Mengevaluasi Keuntungan dan Kerugian Hidup di Dunia

1
941

BincangSyariah.Com – Hidup adalah perjalanan pulang. Sejatinya kehidupan manusia di dunia adalah perjalanan dari segumpal tanah untuk kembali menjadi tanah. Bagi mereka yang sadar, perjalanan hidup hanyalah sekadar menyapa deretan stasiun kehidupan. Satu-dua pengalaman hidup ada yang membuat kita bahagia, namun tak sedikit pula yang menorehkan luka.

Pertanyaannya, sejauh mana kita mampu bertahan hidup hidup untuk kemudian kita jadikan bekal dalam mengarungi samudera kehidupan menuju perjalanan pulang kepada-Nya.”

Sebelum yang lain yang menghitungnya di hari kiamat kelak, tak ada salahnya jika kita sering menghitung dan mengevaluasi keuntungan dan kerugian hidup di dunia. Dalam kitab Mauidzatul Mu’minin karya Syekh Jalaluddin Al Qasimi disebutkan beberapa point yang bisa dijadikan formula pokok dalam menghitung berapa modal, keuntungan, dan juga kerugian kita semasa hidup di dunia.

فكذالك رأس مال العبد في دينه الفرائض وربحه النوافل والفضائل وخسرانه المعاصي

Modal utama kebaikan adalah amal-amal yang fardlu, keuntungannya adalaha amal-amal yang sunnah, sedangkan kerugiannya adalah perbuatan maksiat

Untuk mempersiapkan perjalanan pulang menuju kepada-Nya, modal utama dan keuntungan bisa sangat membantu agra perjalanan pulang lancar. Oleh karena itu, amal-amal yang fardlu tidak boleh ditinggalkan. Atau bahkan sebisa mungkin memaksimalkan amal-amal yang disunnahkan, sebab itulah yang bernilai keuntungan kita.

Modal utama yang lengkap, dan juga disertai keuntungan yang banyak tentu menjadi perjalanan pulang yang menyenangkan kepada-Nya. seperti halnya kepergian Maulana Rumi pada pangkuan-Nya, beliau terlihat begitu bahagia. Sebab ia akan berjumpa dengan Dzat yang selalu dirindukann.

Berbeda dengan ia yang mengisi hidupnya dengan kerugian-kerugian yang berupa kemaksiatan. Tentu jalan pulang kepada-Nya akan menjadi seram dan menakutkan. Jika modal utama (amal fardlu) belum terlengkapi, ditambah dengan kerugian yang ia dapatkan sebab perbuatannya, maka tak salah jika yang ia dapatkan hanyalah tempat yang hina di sisi-Nya.

Allah  sudah menjelaskan dengan sangat gamblang di dalam Al Qur’an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. Cobalah kita membuka lembaran-lembaran Al Qur’an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Ibnu Katsir memaparkan tatkala menafsirkan tersebut (QS. Adz-Dzariyat : 56), Maknanya adalah sesungguhnya Allah menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras.

Allah pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka. Hikmah penciptaan seperti itu disebut sebagai hikmah syar’iyah diniyah oleh Al Qurthubi.

Dengan demikian, agar kehidupan ini mendapatkan keuntungan yang besar untuk dibawa kembali pulang, maka perbanyaklah amal baik dan ibadah kita kepada-Nya. dengan cara itu kita bisa menggapai tujuan hidup dengan baik dan maksimal.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here