Mengenal Lebih Dalam Makna Sunah (2-Habis)

0
512

BincangSyariah.Com – Terkait dengan jenis sunnah gair tasyrî’ (sunnah non-tasyrî’iyyah), Syaikh Muḥammad Syaltût dan Yûsuf al-Qarâḍawî mendefinisikannya sebagai sunah yang tidak ada tuntutan untuk berbuat atau meninggalkan; sunah yang tidak ada pembebanan untuk diikuti dan diamalkan. Dengan kata lain, sunnah non-tasyrî’iyyah, sebagaimana disimpulkan oleh Tarmizi M. Jakfar dalam bukunya, Otoritas Sunnah non-Tasyrî’iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi (2011), merupakan sunah yang tidak diwajibkan, tidak disunahkan, dan tidak pula dimubahkan secara syariat. Apabila dalam bentuk perbuatan, ia sekedar menunjukkan kebolehan rasional (al-ibâḥah al-’aqliyyah), bukan kebolehan secara syariat (al-ibâḥah asy-syar’iyyah), sementara apabila berbentuk perintah dan larangan hanya sebatas anjuran (al-irsyâd).

Al-Qaraḍâwî menyebutkan dalam as-Sunnah Maṣdaran li al-Ma’rifah wa al-Ḥaḍârah (1997) bahwa keberadaan sunnah non-tasyrî’iyyah ini didasarkan kepada beberapa hadis seperti: “Aku hanya seorang manusia, apabila aku perintahkan kalian mengenai urusan agama, maka pegangilah dengan teguh perintah itu, tetapi apabila aku perintahkan kalian berdasarkan pendapatku, maka sesungguhnya aku hanyalah manusia, (HR. Muslim)”; “sesungguhnya aku hanya berpendapat dengan dugaan atau prasangkaku, maka janganlah kalian mengambil dariku terhadap sesuatu yang dihasilkan dari dugaanku semata. Namun, apabila aku menceritakan sesuatu kepada kalian yang berkaitan dengan wahyu Allah, maka ambillah. Karena sesungguhnya aku tidak berbohong dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perintah atau larangan Allah (wahyu), (HR. Muslim).”; dan sesungguhnya kalian lebih tau terhadap urusan atau persoalan keduniaan kalian masing-masing.”

Sunnah non-tasyrî’iyyah ini, menurut Yûsuf al-Qarâḍawî, sebagaimana dijelaskan oleh Tarmizi M. Jakfar, meliputi: (1) perbuatan dan perkataan Nabi saw. yang berdasarkan keahlian eksperimental dan aspek-aspek tekhnisknya, seperti yang terjadi dalam kasus pertanian, perang, dan pengobatan; (2) perbuatan dan perkataan Nabi saw. sebagai kepala negara dan hakim; (3) perintah dan larangan Nabi saw. yang bersifat anjuran; (4) perbuatan murni Nabi saw.; dan (5) perbuatan Nabi saw. sebagai manusia.

Baca Juga :  Ini Sebab Surah At-Taubah Tidak Didahului Basmalah

Sementara Syaltût, sebagaimana disebutkan oleh Yûsuf al-Qarâḍawî dalam kitabnya, Kaifa Nata’âmal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah (1993), memasukkan beberapa unsur sebagai bagian dari sunnah non-tasyrî’iyyah, seperti: (1) perbuatan dan perkataan Nabi saw. yang berkaitan dengan unsur kemanusian an sich, seperti makan, minum, berjalan, tidur, dan lainnnya; (2) perbuatan dan perkataan Nabi saw. yang berkaitan dengan eksperimental dan adat-istiadat, baik secara individu maupun sosial, seperti dalam hal pengobatan dan busana; (3) perbutan dan perkataan Nabi saw. yang berkaitan dengan strategi tertentu, seperti membagi barisan para tentara dalam peperangan, di mana ketiga jenis perbuatan, perkataan, dan ketetapan Nabi saw. ini tidak berkaitan dengan ajaran syariat yang mewajibkan umat Islam melaksanakan atau meninggalkannya. Tidak lain dan tidak bukan karena ia bukan syariat dan bukan juga sumber syariat Islam.

Oleh karena itu, al-Qaraḍâwî mengingatkan umat Islam tentang pentingnya memahami sunah Nabi saw. dengan mengetahui sebab (asbâb al-wurûd), konteks, dan tujuan dari sunahtersebut. Hal ini disadari karena sunahtidak lahir dan hadir di ruang yang kosong, tetapi ia hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki zaman dan konteks sosial tertentu, di mana hal itu bisa jauh berbeda dengan situasi dan kondisi umat Islam sekarang.

Terkadang satu sunah ditetapkan berdasarkan sebab atau alasan (‘illah) tertentu, di mana ketentuan hukum yang terdapat dalam sunahtersebut bisa hilang sesuai dengan hilangnya ‘illah dan bisa tetap sesuai dengan tetapnya ‘illah. Terkadang satu sunahditetapkan berdasarkan situasi dan kondisi serta tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai saat itu.

Salah satu sunah Nabi saw. yang bisa dipahami melalui konteks ‘illah (alasan) dan tujuan (maqâṣid) adalah sunah yang berkaitan dengan pelarangan perempuan keluar rumah (bepergian) tanpa didampingi oleh mahramnya. Sebagaimana dalam sebuah hadis,“seorang perempuan tidak boleh bepergian kecuali dia bersama mahram yang mendampinya (HR. Bukhârî-Muslim)”. Alasan atau ‘illah larangan yang terdapat dalam sunah tersebut, menurut al-Qaraḍâwî, karena dikhawatirkan (takut) terjadi gangguan sosial ataupun kekerasan terhadap perempuan apabila pergi seorang diri — mengingat dulu kendaraan yang digunakan masih terbatas kepada binatang yang hanya bisa menampung satu orang saja.

Baca Juga :  Hukum Menjaga Rumah Ibadah non-Muslim

Berbeda dengan zaman sekarang, di mana orang-orang yang bepergian bisa berjumlah lebih dari puluhan dalam satu kendaraan umum yang bisa menampung para penumpang tersebut. Sehingga tidak ada kekhawatiran (takut) lagi adanya gangguan sosial ataupun kekerasan terhadap perempuan, meskipun dia bepergian seorang diri—apalagi pengawasan dan pengamanan terhadap perempuan menjadi salah satu prioritas negara melalui aparaturnya, seperti polisi dan lain sebagainya.

Dengan demikian, secara syariat seorang perempuan boleh pergi seorang diri tanpa harus ditemani oleh mahramnya dan dia tidak melanggar ketentuan sunahNabi saw. tadi. Tidak lain karena perbedaan dan perubahan ‘illah sangat berpengaruh terhadap perubahan dan ketetapan sebuah hukum.

Dari beberapa penjelasan di atas, hendaknya kita tidak asal mencomot dan menelan mentah-mentah hadis atau sunah Nabi saw. serta langsung menjadikannya sebagai dalil tertentu yang diberlakukan secara umum sebagai bagian dari syariat Islam, sebaimana sering dijumpai, terutama dalam program-program televisi. Sunah Nabi saw. harus dipahami secara dalam dan dinalar sekritis mungkin untuk mengetahui status dan kedudukannya secara pasti. Apakah ia sahih atau tidak? Kalau pun sahih, apakah ia berkaitan dengan syariat atau tidak? Kalau pun berkaitan dengan syariat, apakah ia berlaku secara umum atau tidak?

Selain itu, menurut al-Qaraḍâwî, sunah Nabi saw. harus dipahami sebab-sebabnya (asbâbuhâ), penggunaan atau pemakaiannya (malâbisâtuhâ), dan tujuan-tujuannya (maqâṣiduhâ). Dari sini, minimal kita bisa mengajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri ketika berhadapan dengan sunahNabi saw., yaitu: apa yang menyebabkan sunahini dikeluarkan? Digunakan untuk apadan dalam konteks apa? serta apa tujuannya? Sehingga kita lebih kritis, terbuka, dan objektif dalam memahami sunah Nabi saw. serta tidak langsung mengamini dan memakainya secara buta. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here