Mengenal Istilah Kisas dan Ketentuannya

1
2849

BincangSyariah.Com – Kisas adalah sebuah istilah hukum dalam Islam yang maknanya dekat dengan pernyataan “hutang nyawa dibayar nyawa”. Namun sebenarnya Kisas dan ketentuannya dalam islam tidak segampang istilah itu. Banyak peraturan dan tata cara yang harus dipenuhi sebelum menjatuhi hukuman kisas kepada seseorang.

Secara definitif, Kisas dimaknai sebagai:

معنى القصاص شرعاً: هو أن يتلقى المجرم عقابه بمثل ما فعل، فيقتل القاتل، وهكذا

Artinya: “Makna kisas secara syara’ ialah pembalasan bagi pelaku kejahatan dengan balasan sesuai dengan apa yang telah ia perbuat, maka dalam hal ini pembunuh akan dihukum bunuh, dan seterusnya”.

Dalam praktiknya, tidak semua tindak kriminal dihukum dengan kisas, atau tidak semua pembunuhan dibalas dengan pembunuhan. Sayyid al-Alamah Ahmad bin Umar asy-Syathiri al-Husaini dalam kitab Al-Yaqut al-Nafis (Beirut: Resalah, 2009), hal. 184 menjelaskan bahwa ada beberapa persyaratan yang mesti ada dalam Kisas ini, yakni:

يجب بالعمد القود بخمسة شروط : 1- أن يكون الجاني بالغاً . 2- و أن يكون عاقلاً . 3- و أن يكون والداً للمجني عليه . 4- و أن لا يكون المجني عليه أنقص من الجاني . 5- و أن يكون معصوماً .

Artinya: “ Pada pidana yang dilakukan secara sengaja, Kisas wajib dengan lima syarat, 1. Pelaku sudah baligh. 2. Pelaku berakal. 3. Pelaku bukan orangtua korban. 4. Korban tidak lebih rendah dari pelaku. 5. Korban adalah orang yang dilindungi / terhormat.

Pemaparan di atas menjelaskan bahwa tidak semua tindak kejahatan bisa dikisas, hanya yang bersifat sengaja dan terencana saja yang bisa dikisas. Selain itu, ada lima syarat yang mesti dipenuhi, yakni keberadaan pelaku sudah balig dan berakal, bukan orangtua korban dan seterusnya.

Apabila satu saja syarat tersebut tidak terpenuhi, maka Kisas tidak dapat diberlangsungkan dan diganti dengan membayar diyat.

Demikian juga apabila ada salah satu anggota keluarga korban yang memberikan pengampuan kepada pelaku, maka kisas pun tidak dapat diberlangsungkan.

Dalam hal ini, syariat islam justru memberikan pujian yang besar bagi pihak keluarga kurban yang memiliki hak Kisas agar memberikan pengampunan kepada pelaku dengan tidak menuntut Kisas, namun berpindah pada diyat. Hal ini terlihat dalam ayat Al-Quran berkaitan dengan Kisas, yakni:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [البقرة: 178]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”. (QS Al-Baqarah: 178).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini ialah bahwa penegakan hukum Kisas tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Harus melewati proses persidangan dan ditentukan oleh seorang hakim. Khususnya di negara Indonesia yang tidak mengenal hukum Kisas, bagi warga negara Indonesia, tidak bisa semena-mena melakukan Kisas tanpa secara sepihak.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here