Menguatkan Solidaritas Dunia Menghadapi Covid-19

0
194

BincangSyariah.Com – Pandemi Covid-19 kian menggelisahkan. Berawal sebagai masalah kesehatan, kini menjelma raksasa masalah sosial. Yuval Noah Harari, sejarawan dan penulis buku best seller Sapiens dan Homo Deus turut angkat bicara. Ia menulis dua opini berjudul In the Battle Against Coronavirus, Humanity Lacks Leadership di majalah Time pada 15 Maret 2020 dan The World After Coronavirus pada 20 Maret 2020 di Financial Times.

Lantaran dianggap relevan, dua artikel tersebut terus ditulis-ulang di banyak media, baik daring maupun cetak. Di Kompas.id misalnya, ada satu artikel berjudul Dunia Setelah Virus Korona dari Kacamata Yuval Noah Harari dalam edisi 30 Maret 2020. Artikel panjang tersebut mendedah tulisan Harari dan relevansinya dengan situasi dunia saat ini, dikemas dalam bahasa yang santai.

Dalam opininya, Harari menulis bahwa sejarah menunjukkan perlindungan nyata yang berasal dari berbagi informasi ilmiah yang teruji, dan dari solidaritas global. Saat satu negara dilanda epidemi, negara tersebut mesti bersedia berbagi informasi sejujurnya tentang wabah tanpa takut terhadap bencana ekonomi. Negara lainnya pun mesti percaya pada informasi itu, dan harus bersedia untuk memberikan bantuan ketimbang memutuskan untuk mengucilkan para korban.

Tanpa kepercayaan dan solidaritas global, tulis Harari, kita tidak akan bisa menghentikan epidemi Virus Korona, dan kita akan cenderung melihat lebih banyak epidemi serupa Covid-19 di masa depan nanti. Kita sering lupa bahwa setiap krisis yang dialami adalah sebuah peluang. Harari berharap, epidemi yang melanda dunia saat ini bisa membantu umat manusia dan menyadarkan tentang bahaya besar jika terjadi perpecahan global.

Salah satu filsuf Islam, Ibnu Khaldun, mempunyai konsep kajian sosiologi tentang solidaritas dalam magnum opusnya, Muqaddimah. Salah satu sumbangan orisinal karya Khaldun adalah tentang konsep Ashabiyah. Dalam perkembangannya, konsep Ashabiyah ini menjadi pokok penting dalam setiap analisis Ibnu Khaldun tentang masyarakat, karena berguna untuk menganalisa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Baca Juga :  Viral Ajakan Ramaikan Masjid untuk Lawan Corona! Tepatkah?

Dalam buku berjudul Akar Konflik Sepanjang Zaman: Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun (Pustaka Pelajar, 2004) karya Hakimul Ikhwan Affandi dijelaskan bahwa secara etimologis Ashabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat. Sedangkan dalam fungsinya, Ashabiyah adalah ikatan sosial budaya untuk mengukur kekuatan kelompok sosial dan bisa disebut sebagai solidaritas sosial (kesadaran, kepaduan dan persatuan kelompok).

Kedekatan ikatan atau hubungan seseorang dengan golongan atau kelompoknya dan berusaha sekuat tenaga untuk memegang prinsip dan nilai yang dianut oleh kelompok juga bisa disebut sebagai konsep Ashabiyah. Ada banyak versi terjemahan untuk mengartikan konsep Ashabiyah. Ada yang menyebutnya sebagai solidaritas kelompok, ras atau golongan, harmonisasi, kohesi sosial, dan istilah-istilah sosiologi lainnya.

Secara umum, konsep Ashabiyah Ibn Khaldun memiliki lima bentuk; kekerabatan dan keturunan, persekutuan karena keluarnya seseorang dari garis keturunan awal ke garis keturunan lain, kesetiaan yang terjadi karena peralihan garis keturunan, penggabungan yang terjadi seseorang lari dari satu keluarga dan kaum ke keluarga dan kaum lainnya, dan perbudakan yang timbul karena adanya hubungan antara budak dan tuan.

Pada dasarnya, konsep Ashabiyah berangkat dari kehidupan masyarakat nomaden. tapi Ibnu Khaldun menggunakannya untuk melihat dan meneropong kehidupan masyarakat menetap. Pada masanya, ia adalah filsuf yang mempunyai cara pandang lebih maju dalam menentukan arah masyarakat yang lebih beradab. Ada dua makna dalam konsep Ashabiyah ini, yaitu makna yang bersifat destruktif dan konstruktif.

Konsep Ashabiyah akan menjadi destruktif jika digunakan untuk menjatuhkan pemerintah atau penguasa. Ashabiyah jenis ini terjadi dalam masyarakat kesukuan dan terjadi juga dalam masyarakat modern. Sementara itu, Ashabiyah bisa menjadi menjadi kekuatan konstruktif jika digunakan untuk mendorong pemerintah, dalam artian masyarakat mengontrol dan mengawasi pemerintah agar bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Andai Masa Depan Bisa Diprediksi

Dalam konsep Ashabiyah, rasa cinta dan kasih sayang yang ada dalam ikatan suku atau kelompok menjadi faktor solidaritas para anggotanya. Melihat kondisi masyarakat di dunia dalam pandemi Covid-19 ini, konsep Ashabiyah konstruktif masih sangat relevan dan mesti kita terapkan, terutama pada masa physical distancing dan saat negara melaksanakan lockdown.

Kita mesti menegaskan pemerintah bahwa bukan darurat sipil yang tepat untuk diterapkan, tapi pembatasan sosial, karantina wilayah, dan lockdown—hal yang semestinya sudah diterapkan sejak lama. Darurat sipil hanya akan membahayakan jutaan nyawa masyarakat Indonesia sebab masyarakat tidak akan mendapatkan kebutuhan hidup dari pemerintah dan tidak boleh keluar ke mana-mana.

Optimisme Yuval Noah Harari dalam tulisannya; “badai pasti berlalu, umat manusia akan tetap bertahan tetapi dunia yang akan kita tinggali akan berbeda.” akan semakin kuat apabila kita turut menguatkan lima konsep Ashabiyah Ibnu Khaldun dan menjadikannya bersifat konstruktif, bukan destruktif.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here