Hukum Mengiringi Jenazah dengan Bacaan Shalawat

1
1469

BincangSyariah.Com – Ketika terdapat saudara kita yang meninggal, maka kita dianjurkan untuk mengantarkan jenazahnya hingga selesai pemakaman. Umumnya, ketika kita mengantar jenazah ke tempat pemakaman, maka di tengah jalan kita mengiringinya dengan kalimat tauhid. Namun bagaimana jika kita mengiringinya dengan bacaan shalawat, bukan kalimat tauhid, apakah boleh?

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk membaca zikir ketika mengantarkan jenazah. Kalimat zikir yang paling utama untuk kita baca secara bersama-sama, dengan suara keras dan nyaring saat mengantarkan jenazah adalah kalimat tahlil, yaitu kalimat la ilaaha illallahu. Hal ini karena kalimat tahlil ini pernah dibaca oleh Nabi Saw saat beliau mengantarkan jenazah.

Dalam kitab Nashbur Rayah, Imam Al-Hafidz Al-Zaila’i menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Umar, dia berkata;

لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا

Tidak ada kalimat yang didengar dari Rasulullah Saw saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali kalimat La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang.

Meski yang paling utama membaca kalimat tahlil saat mengiringi jenazah, namun kita boleh juga membaca atau mengganti dengan kalimat zikir yang lain. Juga kita boleh membaca atau mengganti kalimat tahlil dengan shalawat. Karena itu, membaca shalawat secara bersama-sama dan dengan suara keras saat mengiringi jenazah hukumnya boleh, sebagaimana membaca kalimat tahlil.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub berikut;

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Baca Juga :  Manfaat Bershalawat kepada Nabi Saw

Disunnahkan untuk berjalan di depan keranda (jenazah) atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berpikir tentang kematian dan sesudahnya. Dan dimakruhkan untuk gaduh, bercakap-cakap tentang urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat Al-Quran, membaca zikir, atau shalawat kepada Nabi Saw karena hal ini menambah syi’ar dan penghormatan bagi jenazah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here