Mengenal Perangai Virus dan Penangkalnya Menurut Pandangan Agama Islam

30
7815

BincangSyariah.Com – Tulisan ini akan menjelaskan berbagai perangai dan karakter virus secara medis dan bagaimana menangkal berbagai penyakit, termasuk yang disebabkan oleh virus, untuk menciptakan kesehatan zahir dan batin menurut tinjauan agama Islam berdasarkan Alquran dan Hadis. Penjelasan tentang virus dikutip dari laman www.alodokter.com. Sedangkan penjelasan dari sisi Agama Islam merupakan pandangan penulis.

Antara COVID-19, SARS, dan MERS

Meski disebabkan oleh kelompok virus yang sama, yaitu coronavirus, ada perbedaan di antara COVID-19, SARS, dan MERS. Tidak hanya masa inkubasi penyakitnya, perbedaan ketiga penyakit ini juga ada pada kecepatan penularan serta pengobatannya.

COVID-19, SARS, dan MERS merupakan penyakit infeksi virus pada saluran pernapasan yang bisa berakibat fatal. SARS (severe acute respiratory syndrome) pertama kali mewabah di Tiongkok pada tahun 2002, sementara MERS (Middle-East respiratory syndrome) pertama kali muncul di Timur Tengah pada tahun 2012. Pada akhir tahun 2019, muncul penyakit baru di Tiongkok yang dinamakan COVID-19 (Coronavirus Disease 2019). Penyakit ini telah menyebabkan banyak kematian di berbagai negara.

Dari sisi masa inkubasi, ada perbedaan antara COVID-19 dengan SARS dan MERS. Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan oleh kuman untuk berkembang biak di dalam tubuh seseorang hingga menimbulkan keluhan. Dengan kata lain, masa inkubasi adalah rentang waktu antara terjadinya infeksi dan munculnya gejala.

Meskipun virus penyebab COVID-19, SARS, dan MERS berasal dari keluarga virus yang sama, yaitu coronavirus, ketiga penyakit ini memiliki masa inkubasi yang berbeda. Masa inkubasi penyakit MERS adalah 2–14 hari (rata-rata 5 hari), dan masa inkubasi penyakit SARS adalah 1–14 hari (rata-rata 4-5 hari). Sementara masa inkubasi COVID-19 adalah 1–14 hari, dengan rata-rata 5 hari.

Dai sisi gejala dan penyebaran juga ada perbedaan. Pada derajat ringan ketiga penyakit ini dapat menyebabkan demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, lemas, sakit kepala, dan nyeri otot. Jika semakin berat, gejala ketiganya dapat menyerupai pneumonia, yaitu demam, batuk parah, kesulitan bernapas dan napas cepat.

Perbedaan besar di antara ketiga penyakit ini adalah COVID-19 jarang disertai keluhan pilek dan keluhan pencernaan, seperti buang air besar cair (menceret), mual, dan muntah. Penyebaran coronavirus dari hewan ke manusia sebenarnya sangat jarang, tapi hal inilah yang terjadi pada COVID-19, SARS, dan MERS.

Manusia dapat tertular coronavirus lewat kontak langsung dengan hewan yang terjangkit virus ini. Cara penyebaran ini disebut transmisi zoonosis. SARS diketahui ditularkan dari luwak ke manusia, sedangkan MERS ditularkan dari unta berpunuk. Sementara pada COVID-19, ada dugaan bahwa hewan yang pertama kali menularkan penyakit ini ke manusia adalah kelelawar.

Seseorang dapat terjangkit virus Corona jika ia menghirup percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita COVID-19 saat bersin atau batuk. Tidak hanya itu, penularan juga dapat terjadi jika seseorang memegang benda yang telah terkontaminasi percikan air liur penderita COVID-19 lalu memegang hidung atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

SARS dan COVID-19 diketahui lebih mudah menyebar dari manusia ke manusia daripada MERS. Dan jika dibandingkan dengan SARS, penularan COVID-19 dari manusia ke manusia lebih mudah terjadi dan lebih cepat.

Sejauh ini, angka kematian akibat COVID-19 tidak lebih tinggi dibandingkan SARS dan MERS. Angka kematian SARS mencapai 10%, sedangkan MERS mencapai 37%. Namun, penularan COVID-19 yang lebih cepat dibandingkan SARS dan MERS membuat jumlah penderita penyakit ini meningkat tajam dalam waktu singkat.

Baca Juga :  Hukum Menyambut Tahun Baru Hijriyah dengan Puasa

Dari sisi pengobatan, ketiga virus ini juga memiliki perbedaan. Sejauh ini, belum ada obat yang terbukti efektif dalam mengatasi COVID-19. Beberapa obat antivirus, seperti oseltamivir, lopinavir, dan ritonavir, sudah dicoba untuk diberikan kepada pasien COVID-19 sambil terus diteliti. Sedangkan pada SARS dan MERS, pemberian lopinavir, ritonavir, serta obat antivirus spektrum luas terbaru bernama remdesivir sudah terbukti efektif sebagai pengobatan.

Pada penderita infeksi virus Corona dengan gejala yang berat, di samping obat antivirus, mereka juga perlu mendapatkan terapi cairan (infus), oksigen, antibiotik, serta obat-obatan lainnya sesuai gejala yang muncul. Penderita COVID-19 juga perlu dirawat di rumah sakit agar kondisinya dapat dipantau dan tidak menularkan infeksi ke orang lain.

Pencegahan Penyakit

Kumur kumur listerin obat kumur ½ tutup botol pagi dan sore waktu mandi dan bisa juga dengan strepsils. Upaya pencegahan terhadap ketiga penyakit ini dapat dilakukan rutin dengan cara: mencuci tangan, menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin, serta memasak daging dan telur hingga matang sebelum dimakan. Selain itu, sebisa mungkin hindari kontak dengan orang yang sedang batuk dan demam.

Segera periksakan diri Anda ke dokter di fasilitas kesehatan terdekat, seperti klinik, Puskesmas, atau rumah sakit, apabila Anda mengalami gejala infeksi pernapasan, seperti: demam, batuk, bersin, pilek, atau nyeri tenggorokan, apalagi jika Anda sampai mengalami sesak napas.

Pemerintah memaksimalkan pengendalian virus corona dengan membatasi interaksi sosial. Kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah digencarkan. Presiden Joko Widodo mengatakan perlu bekerja, belajar dan beribadah di rumah untuk menekan penyebaran virus corona atau Covid-19.

Sampai saat ini, pasien yang terjangkit Covid-19 di Tanah Air dan di dunia semakin bertambah dan meluas. Virus yang pertama kali merebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada awal Desember 2019 itu telah menyebar ke lebih dari 151 negara. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi, wabah yang berjangkit serempak di mana-mana dan mencakup wilayah geografi yang luas.

Menurut WHO, virus corona sudah bisa menular dari orang ke orang melalui percikan cairan dari hidung atau mulut penderita yang batuk atau buang nafas. Percikan cairan ini bisa mengenai benda-benda di sekitar orang tersebut. Orang lain yang menyentuh benda itu kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut bisa tertular virus corona.

Mengingat vaksin dan obat untuk Covid-19 belum ditemukan, meminimalkan kontak langsung dan menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara utama untuk menghindari penularannya. Sangat penting berada lebih dari satu meter dari orang yang sedang sakit. Demikian penjelasan WHO di laman resminya.

Alasan itu pula yang menjadi salah satu pijakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam membuat sejumlah langkah. Kepala BNPB Doni Monardo, selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, menyatakan bahwa upaya pemerintah untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus tidak akan efektif tanpa dukungan masyarakat.

Pemerintah menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengendalikan penularan Covid-19, termasuk dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Juga mengikuti imbauan untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

Isolasi Diri: Pemotong Mata Rantai Virus Corona

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa pemerintah melacak orang-orang yang pernah berkontak langsung dengan pasien positif Covid-19 untuk mengendalikan penularan. Kendati demikian, tidak semua orang yang pernah berhubungan langsung dengan pasien Covid-19 menjalani isolasi di rumah sakit.

Baca Juga :  Konsisten Beribadah Saat Susah dan Senang

Rumah sakit memang akan kewalahan ketika harus mengisolasi semua orang yang punya riwayat kontak dengan penderita Covid-19. Selain itu, ada pula di antara orang yang pernah berkontak langsung dengan pasien menghendaki karantina mandiri selama 14 hari dengan pantauan petugas kesehatan. Lakukan self-isolate, gunakan masker yang benar, lakukan social distancing (jarak sosial), tidur sendiri dulu, tidak berbagi alat makan dan minum, segera cuci alat makan tersebut dengan sabun cuci.

Kita tahu virus ini bungkusnya sangat rapuh oleh detergen apa pun. Yurianto menyarankan warga mengikuti anjuran karantina mandiri karena ada penderita Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala sakit. Mereka tanpa sadar bisa menularkan virus kepada orang lain saat beraktivitas di luar rumah. Isolasi diri disarankan dilakukan selama 14 hari karena masa inkubasi virus corona tipe baru yang menyebabkan Covid-19 sekitar dua pekan.

Orang yang dianjurkan isolasi diri antara lain mereka yang demam atau batuk, atau pilek, atau mengalami gejala sakit pernafasan dan punya riwayat bepergian ke negara atau daerah penularan Covid-19. Atau berhubungan langsung dengan penderita Covid-19. Orang yang menjalani isolasi diri, menurut protokol Kementerian Kesehatan, antara lain harus tinggal di rumah, tidak pergi bekerja dan ke ruang publik, menggunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lain, dan menjaga jarak setidaknya satu meter dari anggota keluarga lain. Selain itu, ia mesti menggunakan masker, mengukur suhu tubuh secara berkala, menghindari pemakaian bersama alat makan dan mandi, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta berjemur di bawah sinar matahari di ruang terbuka.

Pemerintah belum mempertimbangkan untuk menjalankan isolasi wilayah atau lockdown untuk mengatasi penularan Covid-19. Pemerintah masih berusaha memaksimalkan upaya pengendalian penyakit tersebut dengan menerapkan pembatasan interaksi sosial langsung. Karenanya, kebijakan belajar, bekerja dan beribadah di rumah perlu kita gencarkan dengan tetap mengedepankan pelayanan untuk kebutuhan pokok, kesehatan dan layanan publik lainnya.

Di media sosial, orang-orang di berbagai belahan dunia sedang ramai membahas social distancing atau penerapan jarak sosial untuk mencegah penularan virus corona. Penerapan jarak sosial mencakup pengurangan interaksi langsung dengan orang lain selama berada di rumah, sekolah, tempat kerja, tempat umum, mau pun keramaian.

Menurut panduan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Australia, menjaga jarak sosial bisa dilakukan dengan tetap berada di rumah saat sakit, tidak berjabat tangan, dan sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun atau cairan pembersih. Selain itu menerapkan etika bersin dan batuk, mengurangi berbagi makanan di tempat kerja, serta membersihkan barang-barang yang sering disentuh menggunakan disinfektan.

Upaya lainnya adalah melakukan pertemuan melalui konferensi video atau telepon, menghindari pertemuan besar, serta sebisa mungkin melakukan pertemuan di tempat terbuka. Di luar itu, menghindari antrian panjang, menjaga jarak dengan orang setidaknya sekitar satu meter, dan menghindari keramaian. Upaya-upaya tersebut diharapkan bisa menghentikan atau setidaknya memperlambat laju penularan virus corona penyebab Covid-19.

Bagaimana pandangan Agama Islam berlandaskan Alquran dan Hadis

Bahwa, Allah-lah yang menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Lalu disempurnakan kejadian manusia ditiupkanNya Ruh, yang dicetak di dalam rahim ibu. Atas pertimbangan di atas, hendaklah seluruh Umat Islam berpegang teguh kepada usul kejadian di atas.

Seharusnya berpegang bukan dengan kepintaran. Sebab, kepintaran datang dari Ruh, disaat Allah menyempurnakan kejadian manusia dengan ditiupkannya Ruh, maka terpancarlah pedengaran, penglihatan, penciuman, perkataan melalui mata-telinga-hidung-mulut-perasaan dan juga proses berpikir pada otak.

Baca Juga :  Dr. H. Saefullah, Ketua PWNU Jakarta Wafat Akibat Covid-19

Orang tidur-orang mati, semua organ intak; ada otak, tapi tidak dapat berpikir; otak-organ tubuh lainnya, tidak dapat berfungsi, tidak dapat berbuat apa-apa, karena semua itu hanya sebuah alat. jadi, tanpa Ruh, manusia tidak dapat berbuat apa-apa.

Berjalan pakai Ruh, berpikir pakai Ruh, berkata-melihat-mendengar, mencium-mendengar pakai Ruh. Apa yang mesti kita disombongkan? Begitu Ruh diambil oleh yang punya (Tuhan), maka berakhirlah segala-galanya.

Bagaimana cara Tuhan mendidik Ruh? Banyak-banyaklah ingat di tempat bertauhid kepada Allah (Baitullah), karena Allah telah memerintahkan kepada seluruh Umat Islam: “Ingatlah Allah dalam keadaan berdiri-duduk dan berbaring.” Bila dingat dekat, disebut jauh.

Kenapa demikian? Sebab, Proses berpikir melalui akal manusia sangat terbatas kemampuannya, justru proses berpikir berasal dari Ruh yang ditiupkan Allah kepada setiap manusia. Alangkah sangat lebih baik agar semua umat Islam dapat merenungkan: agar sepenuhnya berpegang kepada yang menciptakan (Tuhan) manusia itu sendiri.

Sebab, mulai dari awal kejadian sampai kepada disempurnakannya kejadian manusia yang berjasa dalam proses tersebut adalah Tuhan, bukan kepintaran. Seluruh Umat Islam sudah diberitahu, telah mengetahui dan mengerti; hanya ada satu tempat ber-hakikat yang dapat menjamin keamanan, ketentraman, kedamaian zahir batin teristimewa kepada orang yang beriman dan bertakwa, termasuk perlindungan dari virus.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita kaum umat Islam bersusah hati gelisah, galau, mengingat kita telah diberitahu oleh Tuhan; tempat keselamatan Ruh yang dikenal dengan Maqam Tauhid. Tempat yang diharamkan Allah api neraka menjilatnya, diharamkan iblis menggodanya, tentu mulia orang di dalamnya; itulah Baitullah.

Maka dari itu yang dapat menyelamatkan semua ini (Zahir Batin); tidak ada jalan lain kecuali: hanya ingat, Shalat dan Shalat Lima Waktu tidak boleh ditinggalkan.

Ajal munusia tidak ada yang dapat menangguhkan. Firman Tuhan dalam QS(7)34: “Dan tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkan-nya barang sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya.”

Firman Tuhan dalam QS(4)78: “Di mana saja kamu berada, niscaya maut akan menjemput kamu walaupun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka berkata, ‘ini dari sisi Allah’, dan jika mereka ditimpa suatu bencana, mereka berkata, Ini dari Engkau. Katakanlah, ‘Semuanya dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang (munafik) hampir-hampir tidak dapat memahami perkataan sedikit pun?”

Firman Tuhan dalam  QS(15)5: “Tidak ada satu umat yang dapat mendahului ajalya dan tidak dapat mengundurkannya.” firman tuhan dalam QS(26)80-84: “Dan apabila aku sakit. Engkau yang menyembuhkanku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku, dan yang amat kuinginkan, akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. (Ibrahim berdo’a): ‘Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tutur (contoh teladan) yang baik, bagi orang-orang kemudian.”

Firman Tuhan dalam QS(62)9-10: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat, maka bertebaranlah di permukaan bumi mencari karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.”

Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian yang baik-baik.

30 KOMENTAR

  1. Aalhamdulilla semogaAllahdan rosulny a mengamppuni kesahan umatny di muka bumi ini yarlbi.berila kami bimbingan dan petunjuk untuk mendapat ridomu ya Allah.mohon doakan kami ya rusul laula lindungi kami dari musiba yang ada di muka bumi ini Amiin yarobal alamin.

  2. Aaamiiiin ya allah kami telah di beri pencerahan diri semoga allah dan rosul slaluuuu melindungi kluarga kami dari kemodorotan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here