Mengenal Lebih Dalam Makna Sunah (1)

0
695

BincangSyariah.Com – Dalam diskursus ushul fikih, sunah (hadis ) merupakan sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. Pun demikian, ada beberapa kriteria sunah yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum Islam menurut para ulama uṣûl (ushul fikih). Dengan kata lain, tidak semua sunah (hadis) Nabi saw., baik yang berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan dapat dijadikan hujah atau dalil syariat. Terkait dengan perbuatan (a’mâl) Nabi saw., Abu Zahrah membagi dalam kitabnya, Uṣûl al-Fiqh, menjadi tiga bagian: pertama, perbuatan Nabi saw. yang berkaitan dengan syariat seperti pelaksanaan (tata cara) salat, puasa, haji, muzâra’ah (akad kerja sama antara pemilik tanah dengan penggarap), dan utang-piutang. Perbuatan-perbuatan Nabi saw. ini selain sebagai penjelas keumuman ajaran al-Qur’an, juga berfungsi sebagai ketetapan terhadap kebolehan sesuatu untuk dilakukan. Oleh karena itu, perbuatan jenis pertama ini tidak hanya berlaku kepada Nabi saw. pribadi, tetapi berlaku umum kepada semua umat Islam, yaitu harus diikuti oleh mereka sebagai bagian ajaran syariat. Kedua, perbuatan Nabi saw. yang khusus berlaku kepada Nabi saw. sendiri dan tidak diperuntukkan kepada lainnya, seperti menikah melebihi empat istri. Ketiga, perbuatan Nabi saw. yang berkaitan dengan kemanusiaan dan kebiasaan(adat)nya sebagai bangsa Arab, seperti tata cara berpakaian, makan, dan lain sebagainya.

Setelah itu, mereka masih memperdebatkan, apakah perbuatan Nabi saw. yang berkaitan dengan sifat kemanusiaan dan kebiasaan(adat)-nya sebagai bangsa Arab merupakan syariat yang harus diikuti atau hanya adat semata yang tidak wajib diikuti? Hal ini seperti memelihara jenggot sekedar sekepal tangan, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw.,“cukurlah kumis kalian dan biarkan (janga dicukur) jenggotnya.” Mayoritas ulama menyatakan bahwa memelihara jenggot merupakan ajaran syariat yang sunah diikuti. Mereka berpendapat bahwa hadis di atas merupakan dalil kesunahan memelihara jenggot. Sehingga memelihara jenggot bukan merupakan adat-istiadat Nabi saw. sebagai bangsa Arab, tetapi merupakan ajaran syariat yang berlaku umum kepada semua umat Islam.

Baca Juga :  Jangan Mencela Ayam Jantan !, Ini Keutamaannya Menurut Nabi

Sementara beberapa ulama lain berpendapat bahwa memelihara jenggot bukan merupakan bagian ajaran syariat Islam, tetapi ia lebih kepada persoalan adat (kebiasaan) bangsa Arab. Tidak lain karena perintah Nabi saw. untuk memelihara jenggot tersebut, sebagaimana disebutkan hadis di atas, memiliki alasan (‘illah) tertentu, yaitu agar umat Islam tidak menyerupai orang-orang Yahudi dan ‘ajami (orang-orang non Arab) yang memiliki kebiasaan memelihara kumis dan mencukur jenggotnya. Oleh karena itu, hadis Nabi saw. tersebut boleh diikuti dan boleh tidak diikuti, karena ia tidak berkaitan dengan ajaran syariat.

Dalam perkembangannya, Yûsuf al-Qaraḍâwî menjelaskan dalam kitabnya, as-Sunnah Maṣdaran li al-Ma’rifah wa al-Ḥaḍârah (1997) beberapa macam sunah menurut para ulama uṣûl, seperti Ibn Qutaibah yang membagi sunah menjadi tiga bagian: (1) sunah yang didapatkan dari malaikat Jibril (wahyu); (2) sunah yang diperbolehkan oleh Allah kepada Nabi saw. untuk melegalkannya (menjadikannya sebagai sunah), menyuruh orang lain (umat Islam) untuk mengamalkan atau menggunakan sunah tersebut, dan mengecualikan penggunaan tersebut kepada orang tertentu karena ada alasan dan uzur; dan (3) sunah yang berfungsi sebagai pendidikan. Oleh karenanya, apabila umat Islam mengamalkannya merupakan sebuah keutamaan, tetapi apabila meninggalkannya, maka tidak ada dosa bagi mereka;

al-Qarâfî yang membagi sunah Nabi saw. sesuai dengan kedudukan dan peran beliau waktu itu. Mengingat Nabi saw. merangkap beberapa kedudukan, seperti rasul, pemimpin agung, hakim, dan mufti. Oleh karena itu, umat Islam harus bisa membedakan sunah Nabi saw. yang kedudukannya sebagai keputusan (sebagai hakim), fatwa (sebagai mufti), risalah (sebagai rasul), dan kebijakan (sebagai pemimpin). Apabila sunah Nabi saw. tersebut berdudukan sebagai pesan risalah, maka ia bersifat umum dan wajib diikuti sampai hari kiamat. Namun, apabila berkaitan dengan keputusan, fatwa, ataupun kebijakan, maka ia hanya bersifat khusus.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Siapakah Malaikat itu?

Tokoh lain yang disebutkan oleh al-Qaraḍâwî adalah Syah Wali Allah ad-Dahlawî yang membagi sunah ke dalam dua macam, yaitu: sunah yang bersifat risalah atau syariat, seperti pengetahuan tentang alam akhirat, keajaiban “kerajaan” Tuhan, dan ibadah dan sunah yang tidak bersifat risalah atau non syariat, seperti pengobatan, dan perbuatan dan perkataan Nabi saw. yang berkaitan dengan adat-istiadat.

Hal senada juga disampaikan oleh Sayyid Rasyîd Riḍâ, yaitu bahwa sunah Nabi saw. wajib diikuti apabila berkaitan dengan persoalan ibadah, larangan untuk berbuat kerusakan, dan lainnya.Sementara apabila sunah tersebut berkaitan dengan adat, maka ia tidak wajib diikuti;

Muḥammad Syaltût yang membagi sunah ke dalam dua macam: sunnah tasyrî’ (sunah syariat) dan sunnah gair tasyrî’ (sunah non syariat). Lebih jelas Syaltût menjelaskan bahwa sunnah tasyrî’iyyah (sunah yang berkaitan dengan syariat Islam) terdiri dua macam, yaitu: sunnah tasyrî’iyyah yang bersifat umum (‘âm) dan sunnah tasyrî’iyyah yang bersifat khusus (khâṣ).

Termasuk ke dalam sunnah tasyrî’iyyah yang bersifat umum  dan harus diikuti oleh seluruh umat Islam sampai hari kiamat adalah sunah yang berkaitan dengan risalah syariat sesuai kapasitas Nabi saw. sebagai Rasul (utusan), seperti menjelaskan tentang keumuman ayat-ayat al-Qur’an, persoalan ibadah, halal-haram, akidah, akhlak dan lainnya.

Sementara sunah yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan Nabi saw. sebagai pemimpin negara bagi kaum Muslim, seperti mengutus para tentara berperang, mengatur baitulmal untuk kepentingan publik, dan kebijakan-kebijakan lain yang berkaitan dengan kepentingan (kemaslahatan) masyarakat waktu itu dan sunah yang berkaitan keputusan-keputusan Nabi saw. sebagai hakim dan keputusan yang berkaitan dengan dunia kehakiman, di mana kedua jenis sunah ini tidak termasuk ke dalam sunnah tasyrî’iyyah yang bersifat umum, tapi bersifat khusus pada masa itu.

Baca Juga :  Ramadan dan Keistiqamahan Nabi dalam Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Tidak jauh berbeda dari pendapat sebelumnya, Muḥammad Syaḥrûr dalam kitabnya, as-Sunnah ar-Rasûliyyah wa as-Sunnah an-Nabawiyyah: Ru’yah Jadîdah, (2012), membagi Sunnah ke dalam dua macam, yaitu: as-sunnah ar-rasûliyyah (sunah kerasulan) dan as-sunnah an-nabawiyyah (sunah kenabian). Hal ini berkaitan kedudukan Muhammad saw., baik sebagai laki-laki biasa (maqâm muḥammad ar-rajul), nabi (maqâm muḥammad an-nabî), maupun rasul (maqâm muḥammad ar-rasûl).

Disebutkan bahwa as-sunnah ar-rasûliyyah merupakan wahyu Allah yang diturunkan ke dalam hati Nabi saw. sebagai syariat Muhammad kepada umatnya. Dalam hal ini, beliau memiliki wewenang sebagai teladan, ditaati, panutan, dan diikuti.

Sementara as-sunnah an-nabawiyyah merupakan kisah-kisah Nabi saw. yang berada dalam al-Qur’an yang wajib diyakini dan diambil iktibar dan hasil ijtihad Nabi saw. seperti dalam persoalan kenegaraan dan kehakiman, di mana hal ini tidak wajib diikuti. Tidak lain, karena kewajiban taat kepada Nabi saw. hanya berkaitan dengan statusnya sebagai Rasul, bukan lainnya. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here