Mengukuhkan Tauhid Seorang Mukmin: Bahasan Tafsir Surah al-Ikhlas

0
2410

BincangSyariah.Com – Ajaran yang terkandung dalam surah al-Ikhlas – seperti yang sering disebut dalam hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hanbal, Abu Dawud, an-Nasa’i, at-Tirmidhi dan Ibnu Majah – meliputi sepertiga ajaran al-Quran. Karena itu, dalam hadis-hadis tersebut dikatakan bahwa membaca surah al-Ikhlas sama seperti membaca sepertiga al-Quran.

Dengan kata-kata lain jika ditilik secara doktrin, sepertiga kandungan al-Quran yang semuanya berisi ajaran tauhid teringkas secara padat dan mengena dalam surah al-Ikhlas, sebuah surah yang mengajarkan keesaan Allah SWT.

Surah al-Ikhlas ini seperti yang dikemukakan para ahli tafsir klasik diturunkan di masa-masa awal dakwah Nabi di Mekkah. Muhammad Asad dalam the Message of the Qur’an menerjemahkan nama surah al-Ikhlas sebagai the declaration of God’s perfection (Deklarasi mengenai keesaan Allah).

Ayat pertama dalam surah ini mengatakan: Qul Huwa Allah Ahad (Katakanlah olehmu wahai Muhammad bahwa Allah itu Maha Esa). Ayat ini menunjukkan bahwa fondasi dasar keyakinan dalam Islam dibangun di atas prinsip tauhid, prinsip yang menekankan keesaan Allah SWT. Agama-agama pagan yang dilawan oleh al-Quran dibangun di atas prinsip syirik, yakni pandangan yang meyakini akan adanya perantara yang menghubungkan antara Allah dan manusia atau paham yang meyakini adanya pluralitas tuhan.

Perantara tersebut bisa dalam bentuk materi seperti berhala-berhala yang dijadikan sesembahan dalam agama-agama pagan dan bisa juga dalam bentuk immateri seperti akal-akal dan ruh-ruh langit yang dijadikan tumpuan dan harapan dalam aliran kepercayaan filosofis dan gnostik yang irasional.

Agama-agama samawi seperti Yahudi, Kristen dan Islam merupakan agama-agama yang didasarkan kepada prinsip tauhid namun dengan sedikit perbedaan, yakni bahwa al-Quran memandang Yahudi dan Kristen telah melenceng dari ajaran tauhid yang sebenarnya dan mulai ada kecenderungan ke arah syirik. Syirik yang mereka lakukan sebenarnya dikategorikan sebagai syirik bid’ah karena syirik itu muncul setelah mereka bertauhid.

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Rum saat Membuat Kue

Dalam QS. At-Taubah: 30-31, Allah SWT berfirman yang kira-kira terjemahan Indonesianya demikain:

“Orang-orang Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah putera Allah sedangkan orang-orang Kristen berkeyakinan bahwa Yesus Kristus adalah putera Allah. Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Keyakinan mereka mirip dengan keyakinan orang-orang kafir sebelumnya. Allah sungguh murka atas apa yang mereka ada adakan. Mereka bahkan menjadikan para pendeta, para tokoh agama dan Yesus Kristus sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ada tuhan selain-Nya. Maha suci Allah atas apa yang mereka sekutukan.”

Ayat ini menjadi penegas bagi surah al-Ikhlas bahwa Islam sangat menekankan doktrin tauhid: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Dalam kalimat tidak ada tuhan selain Allah terkandung dua prinsip tauhid, yakni negasi dan afirmasi. al-Quran menegasikan semua jenis  tuhan  dan mengafirmasi hanya satu Tuhan yang layak disembah: Allah SWT.

Tidak hanya itu,  kesaksian ini juga menolak segala bentuk pengatribusian sifat-sifat ketuhanan kepada selain Allah. Segala macam bentuk glorifikasi dan pengkultusan atas individu ditolak mentah-mentah oleh al-Quran termasuk pengatribusian Ezra atau Uzair dan Yesus sebagai putera Allah. Kendati yang dimaksud ‘putera Allah’ oleh sebagian kalangan Yahudi (dan itu minoritas) dan terutama Kristen di sini bukanlah putera biologis tapi lebih diartikan sebagai metafora dari firman Allah, al-Quran tetap menolak prinsip ini. Hal demikian karena sama saja dengan mengatribusikan sifat-sifat ketuhanan, terutama sifat kalam-Nya, kepada selain Allah. Inilah yang dimaksud redaksi ayat lam yalid walam yulad (tidak memperanakkan dan tidak diperanakkan).

Ayat ini tidak hanya menegasikan segala macam peranakkan. Seperti misalnya teologi trinitas dalam Kristen yang mengajarkan bahwa Allah itu Bapa, Putera dan Roh Kudus. Masing-masing hipostasis ini merupakan metafor dari sifat wujud, kalam dan hayat. Dan kalam/putera, kata teolog Kristen seperti yang disebut at-Tabari dalam Jami’ al-Bayan dilahirkan dari wujud/Bapa. Keyakinan yang sangat neoplatonis ini ditolak oleh al-Quran dengan sebutan lam yalid wa lam yulad.

Baca Juga :  Orang Bisu Masuk Islam, Apakah Wajib Mengikrarkan Dua Syahadat dengan Lisan?

Syahadat tauhid ini juga mempertegas bahwa Nabi Muhammad SAW hanyalah rasulnya. Posisi Nabi Muhammad SAW sama seperti manusia pada umumnya. Perbedaan Nabi dengan manusia lainnya hanya soal turunnya wahyu kepada beliau, wahyu yang berisi tauhid dan tidak lebih dari itu. Karena itu, nabi berkali-kali marah ketika melihat ada usaha-usaha glorifikasi dan kultusisasi pribadinya oleh sebagian umatnya. Bahkan sampai-sampai beliau tidak ingin disebut sayyid yang dalam bahasa Inggris terjemahannya ialah lord.

Bukan sekedar persoalan beliau rendah hati seperti yang dipahami oleh sebagian ulama, tapi  lebih kepada ingin mengikis habis sikap mudah mengglorifikasi dan mengkultusakn tokoh-tokoh agama yang sudah jamak di abad pertengahan ataupun di abad-abad sebelumnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW tidak ingin kesalahan yang dilakukan oleh umat pengikut ajaran para nabi terdahulu terulang dan terjadi juga pada umatnya. Nabi tidak ingin seperti nasib Yesus Kristus dan Uzair yang diposisikan oleh para pengikutnya sebagai putera Allah.

Meski Yahudi dan Kristen masih dianggap sebagai agama tauhid, al-Quran tetap mengkritisi sebagian di kalangan mereka yang memiliki kecenderungan ke arah syirik. Tentu kritik terhadap Yahudi dan Kristen dengan sendirinya sebenarnya kritik terhadap umat Islam sendiri yang melakukan tindakan serupa. Misalnya di kalangan muslim, kita sering mendengar syair-syair Ibad Allah, Ibada Allah, aghisuna, a’inunan (wahai para wali Allah, tolonglah kami, bantulah kami karena Allah). Redaksi seperti ini mengandung unsur syirik dan hal demikian sering kita temukan dalam tradisi manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, terutama ketika kita membaca isinya, akan ditemukan di situ banyak sekali unsur-unsur ke arah glorifikasi dan kultusasi terhadap tokoh wali. Ini jelas bertentangan dengan prinsip ‘wa lam yakun lahu kufuwan ahad’.

Baca Juga :  Saat Tarawih, Imam Suka Membaca Surah al-Ikhlas di Rakaat Kedua, Ini Penjelasannya

Surah al-Ikhlas ini sebenarnya menekankan bahwa al-Quran sangat menolak syirik dan semua yang mengarah ke arah syirik. al-Quran menolak syirik yang didasarkan atas keyakinan mengenai pluralitas Tuhan dan menolak syirik yang berdasarkan kepada keyakinan mengenai adanya perantara-perantara yang menghubungkan antara Allah dan manusia.

Hanya Allah lah yang as-shomad yang diterjemahkan Asad sebagai the Uncaused Cause of All Being (Yang Maha Berdiri Sendiri). Dengan sendirinya, semua makhluknya bertumpu kepada-Nya dan tak perlu ada perantara kecuali perantara wahyu atau kenabian. Dalam bahasa Ibnu Sina, Tuhan itu Wajib al-Wujud. Sedangkan ayat terakhir, al-Quran menolak segala bentuk pengatribusian sifat-sifat ketuhanan kepada selain Allah SWT. Inilah prinsip tauhid al-Quran.

Sebut saja surah al-Ikhlas ini mengajarkan kepada kita tentang arti penting monoteisme radikal. Yahudi dan Kristen meski mengklaim sebagai agama monoteis namun ajaran-ajarannya masih mengandung unsur syirik dan karena itu monoteismenya kurang radikal. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here