Menyoal Tafsir Islam Kaffah

1
2246

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini gerakan atau kelompok yang mengatasnamakan Islam sedang mendapatkan panggung. Sebagian kelompok itu menghendaki syariat Islam diformalkan sebagai undang-undang di Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI). Mereka mengklaim ingin menegakkan Islam kaffah. (Baca: Islam Kafah Menurut Pandangan Ibnu Khaldun)

Salah satu ayat Alquran yang dijadikan landasan mereka adalah surah al-Baqarah: 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Untuk mengkaji ayat ini dan menguraikan ayat di atas, saya menuliskan bacaan hasil bacaan tafsir surah ini berdasarkan tafsir at-Tahrir wat Tanwir karya Thahir bin ‘Asyur rahimahullah. Ulama asal Tunisia dikenal sebagai bapak Maqashid Syariah di kalangan para pengkaji hukum Islam. Paling tidak ada tiga alasan mengapa saya memilih tafsir ini.

Pertama, Ibnu ‘Asyur selalu menekankan pendekatan linguistik terlebih dahulu dalam menafsirkan ayat. Pendekatan linguistik yang dilakukannya selalu merujuk pada sumber- primer bahasa Arab selain Alquran yaitu syair-syair Arab Jahiliyah.

Kedua, meski Ibnu ‘Asyur menekankan pendekatan linguistik, namun ulama yang pernah dekat dengan Protektorat Prancis semasa menjabat sebagai mufti Tunisia ini, tidak mengabaikan konteks historis ayat. Bahkan Ibnu ‘Asyur berupaya menggunakan pendekatan munasabatul ayat, upaya menghubungkan keterkaitan satu ayat Alquran dengan ayat lainnya.

Ketiga, tokoh ternama Universitas Zaitunah Tunisia ini, tidak mengabaikan riwayat-riwayat ulama klasik, bahkan tidak jarang mengutip tafsir-tafsir klasik untuk upaya memperbandingkan pendapat yang menurutnya kuat.

Makna  As-Silmi 

Kata as-silmi dalam dialek Arab dapat juga dibaca as-salmi dan as-salam. Ketiga dialek ini memiliki makna dasar ‘perdamaian’ dan ‘meninggalkan perang’. Ibnu ‘Asyur merujuk  syair-syair Zuhair bin Abi Sulma dalam Mu’allaqat-nya. Penyair jahiliyah ini sangat dikagumi khalifah Umar bin Khattab atas sikapnya yang bijaksana dan berupaya keras mendamaikan dua suku, Dzibyan dan Abas, yang berseteru pada masanya. Zuhair bersyair:

وقد قلتما: إِنْ نُدْرِكْ الِسلْمَ وَاسِعًا بِمَالٍ وَمَعْرُوفٍ مِنَ القولِ نَسلِمْ

Saya sudah katakan pada kalian (suku Dzibyan dan Abas), “Kalau kita islah total dengan (membagi rata) harta dan (menghindari) hate speech, maka bangsa kita ini akan tetap bersatu.”

Selain itu, tiga dialek as-silmi, as-salmi, dan as-salam digunakan untuk makan Islam. Pendapat ini dinisbatkan pada sahabat Ibnu Abbas, Qatadah, dan Mujahid. Kedua ulama terakhir merupakan tabiin. Landasan ulama-ulama ini  berdasarkan salah dua syair yang diucapkan sahabat Nabi Umruul Qais bin Abis.

Baca Juga :  Benarkah yang Merayu Nabi Adam agar Makan Buah Pohon Terlarang, adalah Hawa?

دَعَوْتُ عَشِيرَتِي لِلسِّلْمِ لَمَّا … رَأَيْتُهُمُو تَوَلَّوْا مُدْبِرِينَا

فَلَسْتُ مُبَدِّلًا بِاللَّهِ رَبًّا … وَلَا مُسْتَبْدِلًا بِالسِّلْمِ دِينَا

Aku ajak keluargaku untuk (masuk) Islam saat

Aku melihat mereka berpaling dari taat

Aku tidak ingin mengganti Allah dengan Tuhan lain

Dan tidak meminta mengganti Islam dengan agama lain

Syair ini diungkapkan Umruul Qais yang meminta masyarakat yang murtad kembali pada agama Islam. Perlu diketahui, Umruul Qais di sini bukanlah penyair jahiliyah yang masyhur dikenal masyarakat Arab. Kalau yang dimaksud Umruul Qais penyair jahiliyah itu bernama lengkap Umruul Qais bin Hujr.

Menurut Ibnu ‘Asyur, pendapat yang kedua ini hampir dikutip mayoritas mufasir. Bahkan mereka hanya menyebutkan as-silmi adalah Islam, tanpa mempertimbangkan makna ‘perdamaian’ yang disebutkan pertama.

Namun demikian, beberapa ahli tafsir dan bahasa yang tidak menganggap validitas makna Islam terkait makna kata as-silmi juga banyak. Di antaranya ar-Raghib al-Isfahani, az-Zamakhsyari, Ibnu Manzhur. Artinya para ahli yang disebut belakangan ini hanya mengakui as-silmi yang bermakna ‘perdamaian’ saja.

Kata as-silmi yang terdapat dalam Alquran itu di tiga surah. Pertama dalam surah al-Anfal sebagai berikut:

وإِنْ جَنَحُوْا لِلسِّلْمِ فَاجْنَحْ لَهاَ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّه، إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَليم. سورة الأنفال: 61  

Sementara itu, kata as-silmi yang kedua terdapat dalam surah Muhammad sebagai berikut:

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ. سورة محمد: 35

Untuk kata as-silmi yang ketiga terdapat dalam surah al-Baqarah yang sedang kita kaji ini. Menurut at-Thabari, kata as-silmi atau as-salmi dalam dua surah pertama di atas bermakna ‘perdamaian’. Sementara itu, as-silmi dalam surah al-Baqarah bermakna ‘agama Islam’. Namun pendapat ini ditolak oleh al-Mubarrad, ahli linguistik abad ke-2 hijriah.

Menurutnya, salah satu karakteristik bahasa itu sima’i (konvensional). Artinya, bahasa itu ditetapkan berdasarkan konvensi masyarakat setempat. Bila kata as-silmi bermakna ‘agama Islam’ maka perlu argumen yang kuat yang menunjukkan makna tersebut.

Oleh karena itu, as-silmi semestinya dimaknai ‘perdamaian’ saja, tidak yang lainnya. Ibnu ‘Asyur pun cenderung memilih makna as-silmi dengan ‘perdamaian’.

Tampaknya Ibnu ‘Asyur lebih memilih syair Zuhair bin Abi Sulma dan beberapa pakar linguistik untuk menentukan makna as-silmi ini. Namun demikian, Ibnu ‘Asyur tidak membantah adanya kecenderungan mayoritas ulama tafsir yang mengatakan as-silmi yang bermakna ‘agama Islam’.

Baca Juga :  Delusi Jihad Fi Sabilillah

Untuk mengakomodasi pendapat mayoritas ini, Ibnu ‘Asyur menganggap makna ‘agama Islam’ dalam kata as-silmi sebagai majaz. Makna hakikat as-silmi tetaplah ‘perdamaian’.

Logika Bahasa Tafsir as-silmi

Menurut Ibnu ‘Asyur, makna kata as-silmi yang paling kuat adalah ‘perdamaian’. Ada argumen kuat untuk membantah bahwa as-silmi yang dimaksud adalah ‘agama Islam’. Dalam gramatikal Arab, kata perintah disebut dengan fi’il amr.

Secara pragmatik, kalimat perintah biasanya digunakan untuk meminta orang lain melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang itu. Misalnya, saya meminta tolong kepada istri saya untuk dibuatkan kopi, “Dik, Mas minta tolong dibuatkan kopi dong.”  Artinya saya meminta tolong kepada istri untuk dibuatkan perbuatan yang belum ia lakukan, yaitu membuatkan kopi.

Berkaitan dengan ayat ini, Allah Swt. menggunakan redaksi ya ayyuhal ladzina amanu. Redaksi alladzina amanu dalam Alquran biasa digunakan untuk sebutan bagi umat Muslim. Kalau kata as-silmi bermakna ‘agama Islam’ artinya orang yang sudah Islam diperintah untuk masuk Islam kembali.

Bukankah ini penafsiran yang mubazir? Lantas ada yang berpendapat mengapa tidak diartikan ‘Umat yang beriman, terapkan atau tegakkanlah agama Islam secara kaffah’?

Pertanyaan kemudian adalah apa argumentasi kata udkhulu diterjemahkan dengan kata tegakkan atau terapkan? Bila pun diterjemahkan ‘Umat yang beriman, masuklah dalam Islam secara kaffah’ tidak pasti bermakna menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dan diformalkan dalam undang-undang negara bukan?

Boleh jadi ayat tersebut menegaskan kepada umat Islam agar tidak bermain-main dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. sesuai dalam ajaran Islam. Hal itu dilakukan semampunya dan tanpa terpaksa, termasuk dalam konteks bernegara.

Dalam konteks negara saat ini yang berbentuk nation state, tidak lagi berbentuk khilafah islamiyah, pendapat al-mawardi yang dikutip ibnu hajar al-asqalani menarik untuk dijadikan tolak ukur.

Menurut al-mawardi, orang yang tinggal di baladul kufri, tetapi dia masih bisa mengerjakan kewajiban agama, maka seketika itu status negerinya berubah menjadi darul islam, dan tinggal di situ lebih baik daripada harus pindah. Hal ini karena untuk mensyiarkan agama Islam dan menarik umat lain untuk masuk Islam.

Oleh karena itu, formalisasi syariat Islam dalam bentuk undang-undang hanyalah sebuah instrumen. Tolak ukur suatu negara disebut negara islami adalah berlakunya keadilan, kemanan, kemakmuran bagi seluruh warga penduduk negara tersebut.

Baca Juga :  Ini Tanda-Tanda Jodoh Sudah Dekat

Menjaga Perdamaian Bangsa

Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa ayat sedang kita kaji ini masih ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Allah Swt. memerintahkan untuk berperang melawan siapa pun yang lebih dulu memerangi umat Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

وَقاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقاتِلُونَكُمْ وَلَاتَعْتَدُوْا، إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ. سورة البقرة: 190

Menurut Ibnu ‘Asyur, ayat ini diturunkan berkaitan dengan sikap tegas yang dipersilakan oleh Allah Swt. kepada umat Muslim. Umat Muslim ingin melaksanakan ibadah umrah pada 6 hijriah bulan Dzul Qa’dah.

Saat tiba di wilayah Hudaibiyah, Rasulullah Saw. pun mengutus sahabat Ustman ke Mekah. Tujuan diutusnya Ustman adalah untuk menjelaskan kepada kafir Quraisy bahwa umat Muslim ke Mekah untuk beribadah bukan untuk perang. Jarak antara Mekah dan Hudaibiyah kurang lebih mencapai 22 kilometer.

Saat Utsman bergegas menuju Mekah, ada desas-desus bahwa Ustman dibunuh kafir Quraisy. Turunlah ayat ini. Umat Muslim sudah siap mengangkat pedang dan berperang melawan musuh  Namun demikian, isu terbunuhnya Ustman itu tidak benar.

Nabi Saw. pun menahan emosi para sahabat untuk tetap tenang dan menjaga perdamaian. Pada saat ini juga terjadilah peristiwa ‘perdamaian Hudaibiyah’.

Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa ayat 190-208 surah al-Baqarah ini diturunkan di antara peristiwa di atas ini. Setelah melakukan perjanjian Hudaibiyah, umat Muslim berhasil melaksanakan Umratul Qadha tanpa ada tekanan apa pun dari kafir Quraisy.

Oleh karena itu, Ibnu ‘Asyur menafsirkan ayat ini berkaitan dengan perintah kepada umat Muslim untuk tetap menjaga perdamaian dengan kafir Quraiys.

Bila diterjemahkan kurang lebih demikian: “Umat (Muhammad) yang beriman, berdamailah terus secara total, dan jangan sampai kalian terjebak bujuk rayuan setan, karena sebenarnya dialah musuh yang nyata bagi kalian.”

Oleh karena itu, Ibnu ‘Asyur mengutip pendapat Asyatibi yang mengatakan bahwa kaidah dasar dalam Islam itu menjaga perdamaian, bukan mencari kerusuhan atau peperangan.

Hal ini untuk menegaskan dan menepis bahwa Islam adalah agama perang. Kedatangan Islam ke dunia Arab saat itu justru untuk menghilangkan tradisi perang antar suku di kalangan masyarakat Jahiliyah. Wallahu ‘alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here