Mengenal Istilah Tafwidh, Perpindahan Hak Talak pada Istri

0
2668

BincangSyariah.Com – Talak adalah melepaskan ikatan pernikahan dengan lafadz tertentu. Talak memang halal hukumnya namun ia merupakan perkara yang tidak disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW:

ما احل الله شيئا أبغض اليه من الطلاق – اخرجه ابو داود

Sesuatu yang halal bagi Allah tapi dibenci ialah talak.

Dalam fikih terkait perceraian, ada istilah khulu’ yang bermakna memperbolehkan istri menggugat cerai sang suami dengan membayar harta tertentu dan ketentuan tertentu. Selain itu, ada juga istilah tafwidh yang menyerahkan hak talak kepada istri. Dalam fikih pernikahan pada bab talak ada yang disebut al-Inabah fii at-Tholaq, yaitu sosok pengganti dalam melakukan talak. Dalam hal ini bisa dengan perwakilan melalui orang lain ataupun menyerahkan hak talak kepada istri. Kali ini penulis akan menjelaskan tentang penyerahan talak kepada istri yang disebut dengan tafwidh.

Bagaimana Islam mengatur Tafwidh ini? Apakah hak talak akhirnya sepenuhnya dimiliki sang istri jika sang suami sudah mengatakan, “talaklah dirimu dengan dirimu sendiri!”

Bagaimanakah ketentuannya?

Terdapat dua pendapat dalam hal ini:

Pertama, sang istri memiliki hak untuk menalak diri sendiri. Setelah itu, hak talak tersebut berada pada dirinya selamanya, tanpa terikat waktu dan tempat sampai suami merusak hak kepemilikan talak itu. Bentuknya dengan perkataan yang artinya merujuknya (mengajak kembali) atau dengan perbuatan yaitu menyetubuhinya. Pendapat ini yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur dan Ibnu Mundzir.

Pendapat pertama berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Ia berkata “Rasulullah meminta kami untuk disilakan memilih Allah dan RasulNya maka kamipun memilih Allah dan RasulNya” (Fathul Bari, j. 9 h. 280)

Juga pada peristiwa saat Rasulullah mempersilakan istri-istri nya untuk memilih lantas meminta Aisyah untuk berdiskusi dengan Abu Bakar perihal tersebut. Artinya ini menunjukkan bahwa penyerahan hak talak tidak terikat dengan waktu.

Sedangkan bagi yang berpegang pada pendapat pertama mengemukakan bahwa tafwidh ini seperti tawkil (mewakilkan) talak yang tidak terikat waktu dan tempat.

Kedua, hak talak yang jatuh pada istri tersebut terikat waktu dan tempat. Artinya keputusan talak terjadi sebelum suami dan istri berpisah. Pendapat ini berdasarkan riwayat Aisyah Ra. bahwa Umar dan Ustman radhiyallahu ‘anhuma telah menetapkan bahwa suami yang mempersilakan istrinya untuk menjatuhkan talak harus terjadi saat keduanya belum berpisah. Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, Ibnu Ma’ud dan Jabir Radhiyallahu anhum,

“tafwidh berlaku selama istri berada di tempat tersebut.” artinya masih bersama suami di tempat yang sama. Dan belum diketahui ada sahabat yang menentang ketetapan tersebut.

Pendapat yang unggul adalah pendapat yang kedua yaitu hak talak yang diserahkan pada istri harus saat keduanya belum terpisah dan harus ditetapkan saat itu juga oleh sang istri. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here