Mengenal Konsep Sufistik Huwa dan La Huwa Ibnu Arabi

1
434

BincangSyariah.Com – Ibnu Arabi dalam karya-karyanya selalu saja menawarkan kepada kita tentang pandangan-pandangan unik dalam dunia sufistik. Dalam Fushush al-Hikam misalnya, kita akan dihentakkan oleh puisi-puisi beliau yang controversial jika dipahami secara sekilas. Ibnu Arabi mengklaim bahwa dia telah menyembah Tuhan; dia beribadah kepada Tuhan karena terlebih dahulu Tuhan menyembahnya (abadani rabbi faabuduhu). Ibnu Arabi juga mengatakan bahwa dia harus memuju Tuhan, mengucapkan al-Hamdulillah, sebab dia sendiri terlebih dahulu dipuji oleh Tuhan.

Kata-kata seperti ini tentu mudah sekali akan menimbulkan kesalahpahaman orang karena tidak semua orang melihatnya sebagai metafor. Kita bisa saja memahami kata-kata Ibnu Arabi ini sebagai sebuah sikap keangkuhan dan kesombongan dimana sampai Tuhan harus lebih dulu tunduk dan menyembah kita sebelum kita menyembahnya. Pandangan ini jelas sangat menyulut emosi ulama fikih yang fokus keilmuannya hanya pada aspek lahiriah ritual.

Di antara ulama yang tersulut emosinya ialah Ibnu Taymiyyah dalam Majmu al-Fatawa-nya. Kendati George Makdisi dalam Ibnu Taymiyyah: a Sufi of The Qadiriyya Order membuktikan bahwa Ibnu Taymiyyah merupakan sosok sufi sejati pengikut Tariqat Qadiriyyah melalui gurunya yang bernama Ibnu Qudamah dari kalangan madzhab Hanbali, namun dalam urusan igauan-igauan sufistik yang bernada melecehkan Tuhan, Ibnu Taymiyyah cepat tersulut emosi dan nalar intelektualnya.
Terlepas dari kritikan-kritikan Ibnu Taymiyyah terhadapnya, Ibnu Arabi tetap di kalangan para sufi dianggap sebagai as-Syaikh al-Akbar, guru terbesar dalam jagad dunia spiritual. Bahkan mungkin bisa diasumsikan bahwa beliau dijuluki sebagai Muhyiddin Penghidup kembali ilmu agama bisa dikaitkan dengan kitab Ihya Ulmudin karya imam al-Ghazali. Nama kitab Ihya Ulumudin karya al-Ghazali ini dan julukan Ibnu Arabi sebagai Muhyiddin menyiratkan bahwa usaha yang dilakukannya dan proyek teoretisasi tasawwuf yang diancangkannya tidak lain ialah mengembalikan dan menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama tersebut yang tidak hanya mengurusi soal lahir namun juga soal bathin kita.

Baca Juga :  Di Masa Rasul, Masyarakat Tidak Boleh Dibunuh saat Perang Berkecamuk

Salah satu tema penting dalam ilmu agama yang ingin dihidupkan kembali oleh Ibnu Arabi dan telah banyak dilupakan oleh ulama-ulama lainnya ialah tawhid. Ada sebuah ayat yang kira-kira terjemahannya demikian: ..ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah..(QS. 2: 115). Bagi Ibnu Arabi inilah yang disebut tawhid. Artinya, tidak ada sesuatu pun di dunia ini selain Allah. Ini jelas merupakan pandangan realitas yang cukup unik. Pandangan Ibnu Arabi ini menghentakkan kesadaran kita bahwa saat ini kemanapun kita memalingkan wajah kita, yang kita lihat hanya bermacam-macam makhluk. Ke mana saja kita memalingkan wajah, yang kita lihat adalah wajah makhluk. Kita tidak melihat wajah Allah. Lantas kalau begitu, apakah ayat al-Quran ini salah? Tentu tidak, kata Ibnu Arabi. Hal demikian karena pandangan kita saja yang tertutup. Akibatnya kita tidak bisa melihat wajah Tuhan.

Kemudian Ibnu Arabi mengajukan konsep Huwa dan La Huwa. Jika kita merujuk kepada pendapat Ibnu Arabi, kita barangkali masih hidup di alam La Huwa (selain Dia). Ini artinya kita tidak hidup di alam Huwa (Dia). Oleh karena itu, kemanapun kita memalingkan wajah, yang kita lihat adalah selain Allah. Kita tidak melihat Allah (Huwa). Inilah mungkin yang membuat sebagian kalangan berpandangan bahwa sufi itu gila. Para sufi, kata Ibnu Arabi, sampai pada satu keadaan ketika mereka memandang realitas ini semuanya melebur. Yang ada hanyalah Allah, sementara itu selain Allah itu hilang dan sirna. Dalam konteks tasawwuf, para sufi mengklaim melebur bahwa seorang sufi ada dalam ketiadaannya. Seorang sufi menjadi tiada dalam adanya. Hal demikian mengimplikasikan bahwa seorang sufi sampai pada suatu keadaan ketika ia meniadakan segala-galanya, sehingga yang ada hanyalah Huwa (Allah).

Baca Juga :  Golput dalam Syariat Islam

Ketika menjelaskan pengalaman di alam Huwa kepada orang yang ada di alam La Huwa, Ibnu Arabi kemudian dianggap kafir karena sulit dipahami. Menurut Ibnu Arabi, kalau kita berada di alam Huwa, kemanapun kita memalingkan wajah, yang ada hanyalah Dia. Kita melihat pepohonan tetapi yang kita lihat hanyalah Dia. Kalau Dia ini Allah, inilah yang menjadi persoalan. Kalau kita melihat binatang, kita tidak melihat binatang, tetapi yang kita lihat adalah Allah. Kalau kita melihat diri kita sendiri, yang kita lihat juga hanya Allah.

Di sinilah kemudian muncul pandangan yang disebut para ahli sebagai wahdat al-wujud-nya Ibnu Arabi yang dalam tradisi kesarjanaan Barat sama konsepnya dengan pantheisme atau monisme. Sejauh penelusuran terhadap karya-karyanya, Ibnu Arabi sebenarnya tidak memiliki pandangan yang pantheis atau monis ala Barat ini. Tidak. Ibnu Arabi tidak sedang bicara mengenai kesatuan wujudnya dengan Tuhan. Yang Ibnu Arabi tegaskan ialah bahwa ke manapun ia memalingkan wajah, di situ ada Allah. Inilah yang dalam konsep sufi dinamakan dengan tahap wahdat as-syuhud atau wahdat al-wujud yang bukan dalam pengertian kesarjanaan Barat yang menerjemahkannya sebagai pantheisme. Jelas ini kekeliruan yang nyata.

Simpulnya, penamaan Ibnu Arabi sebagai Muhyiddin penghidup ilmu agama tentu memiliki kaitan erat sekali dengan proyek al-Ghazali melalui karyanya yang terkenal Ihya Ulumudin menginat bahwa Ibnu Arabi lahir setengah abad setelah al-Ghazali wafat.

Bahkan pandangan tentang wahdat as-syuhud yang ia tulis dalam al-Futuhat al-Makkiyahnya ini kemungkinan juga terinspirasi oleh al-Ghazali dari kitab-kitabnya yang lain yang mengandung pengaruh ajaran neo-platonisme dan hermes.

Namun tentu, neo-platonisme al-Ghazali dan Ibnu Arabi ialah neo-platonisme yang sudah mengalami perubahan di sana-sini yang berbeda betul dari sebelumnya yang belum bercampur dengan konsep-konsep Islam. Namun yang perlu ditekankan juga, entah al-Ghazali ataupun Ibnu Arabi, kedua-duanya banyak menimba inspirasinya dari filsafat kebatinan Ibnu Sina dalam merumuskan pandangan-pandangan sufistiknya. Allahu Alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.