Mengubah Cara Kita Memandang Atribut Keagamaan

0
388

BincangSyariah.Com – Aksi teror yang baru-baru ini terjadi baik di Surabaya atau Riau serta diikuti dengan beragam penangkapan terduga teroris di berbagai daerah di Indonesia, serta mencuatnya kembali paham radikalisme masuk ke dalam areal kampus setelah penemuan rakitan dua bom di area kampus Universitas Riau beberapa waktu lalu, hal ini menjadi warna tersendiri dari perjalanan aksi terorisme yang terjadi di tanah air.

Yang menjadi pertanyaannya adalah, apa ada terorisme? Pertanyaan ini menarik ketika di dunia juga terjadi teror di mana-mana dan pelakunya sering dikonotasikan, disinyalir, dan faktanya beragama Islam.

Maka kaitan terorisme dengan agama Islam hari ini opininya adalah sangat berkaitan, karena dari beberapa kejadian aksi teror, terduga dari aksi teror tersebut membawa ataupun menggunakan atribut-atribut suatu agama. Hari ini jelas bahwa atribut suatu agama yang melekat  pada terduga teroris adalah agama Islam, maka timbullah opini pada masyarakat kita maupun pandangan dunia secara global memiliki pandangan yang serupa dengan hal tersebut, cepat menyimpulkan aksi tersebut di tengarai kelompok keagamaan.

Penulis pun tidak benar-benar yakin bahwa masyarakat kita juga memiliki pandangan yang sama dengan negara-negara Eropa dan Amerika bahwa setiap kali aksi teror terjadi cepat memvonis dilatarbelakangi oleh kelompok-kelompok suatu agama yakni agama Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin kita sebagai negara yang penduduknya sebagai pemeluk agama Islam terbesar di dunia memiliki pandangan bahwa Islamlah yang melatarbelakangi setiap kali terjadi aksi teror di mana-mana.

Setelah kejadian aksi teror di Surabaya beberapa waktu lalu dengan beragam informasi yang didapat serta melihat aksi tersebut dari rekaman CCTV sebelum meledaknya bom di berbagai tempat Surabaya menunjukkan bahwa adanya simbol-simbol keagamaan yang dipakai oleh terduga teroris, maka opini yang muncul adalah adanya traumatic masyarakat kita terhadap atribut-atribut keagamaan terlebih agama Islam.

Baca Juga :  Mengkritisi Perumusan Teori Kekhilafahan Imam Al-Mawardi

Hal ini didukung dengan banyaknya  simpati dari sebagian masyarakat kita berupa  kampanye sosial atau social campaign yang membawa atribut keagamaan, penulis banyak mendapatkan kiriman video dari beberapa grup Whatsapp serta beberapa postingan dari sebagian masyarakat kita terlebih anak-anak muda kita yang menunjukkan sikap simpatinya terhadap kejadian aksi teror tersebut.

Banyak beredar video-video yang berisikan orang-orang yang sedang berpakaian atau menggunakan atribut agama Islam seperti cadar, pakaian gamis besar bagi perempuan dan bagi laki-laki menggunakan pakaian koko dengan sorban di dalam video tersebut mereka sedang berdiri di depan pertokoan, di pinggir jalan dengan memegang sehelai kertas yang bertuliskan “jika kamu merasa aman maka peluklah saya”, hal ini dilakukan sebagai bentuk kampanye sosial untuk menghilangkan traumatik serta ketakutan tersendiri dari masyarakat kita dalam melihat dan saat berada di dekat orang yang sedang menggunakan atribut-atribut keagamaan tersebut, setidaknya dapat menekan angka sikap intimidatif yang mereka dapatkan ketika sedang berada di ruang publik.

Penulis juga pernah mendapatkan video yang berisikan dan memperlihatkan sikap intimidatif yang mereka dapatkan ketika sedang berada di ruang publik, yaitu video tersebut berisikan seorang perempuan yang berpakaian gamis besar lengkap dengan cadar diturunkan secara paksa, benar tidaknya berita serta isi video tersebut itu kembali kepada kita masing-masing bagaimana untuk menyikapinya.

Bahwa mereka hadir di tengah-tengah kita sama sekali tidak pernah mengganggu terlebih bukan sebagai penyebar dari teror ataupun ketidaknyamanan di ruang publik, malah mereka datang membawa kebaikan dan keberkahan di tengah-tengah masyarakat yang penulis amati dari beberapa video tersebut banyak dari masyarakat kita menarik simpati terhadap kampanye-kampanye yang dilakukan sebagian orang- yang menggunakan atribut keagamaan tersebut dengan memperlihatkan banyak masyarakat kita yang memeluk saudara-saudaranya dan menangis haru saat memeluk saudaranya itu, karena memang  sejatinya mereka merasa aman di dekat mereka.

Baca Juga :  Membaca Narasi Terorisme (2)

Opini-opini yang berkembang hari ini, pandangan-pandangan yang intimidatif dan cepat memvonis, bahwa orang yang menggunakan cadar, gamis besar, jenggot panjang dan orang menggunakan sorban adalah teroris. Maka pandangan-pandangan dan opini-opini seperti itu haruslah dibuang jauh-jauh karena pada sejatinya tidak ada satu agama pun di dunia ini menyerukan untuk saling menebar teror dan kekejian, tak terkecuali agama islam.

Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kerusakan, kerusuhan, menghadirkan ketakutan dan perbuatan yang serupa, apalagi sampai melakukan aksi teror dengan meledakkan bom yang dapat berakibat menghilangkan banyak nyawa orang yang tidak bersalah, karena sejatinya Islam merupakan agama rahmatan lil alamin agama yang membawa keberkahan serta kedamaian bagi sekalian alam semesta.

Semoga dengan apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita dengan melakukan beberapa kampanye sosial yang berkaitan dengan hal itu cukup mengedukasi masyarakat kita menghilangkan rasa traumatik kita terhadap orang-orang yang berpakaian atau menggunakan atribut-atribut keagamaan dan tidak lagi bersikap intimidatif terhadapnya di dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya penulis tidak benar-benar yakin bahwa masyarakat kita memiliki rasa traumatic terhadap orang-orang yang menggunakan atribut keagamaan seperti itu.

Karena sama halnya dengan apa yang diuraikan penulis di atas bagaimana mungkin masyarakat kita memiliki rasa kekhawatiran, ketakutan, traumatic berlebihan terhadap orang-orang yang menggunakan atribut keagamaan yakni agama Islam, sedangkan Indonesia merupakan agama yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Saya kira demikianlah sedikit banyaknya pandangan dari masyarakat kita melihat aksi teror yang terjadi belakangan baik mengkorelasikan siapa dalang di balik aksi teror tersebut dan beberapa aksi-aksi kampanye sosial itu dapat sedikit banyaknya untuk mengubah cara pandang, cara pikir, cara tindak dari masyarakat kita bagi orang-orang yang menggunakan atribut keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.