang umat Islam menghina sesembahan orang-orang non Muslim. Hal ini dipahami dari surat al-An‘âm (6): 108. Menurut Ibn Kaśîr dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Aẓîm (2000: 711), umat Islam tidak boleh menghina sesembahan mereka untuk menghindarkan kemudaratan yang lebih besar. Dengan kata lain, meskipun menghina sesembahan non Muslim dianggap mendatangkan manfaat, tetapi ia tetap tidak boleh dilakukan karena akan mengundang atau mendatangkan kemudaratan yang lebih besar.

Pendapat ini sejalan dengan kaidah fikih, daf‘u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalb al-maṣâli(mencegah kemudaratan lebih didahulukan daripada mendatangkan kemanfaatan). Dengan kata lain, meskipun menghina sesembahan non Muslim dianggap mendatangkan manfaat dalam wilayah dakwah, tetapi di sisi lain ia akan menimbulkan gesekan bahkan pertengkaran yang berujung kepada permusuhan dan pertikaian dalam kehidupan sosial yang berbeda secara suku, budaya, dan agama.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. menekankan akhlak yang baik dalam menjalani kehidupan bermasyarakat (wa khâliq an-nâs bi khuluqin asanin). Salah satu bentuk akhlak yang baik dalam bermasyarakat adalah tidak mengejek dan menghina keyakinan orang lain. Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Akam…



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

6 KOMENTAR

  1. Menurut saya, hal ini tidaklah mesti dibahas, karena hal ini sifatnya intern umat islam yang bahkan sering kita utarakan dalam kehidupan kita berdiskusi dan lain sebagianya. Lihat konteksnya dulu baru kita menelaahnya, jangan sampai terjebak kepada teman makan teman.

  2. Gak ada yang salah dengan ceramah beliau, karna beliau ceramah dimasjid,
    Lagian siapa suruh beda keyakinan ngurusin agama lain, lakum dinukum waliyadin

  3. Jika yg disampaikan sesuai apa yg tertera dalam Al Qur an dan hadist pasti tidak ada yg salah. Namun jika berdakwah hanya menuruti kehendak nafsu pribadi & kebencian dengan menyerempet agama lain sudah pasti itu menista

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here