Mengenal Sistem Kafalah di Arab Saudi

0
657

BincangSyariah.com – Beberapa waktu lalu, Senin (29/10), TKI asal Majalengka Tuti Tursilawati dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi tanpa adanya notifikasi terlebih dahulu kepada Pemerintah RI. Tuti bukanlah TKI satu-satunya yang menjadi korban eksekusi mati tanpa mendapatkan keadilan hukum yang tepat. Sistem dan kultur kafalah di Arab Saudi diduga menjadi faktor utama yang membuat begitu banyak TKI kita di Arab Saudi dieksekusi mati. Mari, kita mengenal apa itu sistem Khafallah.

Sebelumnya diberitakan, Tuti dieksekusi dengan tuduhan pembunuhan terhadap majikannya. Padahal, Tuti hanya melakukan pembelaan dari kekerasan fisik dan seksual yang berulang kali diterimanya. Apa yang membuat Tuti tidak bisa melarikan diri dari rumah majikannya jika memang ia kerap mendapatkan kekerasan? Adalah sistem Khafallah yang diduga menjadi pemicu utama.

Sistem kafalah adalah kultur di mana sebuah otoritas di dalam rumah ditentukan secara mutlak oleh majikan. Jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah yang diotorisasi oleh pemiliknya, maka seluruh peraturan yang berlaku di dalamnya adalah mutlak, tidak bisa diintervensi oleh siapapun, termasuk Pemerintah Arab Saudi.

Maka jika terdapat kasus kekerasan fisik, seksual, ataupun verbal di dalam rumah tersebut, tak akan ada satupun orang di luar wilayah rumah itu yang akan datang menolong. Karena, sekali lagi, tak ada yang boleh mengintervensi. Sistem dan kultur Khafallah menganggap seorang TKI adalah budak, bukan pekerja. Yang mana tubuh dan segala yang tercakup di dalamnya dianggap milik majikan.

Jelas, ini melanggar HAM dan syariat Islam. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menjadi beringas, mendominasi dengan mutlak manusia lain, dan menzalimi satu sama lain. Kafalah adalah kultur masyarakat Arab Saudi yang beringas, kolot, dan merusak peradaban kemanusiaan. Bukan sama sekali bagian dari ajaran Islam.

Baca Juga :  Ironi Sugi Nur: Mantan Preman Dipuja, Ulama Beneran Dihina

Menolak sistem dan kultur kafalah harus kita lakukan sebagai warga Indonesia. Caranya dengan mendesak Pemerintah RI mengadukan Pemerintah Arab Saudi ke Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) soal Perjanjian HAM di Konvensi Wina yang sudah diratifikasi oleh Arab Saudi. Adanya sistem Khafallah yang masih diterapkan sudah menyalahi aturan kemanusiaan yang ada.

Terlebih dalam banyak kasus TKI kita yang dieksekusi, rata-rata hanya berupaya untuk membela diri memperjuangkan nasib dan harga diri hidupnya. Perlu diketahui, tak sedikit dari TKI kita yang mendapatkan perlakuan sewenang-wenang dari para majikannya. Seperti tidak dibayarkan haknya (gaji), sistem jam kerja diluar batasan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual, hingga berujung kematian.

Sebagai sesama bangsa Indonesia, adanya kasus ini tak boleh membuat kita berhenti pada tahapan prihatin semata. Kita harus mendorong pemerintah kita untuk membela dengan segala daya upaya agar TKI kita tidak meregang nyawa lagi dan lagi di negeri minyak sana.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here