Menggunakan Kekerasan Atas Nama Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Bolehkah?

0
1077

BincangSyariah.Com – Salah satu kegiatan latah yang dilakukan sebagian kelompok yang merasa Islamnya sudah kaffah ialah selalu melakukan aksi turun ke jalan sembali mengacungkan pentungan. Biasanya, pelakunya gemar meneriakkan takbir di jalanan.

Objeknya juga biasanya adalah tempat-tempat yang menurut mereka menjadi sarang kemaksiatan, seperti tempat prostitusi, warung makan yang buka di siang hari bulan Ramadan, warung yang disinyalir menjajakan minuman keras, atau perobohan simbol-simbol yang dianggap tak sejalan dengan Islam.

Pekikan takbir yang diikuti kekerasan dan intimidasi selalu saja mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar. Singkatnya, mereka meyakini kemunkaran harus dibasmi karena sesuai dengan perintah hadis,

(من رآى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان (الحديث

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tak mampu, maka (ubahlah kemunkaran itu) dengan lisannya. Dan jika tak mampu, maka (ubahlah kemunkaran itu) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri. Pertanyaannya, benarkah cara-cara yang dilakukan sebagian orang yang mengatasnamakan penegakan amar ma’ruf nahi munkar melalui kekerasan, sweeping dan aksi perusakan?

Yusuf al-Qardhawi dalam kitabnya, Min Fiqh al-Dawlah fil-Islam (1997), memberikan empat syarat menegakkan amar makruf nahi munkar dengan yad yang kemudian diterjemahkan dengan kekuatan dan fisik. Syarat tersebut adalah:

Pertama, kemunkaran yang hendak diberantas ialah hal-hal yang keharamannya telah disepakati para ulama (muharraman mujma’an ‘alayh). Sementara, dalam hal yang keharamannya masih diperselisihkan, maka penegakan amar makruf nahi munkar tidak bisa dilakukan. Nah, kalau begitu, konser musik atau warung makan yang tetap menerima pelanggan di siang bulan Ramadhan tidak bisa menjadi objek karena keharaman jenis ini masih diperselisihkan ulama.

Baca Juga :  Tata Cara Berdakwah yang Baik

Kedua, kemunkaran yang hendak diberantas harus terlihat. Artinya, kemunkaran itu memang sengaja dilakukan agar dapat dilihat orang banyak. Seperti, jika pasangan muda-mudi (mohon maaf) mempertontonkan aksi perzinaan di tengah kerumunan massa. Sementara, pada kasus kemunkaran yang dilakukan sembunyi-sembunyi, maka amar ma’ruf nahi munkar tidak bisa dilakukan, seperti pada kasus penggerebekan kos-kosan yang diduga menjadi sarang kemaksiatan. Latahnya, penggerebekan dilakukan dengan memukuli para terduga yang belum terbukti melakukan tindak perzinaan. Ini jelas mengiris rasa kemanusiaan.

Saya sengaja kutipkan kisah menarik yang disebutkan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din saat beliau membahas amar ma’ruf nahi munkar. Al-Ghazali bercerita, Suatu ketika Umar ibn Khathab memanjat dinding rumah seorang warga dan melihat terjadinya kemunkaran. Umar lantas mengingkarinya. Atas kejadian itu, pemilik rumah melakukan protes dan berkata kepada Umar.

Wahai Umar, jika aku bermaksiat kepada Allah dari satu sisi, maka ketahuilah bahwa engkau telah bermaksiat kepada-Nya dari tiga sisi”.

Umar bertanya, “Apa itu?”

Pemilik rumah menjawab, “Allah memerintahkan agar tidak berbuat tajassus (memata-matai) (QS. Al-Hujurat: 12), sementara engkau melakukannya. Allah juga memerintahkan untuk memasuki rumah melalui pintu (QS. Al-Baqarah/2: 189), sementara engkau melanggarnya dengan memanjat dinding pagar. Terakhir, Allah juga memerintahkan untuk mengucapkan salam saat hendak memasuki rumah orang lain (QS. Al-Nur/24: 27), sementara engkau tidak mengucapkan salam dan langsung menerobos masuk”.

Mendengar jawaban tersebut Umar meninggalkannya dan memintanya untuk bertaubat.

Ketiga, pemberantasan kemunkaran dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kewenangan untuk mengubahnya, baik karena mereka memikul kekuasaan materil yang konkret maupun imateril yang bersifat abstrak.

Kekuasaan materil dimiliki tiga kelompok; Kekuatan bersenjata yang dimiliki pihak militer dan kepolisian seperti ketika menghadapi gerakan separatis, kekuatan melalui rumusan kebijakan dan peraturan yang dipegang Majelis Perwakilan (DPR, red) dan pemerintah, serta kekuatan rakyat yang bersatu untuk melakukan revolusi ketika pemerintah telah nyata melakukan tirani dan kesewenang-wenangan.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Orang Miskin di Dunia

Sementara kekuasaan imateril merupakan kekuatan abstrak dan moralitas yang dimiliki suami atas istrinya, ayah terhadap anaknya atau pimpinan perusahaan terhadap anak buahnya yang melakukan tindakan kemunkaran di perusahaan yang ia pimpin.

Keempat, pemberantasan kemunkaran tidak melahirkan kemunkaran lain yang lebih besar. Jika penegakan amar ma’ruf nahi munkar malah akan menimbulkan pertumpahan darah atau kekacauan, para ulama menetapkan kewajiban pemberantasan kemunkaran secara otomatis akan gugur.

Jelaslah bahwa amar ma’ruf nahi munkar memiliki prasyarat ketat dan untuk mencapaikan, ada beberapa fase yang harus dilalui. Sehingga, otomatis tak setiap orang dapat menggunakan kekuatan fisik untuk menghadapi kemunkaran. Jika ada kelompok yang menggunakan cara kekerasan dalam memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar, bisa jadi mereka mengikuti cara-cara Abu Lahab dan Abu Jahal ketimbang Nabi Muhammad SAW. yang mengedepankan cara-cara hikmah dan damai. Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here