Menggali Landasan Fiqih dalam Social Distancing

1
813

BincangSyariah.Com – Hingga saat ini (Selasa/24/03/20) korban meninggal karena Covid-19 telah mencapai 14,652 jiwa dari 190 negara, sedangkan dari semua negara tersebut yang terkena virus ini sudah mencapai 334,981 orang dilansir dari website resmi WHO yang baru diupdate pada 24 Maret 2020, 03:51 GMT+7.

WHO sendiri sudah menyiapkan tips-tips agar terhindar dari Covid-19, beserta cara meminimalisir penyebarannya. Diantaranya adalah dengan mencuci tangan lebih sering dan teratur dengan sabun dan air, menerapkan social distancing dengan menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang sakit batuk atau bersih. hindari menyentuh mata, hidung dan mulut karena dari sanalah virus ini masuk ke tubuh, jangan bersin dan batuk sembarangan, jika demam atau batuk dan kesulitan bernafas maka segeralah ke dokter.

Hal-hal diatas penting sekali kita terapkan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, terutama Social distancing, yaitu dengan membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Social distancing sangat penting sekali terutama bagi orang sehat, agar terhindar dari orang yang telah terkena Covid-19.

Tak disangka, efek dari social distancing ini merambah jauh kepada aktivitas dan rutinitas hidup kita, diantaranya adalah ditetapkannya peraturan untuk WFH (work from home), tempat-tempat umum yang berpotensi menciptakan keramaian ditutup, shalat jumat ditiadakan sementara, kegiatan belajar mengajar menjadi via online, dan masih banyak lagi.

Ketimpangan ekonomi negara sudah tentu tak perlu dipertanyakan, namun bagaimanapun situasi seperti ini memaksa kita untuk bersatu memerangi Covid-19 hingga dunia kembali seperti sediakala.

Dalam agama islam, salah satu tujuan dibentuknya hukum bukanlah untuk mengekang manusia, akan tetapi diantaranya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan (mafsadah). Jika suatu perbuatan yang belum dilakukan diduga keras akan menimbulkan kerusakan (mafsadah), maka dilaranglah hal-hal yang mengarahkan kepada perbuatan tersebut. Di hari ini konsep seperti ini ramai dibahas di teks-teks ilmu ushul fiqh, biasa disebut dengan sadd al-dzarī’ah yang artinya mencegah sesuatu perbuatan agar tidak sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan).

Baca Juga :  Diundang Resepsi Pernikahan, Apa Hukumnya Meneruskan Puasa Sunnah?

Dalam problem Covid-19, Social Distancing ini masuk kepada bagian dari sadd al-dzarī’ah, karena ia adalah bagian dari upaya pencegahan penyebab keramaian, atau interaksi jarak dekat agar virus Corona tidak menular kepada yang lainnya. Kendati tidak semua mazhab menyepakati akan sadd al-dzarī’ah dijadikan sebagai landasan hukum, namun ada beberapa permasalahan yang berbeda-beda, dimana sadd al-dzarī’ah menjadi landasannya.

Para ulama beragam dalam mendefinisikan Sadd al-Dzarī’ah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan dalam I’lām al-Mūqi’īn:

والذريعة ما كان وسيلة وطريقا إلى الشيء

Sesuatu yang menjadi wasilah dan jalan kepada sesuatu. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lām al-Mūqi’īn, Maktabah al-Kulliyāt al-Azhariyah, Kairo, 968, juz. 3, hal. 135)

Asy-Syaukani menyebutkan dalam Irsyād al-Fuhūl,

هي المسألة التي ظاهرها الإباحة، ويتوصل بها إلى فعل المحظور

bahwa adz-dzarī’ah adalah perkara yang pada zahirnya dibolehkan namun akan mengantarkan kepada perbuatan yang dilarang. (Asy-Syaukani, Irsyād al-Fuhūl fī Tahqīq al-Haqq min ‘Ilm al-Ushūl, Beirut: Dar al-Kitāb al-‘Arabi, 1999, juz3, hal. 324)

Di dalam kitab al-Muwafaqāt, asy-Syatibi menyatakan bahwa sadd adz-dzari’ah adalah,

منع الجائز، لئلا يتوسل به إلى الممنوع

menolak sesuatu yang hukumnya mubah, supaya tidak mengantarkan kepada sesuatu yang dilarang. (Asy-Syathibi, al-Muwafaqāt fī Ushūl al-Fiqh, Beirut: Dar Ibn ‘Affān, 1997, juz 3, hal. 564)

ayat yang sering menjadi contoh dalam bab Sad al-Dzarī’ah ialah QS al-An’am ayat 108:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Baca Juga :  Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati, Layakkah Disebut Syahid?

Ayat diatas berisi pelarangan untuk mencaci agama lain, karena perbuatan tersebut akan menyebabkan mereka mencela balik Allah dan agama islam. Adapun dari hadis, ialah Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Termasuk di antara dosa besar seorang lelaki melaknat kedua orang tuanya.” Beliau kemudian ditanya, “Bagaimana caranya seorang lelaki melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Seorang lelaki mencaci maki ayah orang lain, kemudian orang yang dicaci itu pun membalas mencaci maki ayah dan ibu tua lelaki tersebut.” (HR Bukhari)

Selain Al-Quran dan hadis, dalam kaidah fikih disebutkan,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ.

Menolak keburukan (mafsadah) lebih diutamakan daripada meraih kebaikan (maslahah). (As-Suyūthi, al-Asybāh wa an-Nadhāir, Dar el-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz. 1, hal. 187)

Dalam kasus Covid-19, kaidah ini bisa kita terapkan dalam kegiatan-kegiatan yang pada asalnya hukumnya mubah, atau dapat mendatangkan kemaslahatan, sementara dihentikan untuk menolak mafsadah/kerusakan. Salah satu upayanya adalah dengan menerapkan social distancing. Bagaimanapun keadaan darurat saat ini mengharuskan kita semua untuk menghentikan kegiatan dalam keramaian untuk mencegah kerusakan berupa menularnya virus Corona. Wallahu a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here