BincangSyariah.Com- Lebaran haji pada tahun ini, insya Allah, bertepatan dengan 1 September 2017. Selain shalat Idul Adha, umat Muslim di seluruh dunia juga disunahkan untuk melakukan kurban hewan, baik kambing maupun sapi. Pada umumnya, masyarakat muslim di Indonesia yang diwakili takmir masjid mulai memotong hewan tersebut setelah salat Idul Adha hingga berakhirnya hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah).

Bagi seorang muslim yang seringkali berkurban di bulan Dzulhijjah kemungkinan terbesit di hatinya untuk menghadiahkan pahala kurban tersebut untuk orangtuanya atau keluarganya yang lain yang sudah meninggal. Pertanyaanya, adakah praktik yang dilakukan oleh Nabi atau para sahabat mengenai menghadiahkan pahala kurban untuk orang yang sudah meninggal?

Pada dasarnya, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal sudah menjadi tradisi mayoritas masyarakat muslim di Indonesia. Mulai dari menghadiahkan pahala bacaan tahlil, pahala sedekah, dan lain sebagainya. Khusus untuk masalah menghadiahkan pahala sembelihan hewan kurban, sahabat Ali pernah menyembelih hewan kurban dan pahalanya dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang waktu itu sudah wafat.

عَنْ عَلِيٍّ، أَنَّهُ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ، فَقِيلَ لَهُ: فَقَالَ: أَمَرَنِي بِهِ، يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلاَ أَدَعُهُ أَبَدًا.

 

Diriwayatkan dari Sayidina Ali yang menceritakan bahwa dirinya selalu menyembelih dua kambing domba. Satu domba untuk Nabi, dan satunya lagi untuk dirinya. Ada sahabat lain yang bertanya kepada Ali mengapa melakukan penyembelihan tersebut? “Rasulullah yang memerintah aku berbuat demikian,” jawab sahabat Ali. “Karena itu, saya tak pernah meninggalkan amanat tersebut sama sekali,” lanjut menantu Rasulullah Saw.

 

Analisis Sanad Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh imam hadis, di antaranya imam Ahmad dalam kitab Musnad, imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, imam Abu Daud dalam Sunan Abi Daud, imam al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi. Imam al-Hakim menganggap sahih hadis yang diriwayatkan sahabat Ali ini. Imam al-Tirmidzi menuliskan hadis ini dalam bab penyembelihan hewan untuk orang meninggal (Bab ma ja’a fi al-Udhiyyah ‘an al-Mayyit). Menurut imam al-Tirmidzi, sebagian ulama hadis membolehkan praktik demikian, dan sebagian yang lain tidak membolehkan.

Baca Juga :  Kritik Hadis Perintah Menyusui Orang Dewasa untuk Jadi Mahram

Selain itu, Imam al-Tirmidzi juga mengutip pendapat imam Abdullah bin al-Mubarak, “Saya lebih suka sedekah (uang, makanan, atau lainnya) untuk yang meninggal daripada menyembelih hewan kurban untuknya. Bila terpaksa ada yang mempraktikkan menyembelih hewan kurban untuk orang meninggal, maka sebaiknya seluruh daging hewan sembelihan itu disedekahkan. Penyembelih tidak usah mengambil bagian daging hewan sembelihan tersebut.”

Imam Muhamad bin Ishaq al-Naisaburi, ulama hadis asal Khurasan, juga melakukan amal saleh yang dilakukan sahabat Ali. Ulama yang lahir pada 216 hijriah ini bahkan sampai 10 ribu kali khataman Alquran yang dihadiahkan untuk Nabi.

Syekh Syu’aib al-Arnauth, ulama hadis asal Damaskus yang wafat pada tahun 2016, berpendapat bahwa menghadiahkan pahala semebelihan hewan kurban untuk orang meninggal itu boleh, dan pahalanya insya Allah akan sampai kepadanya. Wallahu a’lam.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here