Menikah dengan Jin, Bagaimanakah Hukumnya?

0
6751

BincangSyariah.Com – Kerap kita mendengar terjalin hubungan manusia dengan makhluk gaib, misalnya kabar menikah dengan jin. Dari pernikahan tersebut, bahkan hubungan pernikahan dan menghasilkan keturunan. Entah mau dianggap sebuah fiktif atau kenyataan hal ini pernah menjadi perdebatan para ulama.

Dalam literatur klasik (fiqh), hukum perkawinan antara manusia dengan jin masih menjadi perdebatan antar ulama. Akan tetapi, perdebatan ini hanya berkisar seputar masalah apakah syarat keabsahan nikah adalah harus sesama jenis dalam arti di sini harus sesama manusia. Menurut mayoritas ulama termasuk di antaranya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi pernikahan manusia dengan jin hukumnya haram dan tidak sah karena berbeda jenis makhluk. Dalam Kitabnya Al-Asybah wa Al-Nadzair beliau mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal:

Pertama, firman Allah berupa:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا

“Allâh menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu”. (An-Nahl: 72)

Dan:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rûm: 21)

Dalam dua ayat ini Allâh telah menjadikan pasangan manusia dari bangsa manusia sendiri agar manusia bisa sempurna merasakan kedamaian bersama pasangannya. Apabila pasangan bukan dari bangsa sendiri, niscaya kedamaian itu tidak akan dirasakan manusia. Dalam dua ayat di atas juga jelas menggunakan redaksi “min anfusikum” yang berarti dari diri kalian sendiri. Maka dipaham bahwa pasangan suami-isteri itu haruslah dari sesama jenis manusia.

Kedua, sebuah hadits Rasûlullâh Saw yang melarang nikah dengan bangsa jin:

Baca Juga :  Hukum Membunuh Jin dalam Islam

نَهَى رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِكَاحِ الجِنِّ

“Rasûlullâh Saw melarang menikahi jin”

Hadis ini—menurut Al-Suyuthi—meski berupa hadis mursal namun ia dikuatkan oleh banyaki pendapat ulama. Diriwayatkan bahwa Imam Hasan Al-Bashri, Imam Qatadah, Hakam bin Uyainah, Uqbah Al-Asham, dan Imam Jamaluddin Al-Sajastani dari kalangan Hanafiah melarang menikahi jin.

Ketiga, seperti disinggung di atas bahwa pernikahan disyariatkan supaya memupuk rasa kasih sayang, kedamaian, dan kebahagiaan bersama pasangannya. Sedangkan karakter jin tidak demikian, bahkan sebaliknya yakni berkarakter permusuhan.

Keempat, bahwa tidak ada legalitas yang jelas dari syariat tentang kebolehan menikahi jin. Allah berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“Nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi.” (Al-Nisa: 3)

Redaksi “nisaa” adalah sebuah kata yang terkhusus untuk wanita dari kaum manusia.

Kelima, terdapat sebuah larangan seorang laki-laki yang merdeka menikahi perempuan budak. Hal ini disebabkan akan menimbulkan dampak negatif (dharar) terhadap si anak yakni status si anak nanti juga akabn menjadi budak mengikuti status ibunya. Dampak negatif di sini muncul padahal pernikahan dilakukan oleh sesama manusia, maka bagaimana jadinya nanti jika pernikahan dilakukan lintas alam? Tentu hal ini lebih akan mendatangkan dampak buruk terhadap keturunannya.

Sedangkan menurut al Qomûly, pernikahan manusia dengan jin hukumnya sah namun makruh, dan qaul inilah yang dinilai mu’tamad oleh Ar-Ramly. Versi ini mengatakan bahwa pernikahan lintas alam juga menjanjikan kedamaian kendati tidak optimal, dan larangan dalam hadits tersebut bukan bermakna haram melainkan sekedar makruh. Versi ini juga diperkuat dengan fakta bahwa bangsa jin juga terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan layaknya bangsa manusia, bahkan jin juga disebut oleh Nabi sebagai “ikhwânunâ”. Dan juga diperkuat lagi oleh sejarah perkawinan nabi Sulaimân dengan Bilqis yang merupakan anak dari pasangan jin dan manusia. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here