Mengenal Tafsir bi al-Ma’tsur

0
54

BincangSyariah.Com – Saat menafsirkan al-Quran, sebagian mufasir mengandalkan riwayat hadis yang ia miliki. Ada pula yang mengandalkan kemampuan penalaran independen. Paling unik adalah mufasir sekaligus sufi yang mengandalkan metode kasyf di mana mereka mengklaim tafsirannya merupakan dikte Tuhan.

Tafsiran kelompok pertama kemudian dikenal dengan tafsir bi al-ma’tsur. Kelompok kedua disebut tafsiran bi al-ra’yi. Kelompok terakhir terkenal dengan sebutan tafsir bi al-isyari. Namun khusus kelompok terakhir keabsahan penafsiran mereka masih diperdebatkan.

Ketiga cara pendekatan penafsiran al-Quran tersebut dinamai mashadir tafsir al-Quran (sumber penafsiran al-Quran).

Definisi tafsir bi al-Ma’tsur

Khusus pada tulisan ini, kita akan mendalami sumber penafsiran yang pertama yakni tafsir bi al-ma’tsur. Menurut al-Raghib al-Ashfihani dalam kamusnya mufradat alfadz al-Quran, kata atsar berarti jejak yang ditujukan pada orang terdahulu.

Maka, tafsir al-ma’tsur kurang lebih dapat diartikan sebagai tafsir al-Quran yang mengikuti jejak orang terdahulu. Tentu, bukan sembarang orang terdahulu, yang dimaksud orang terdahulu di dalam term ini adalah Nabi, sahabat Nabi, tabi’in, dan – masih diperdebatkan- atba’u al-tabi’.

Selain berdasarkan riwayat Nabi, sahabat, dan tabi’in, penafsiran ayat al-Quran dengan ayat al-Quran yang lain masih termasuk klasifikasi tafsir bi al-ma’tsur. Jadi tafsir bi al-ma’tsur adalah penafsiran ayat al-Quran oleh mufasir dengan mengandalkan ayat al-Quran lain, hadis Nabi, pendapat sahabat dan tabi’in.

Salah satu kitab tafsir fenomenal yang menggunakan pendekatan bi al-ma’tsur ialah kitab Jami’ al-Bayan ‘an ta’wil ayy al-Quran karya Thabari. Kitab Jami’ al-Bayan sendiri termasuk kitab pertama yang khusus menafsirkan al-Quran. Sebelumnya, tafsir al-Quran merupakan bagian dari bab hadis.

Contoh Tafsir bi al-Ma’tsur

Agar dapat lebih dipahami, kami hadirkan contoh penafsirannya. Kami akan mengutip tafsir Thabari surat al-Falaq ayat pertama. Menurut Thabari berdasarkan riwayat yang ia dapat, para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata “al-Falaq”.

Baca Juga :  Hukum Memakan Daging Hewan dengan Dua Kali Sembelihan

Setelah kami perhatikan, setidaknya Thabari memiliki riwayat yang mengartikan al-falaq menjadi tiga makna. Pertama, riwayat yang menyatakan al-falaq adalah nama suatu penjara di neraka Jahannam. Kedua, riwayat yang menyatakan al-falaq adalah salah satu dari nama neraka.

Dan ketiga, riwayat yang menyatakan al-falaq adalah waktu subuh. Berikut kutipannya :

واختلف أهل التأويل في معنى ﴿الفلق﴾ فقال بعضهم: هو سجن في جهنم يسمى هذا الاسم.

ذكر من قال ذلك:

  حدثني الحسين بن يزيد الطحان، قال: ثنا عبد السلام بن حرب، عن إسحاق بن عبد الله، عمن حدثه عن ابن عباس قال: ﴿الفلق﴾ : سجن في جهنم.

Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata “al-Falaq” Sebagian dari mereka berpendapat bahwa al-Falaq adalah nama penjara di neraka Jahannam. Ulama yang menyatakan demikian berdasarkan riwayat : “telah menyampaikan kepadaku Husain bin Yazid al-Thahan.

Dia berkata, “telah menyampaikan kepadaku Abdul Salam bin Harb, dari Ishaq bin Abdullah, dari orang yang menyampaikan hadis kepadanya, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “al-Falaq adalah penjara di neraka Jahannam”.

Berdasarkan riwayat pertama inilah ada sebagian ulama yang mengartikan “al-falaq” sebagai nama suatu penjara di neraka. Sementara itu dalam riwayat kedua yang menyatakan al-falaq berarti nama neraka, kami kutip sebagai berikut.

حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: سمعت خيثم بن عبد الله يقول: سألت أبا عبد الرحمن الحبلي، عن ﴿الفلق﴾ ، قال: هي جهنم.

Telah menyampaikan kepadaku Yunus, dia berkata, “telah menyampaikan kepadaku Ibnu Wahab, dia berkata, aku mendengar Khaitsam bin Abdullah berkata : aku bertanya kepada Abu ‘Abdi Rahman tentang makna ‘al-Falaq’, dia menjawab : al-Falaq adalah (nama lain dari) neraka Jahannam.

Dari riwayat kedua ini, sebagian ulama berpendapat al-falaq adalah nama lain neraka. Terakhir, ulama yang mengartikan al-falaq sebagai waktu subuh. Ini berdasarkan riwayat :

Baca Juga :  Tafsir Maqashidi : Keniscayaan Perspektif Penafsiran Moderasi Islam

حدثني محمد بن سعد، قال: ثني أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي، عن أبيه، عن ابن عباس: ﴿أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾ قال: ﴿الفلق﴾ : الصبح.

Telah menyampaikan kepadaku Muhammad bin Sa’d, dia berkata, “telah menyampaikan kepadaku Ayahku, dia berkata : telah menyampaikan kepadaku pamanku, dia berkata : telah menyampaikan kepadaku Ayahku dari Ayahnya dari Ibnu ‘Abbas dia berkata : “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai al-Falaq” al-Falaq adalah waktu Subuh.

Thabari dalam tafisrnya tidak hanya menampilkan pelbagai macam riwayat seperti di atas. Setelah menampilkan pelbagai riwayat, Thabari men-tarjih alias mengunggulkan salah satu riwayat yang ia anggap paling kuat.

Dari ketiga riwayat di atas, Thabari memilih riwayat ketiga yang menyatakan al-falaq berarti waktu subuh. Kiranya, pendapat ini pula yang dipilih oleh Kementrian Agama RI dalam al-Quran terjemahannya. Berikut terjemahan KEMENAG :

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar) (al-Falaq [113]: 1)

Meskipun tafsir seperti di atas dinamai bi al-ma’tsur bukan berarti ia terlepas sama sekali dari ra’yu atau penalaran mufasir. Bukankah untuk menentukan bahwa tafsir suatu ayat dijelaskan oleh ayat lain atau hadis, pendapat sahabat dan tabi’in memerlukan penalaran cemerlang?.

Pun, tafsir bi al-ma’tsur tidak serta merta menjadikan suatu penafsiran al-Quran menjadi objektif. Bahkan jika suatu ayat al-Quran ditafsirkan oleh ayat al-Quran lain, sebenarnya yang tengah menafsirkan itu adalah mufasir, bukan al-Quran.

Karena al-Quran sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa ayat ini ditafsirkan oleh ayat ini. Sekali lagi dua hal ini menjadi bukti bahwa tafsir bi al-ma’tsur tetap tidak bersih dari unsur ra’yu dan tafsir bi alma’tsur tetap penafsiran subjektif seorang mufasir.

Baca Juga :  Mengaji Makna "Lailatul Qadar" : Apa Maksud Lebih Baik dari 1000 Bulan? (2)

Lebih jauh lagi, kitab Jami’ al-Bayan karya Thabari merupakan tambang luas yang siap digali oleh para ahli hadis. Ribuan riwayatnya siap di-takhrij untuk memastikan apakah riwayat-riwayat Thabari dalam kitabnya dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya atau tidak?. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here