Menghafalkan Alquran atau Memperdalam Fikih, Mana yang Didahulukan?

0
640

BincangSyariah.Com – Menghafalkan Alquran adalah ibadah yang besar pahalanya. Hukum menghafalkannya fardu kifayah. Sama wajibnya dengan salat berjamaah. Mereka yang menghafalkannya adalah “Pembawa Panji Kebesaran Islam” kata Fudhail bin ’Iyadh.

Di sisi lain, hukum mempelajari ilmu agama (fikih) sebatas yang dibutuhkan untuk mengetahui dan memastikan keabsahan ibadah serta muamalah sehari-hari adalah fardhu ‘ain. Sedangkan hukum mendalaminya guna menjawab pelbagai problematika keagamaan yang kompleks di tengah-tengah masyarakat adalah fardu kifayah.

Memang, banyak para pengahafal Alquran (hafiz) memiliki pengetahuan agama yang memadai untuk menjawab kebutuhan masyarakat umum. Tapi, tidak sedikit pula para pembawa panji kebesaran Islam ini justru tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Bahkan, ada juga yang awam terhadap kitab kuning.

Memiliki pengetahuan agama yang dibutuhkan sebatas fardhu ‘ayn sebagaimana disinggung di atas adalah prioritas utama. Ini ketetapan yang tidak bisa ditawar. Baik bagi orang yang menghafalkan Alquran maupun bukan. Jangan sampai seorang hafiz tidak mengerti ilmu fardhu ‘ayn. Dalam kaidah fikih disebutkan:

إذا تَعارَضَ واجِبانِ قُدِّمَ آكَدُهُما

“Apabila ada dua kewajiban bertentangan, maka didahulukanlah yang paling kuat dari keduanya.”

Fardu ain tentu lebih didahulukan dari pada fardu kifayah. Sedangkan apabila yang bertentangan sama-sama fardu kifayah, maka tidak bisa ditentukan mana yang harus didahulukan. Sifatnya kondisional. Menghafal Alquran dan memperdalam ilmu agama  sama-sama fardu kifayah. Dengan perbedaan kondisi keluarga, kebutuhan masyarakat dan lain-lainnya, setiap orang bisa jadi memiliki prioritas berbeda untuk memilih salah satu dari keduanya.

Apabila di suatu daerah terdapat banyak ahli fikih dan tidak ada penghafal Alquran, maka menghafalkan Alquran bisa saja menjadi prioritas. Tapi, jika di daerah tersebut minim—atau bahkan tidak ada sama sekali—ahli fikih, maka memperdalam fikih hendaknya dijadikan prioritas. Bagaimanapun, ilmu fikih lebih dibutuhkan masyarakat awam. Al-Ghazali berkata dalam Al-Aṣnāf al-Maghrūrīn,

وترك الترتيب بين الخيرات من جملة الغرور بل قد يتعين على الإنسان فرضان أحدهما يفوت والآخر لا يفوت أو نفلان أحدهما يضيق وقته والآخر متسع وقته فإن لم يحفظ الترتيب كان مغرورا

Baca Juga :  Empat Ilmu dalam Surah al-Fatihah

“Tidak memperhatikan tahapan yang benar dalam melakukan amal-amal kebaikan adalah salah satu tipu daya Iblis. Terkadang, ada seseorang yang memiliki tanggung jawab dua fardu ain, salah satunya bisa segera hilang kesempatan melakukannya, sementara satunya lagi tidak. Atau, mendapat anjuran dua amal sunah, salah satunya sudah sempit waktunya, sementara satunya lagi memiliki waktu yang masih longgar. Apabila orang tersebut tidak memperhatikan tahapan urutan yang seharusnya, maka dia sungguh terbujuk tipu daya Iblis.”

فإن المعصية ظاهرة وإنما الغامض تقديم بعض الطاعات على بعض كتقديم الفرائض كلها على النوافل وتقديم فروض الأعيان على فروض الكفايات، وتقديم فروض الكفايات التى لا قائم بها على ما قام بها غيره

“Sungguh kemaksiatan adalah sesuatu yang jelas. Yang sulit adalah mendahulukan salah satu amal ṭā’ah (wajib/sunah) atas sesamanya. Seperti, mendahulukan fardu atas sunah; mendahulukan fardu ain atas fardu kifayah; dan mendahulukan fardu kifayah yang sudah dipenuhi kewajibannya oleh orang lain atas fardu kifayah yang belum dipenuhi oleh siapapun.”

Walhasil, sebagai fardu kifayah, keduanya wajib ada di setiap daerah. Syukur-syukur jika di tengah-tengah kita ada yang ditakdirkan mendapatkan dua-duanya; hafal Alquran sekaligus alim fikih. Namun, sebelum menentukan untuk memilih salah satu, sebaiknya berisitikharah dan meminta petunjuk guru yang benar-benar alim terlebih dahulu, karena guru lebih mengetahui mana yang lebih maslahat untuk muridnya.

Dikisahkan dalam kitab Ta’līmul-Muta’allim, bahwa mulanya Imam Al-Bukhari belajar tentang bab salat kepada Imam Muhammad bin Hasan. Tapi, gurunya itu justru “mengusir” Imam Al-Bukhari seraya berkata, “Pergilah belajar hadis.” Titah ini diperintahkan, karena gurunya melihat bahwa ilmu hadis adalah yang paling layak bagi Imam Al-Bukhari. Andai saja Imam Al-Bukhari tidak mematuhi perintah ini, mungkin—wallahu a’lam—beliau tidak akan memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat di seluruh dunia seperti saat ini. Tapi, beliau mematuhinya dan akhirnya menjadi imam hadis terdepan umat Islam. Al-Ghazali yang berkata:

Baca Juga :  Kesusastraan Sebagai Mukjizat Al-Quran

الغرور فى الترتيب دقيق خفى لا يقدر عليه إلا العلماء الراسخون فى العلم رضى الله عنهم وغفر لهم

“Terkecoh dalam mengurutkan kewajiban memang perkara samar dan rumit yang permasalahannya hanya bisa diselesaikan ulama-ulama yang dalam ilmunya.” Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here