Mengulas Pendapat Sahabat Mengenai Larangan Musyawarah dengan Wanita

0
952

BincangSyariah.Com – Islam mengajarkan umatnya untuk bermusyawarah ketika akan mengambil keputusan atau meyelesaikan masalah. Ayat yang memerintahkan musyawah disampaikan dalam Al-Qur’an,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran [03]: 159)

Nabi juga menganjurkan bermusyawarah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qadla’i dalam Musnad asy-Syihab, “Tidaklah kecewa orang yang istikharah, tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah, dan tidaklah menjadi miskin orang yang hemat.” Ali bin Abi Thalib juga menegaskan, “Musyawarah akan melindungi dari penyesalah dan selamat dari celaan”.

Akan tetapi Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pada Kitab Adabun Nikah, saat menjelaskan adab mu’asyarah (bergaul) dengan istri menyampaikan beberapa hadis dan atsar yang seolah-olah tidak berpihak pada perempuan. Berikut kutipan Imam Ghazali:

Al-Hasan berkata, “Tidaklah seorang suami patuh pada istrinya terhadap apa yang dia senangi kecali Allah akan menelungkupkannya dalam neraka.”

Umar bin Khattab berkata, “Selisihilah wanita, karena menyelisihi wanita itu berkah.” Dikatakan pula, “Bermusyawarahlah dengan wanita, dan selisihilah mereka.

Dalam Al-Maqashid Al-Hasanah, Abdurrahman as-Sakhawi mengutip hadis dlaif (lemah) yang diriwayatkan oleh Anas dan dimarfu’kan pada Nabi Muhammad SAW. disebutkan, “Sungguh janganlah kalian melakukan sesuatu sehingga bermusyawarah. Jika tidak mendapati orang yang diajak musyawarah, bermusyawarahlah dengan wanita, kemudian selisihilah mereka. Sesungguhnya menyelisisihi wanita itu berkah.

Beberapa hadis di atas menggambarkan bahwa laki-laki tidak boleh mengikuti pendapat wanita, malah menganjurkan berbeda pendapat dengan mereka, karena berlawanan dengan wanita akan membawa keberkahan. Dengan kata lain, pendapat wanita tidak perlu diikuti karena tidak banyak mengandung kemaslahatan.

Baca Juga :  Cara Bertaubat Karena Berselingkuh dengan Perempuan Bersuami

Penjelasan di atas memunculkan pertanyaan, apakah larangan tersebut berlaku secara umum atau khusus? Tentunya larangan tersebut tidak berlaku umum, hanya wanita tertentu saja yang tidak boleh diikuti pendapatnya, yaitu wanita yang pendapatnya hanya berdasarkan kesenangan nafsu.

Alasannya karena al-Qur’an tidak melarang bermusyawarah dengan wanita, bahkan dalam masalah menyapih anak yang belum genap berusia dua tahun, suami istri diharuskan bermusyawarah. Allah berfirman:

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا

“…apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya…”

Penjelasan ayat di atas menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya adalah, ketika kedua orang tua telah bermusyawarah untuk menyapih anak yang belum genap berusia dua tahun, kemudian sepakat akan hal tersebut dan dipastikan tidak akan berdampak buruk, maka diperbolehkan menyapih. Keputusan itu harus diambil bersama dan tidak boleh hanya dari satu pihak saja dengan tanpa bermusyawarah.

Al-Qur’an juga mengisahkan bagaimana putri Nabi Syu’aib turut memberikan pendapat tentang kelayakan Nabi Musa untuk dijadikan pekerja dalam keluarga mereka, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Q.S. Al-Qashash [28] : 26)

Dalam sejarah Nabi juga terdapat kisah yang menunjukkkan bahwa beliau bermusyawarah dengan wanita:

Diceritakan Imam Bukhari dalam kitabnya al-Jami’ as-Shahih, ketika pertama kali mendapat wahyu, Nabi pulang dari Gua Hira dalam keadaan bergetar hatinya. Sesampainya di rumah, Nabi berkata pada istrinya Hadijah, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” Seketika Hadijah menyelimuti Nabi sambil menenangkannya sehingga menjadi reda. Nabi pun menceritakan semua yang dialami dan berkata, “Wahai Khadijah, sesungguhnya aku khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan diriku”. Khadijah berkata, “Janganlah engkau hawatir, berbahagialah. Demi Alllah, sesungguhnya Allah sangat menyayangimu dan pasti tidak akan menyia-nyiakanmu. Engkau akan menyambung silaturrahmi, menanggung beban orang lain, memberi orang yang tidak memiliki, memberi hidangan pada tamu dan memberi pertolongan atas bencana yang terjadi” Kemudian Hadijah pergi bersama Nabi ke rumah Waraqah bin Naufal.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Soal Pembelaan terhadap Ideologi Negara

Menurut Ibnu hajar dalam Fathul Bari, kisah di atas mengandung banyak pelajaran, di antaranya, sunah menghibur orang lain yang sedang mengalami sesuatu yang menakutkan, dengan mengatakan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu yang mudah dan tidak berat. Juga mengajarkan, bagi orang yang sedang tertimpa sesuatu diperbolehkan menceritakan kepada orang lain yang bisa memberikan nasehat dan pendapat yang baik. (Baca: Tiga Macam Orang dalam Bermusyawarah)

Cerita lain juga dikisahkan Imam Bukhari, ketika umrah di tahun Perjanjian Hudaibiyah, setelah selesai dari perjanjian itu, Nabi memerintahkan para sahabat untuk memotong hewan kurban dan mencukur rambut, akan tetapi tidak satu pun sahabat yang melakukan, bahkan perintah itu sampai diulangi tiga kali. Nabi kemudian masuk menemui istrinya, Ummu Salamah dan mengadu.

Ummu Salamah lalu memberi nasehat pada Nabi, “Wahai Nabi Allah, Apakah engkau ingin mereka mengikutimu, sekarang keluarlah, jangan bicara dengan satu pun dari mereka sebelum engkau menyembelih untamu dan memanggil tukang cukurmu untuk segera mencukur”. Nasehat Ummu Salamah itu segera dilaksanakan, dan ketika para sahabat melihat apa yang dilakukan Nabi, mereka langsung mengikutinya, segera menyembelih kurban dan bercukur.

Uraian di atas menunjukkan, Al-Qur’an dan sunah tidak melarang bermusyawarah dengan seorang wanita salihah, yang memiliki pendapat yang maslahat, baik dalam urusan pribadi, keluarga, bahkan urusan umat. Laki-laki juga boleh mendengarkan pendapat wanita dan melaksanakannya, apalagi untuk urusan-urusan tertentu yang hanya dimengerti oleh wanita.

Jadi jelas bahwa hadis dan atsar (pendapat sahabat) yang memerintahkan berselisih dengan wanita dan tidak boleh mengikuti pendapat mereka, tidak berlaku secara umum dan tidak bermaksud untuk mengabaikan kaum wanita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here