Mengenal Istilah Talak Sunnah dan Bid’ah

0
1099

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, talak atau bercerai merupakan perkara yang diperbolehkan namun dibenci oleh Allah. Talak sebisa mungkin dihindari oleh pasangan suami istri kecuali memang dalam keadaan terpaksa dan tidak ada jalan lain. Ini disebabkan karena talak bukan hanya merusak hubungan ikatan pernikahan, namun juga terkadang merusak hubungan persaudaraan antara dua keluarga.

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa secara umum, talak dibagi dua. Pertama, adalah talak sunnah atau talak yang diperbolehkan. Kedua, talak bid’ah atau talak yang diharamkan. (Baca: Enam Keadaan Istri Boleh Meminta Cerai Kepada Suami)

Talak disebut sunnah atau diperbolehkan, jika suami menjatuhkan talak pada istrinya ketika istrinya dalam keadaan suci dan belum digauli. Sebagian ulama menambahkan, disebut talak sunnah juga jika suami menjatuhkan talak ketika istrinya dalam keadaan hamil. (Baca: Ancaman Nabi Muhammad pada Istri yang Minta Cerai karena Hal Sepele)

Sementara talak disebut bid’ah atau diharamkan, jika suami menjatuhkan talak pada istrinya ketika istrinya dalam keadaan haid, atau nifas, atau menjatuhkan talak ketika istrinya dalam keadaan suci namun sudah pernah digauli dalam masa suci tersebut.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Taqrib berikut;

والنساء فيه أي الطلاق ضربان ضرب في طلاقهن سنة وبدعة وهن ذوات الحيض وأراد المصنف بالسنة الطلاق الجائز، وبالبدعة الطلاق الحرام فالسنة أن يوقع الزوج الطلاق في طهر غير مجامع فيه. والبدعة أن يوقع الزوج الطلاق في الحيض أو في طهر جامعها فيه

Perempuan dalam masalah talak dibagi dua macam. Satu macam menjatuhkan talak pada mereka disebut sunnah, dan satu macam lagi disebut bid’ah. Maksud mushannif dengan sunnah di sini adalah talak yang diperbolehkan, sementara maksud bid’ah adalah talak yang diharamkan. Talak sunnah adalah suami menjatuhkan talak pada istrinya ketika dalam keadaan suci dan belum digauli. Sementara talak bid’ah adalah suami menjatuhkan talak pada istrinya dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci namun pernah digauli.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah juga disebutkan sebagai berikut;

السنة في طلاق المرأة ان يكون في طهر لم يأتها فيه زوجها او اثناء الحمل واما طلاقها اثناء الحيض او في طهر اصابها فيه فأنه طلاق بدعي

Talak sunnah adalah menalak istri dalam keadaan suci yang belum digauli oleh suaminya, atau menalak dalam keadaan sedang hamil. Adapun menalak istri dalam keadaan sedang haid atau dalam keadaan suci namun suaminya pernah menggaulinya, maka hal itu disebut talak bid’ah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here