Mengenal Istilah Karomah dan Contohnya

0
1359

BincangSyariah.Com – Allah memberikan keistimewaan kepada orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat dan kokoh, beramal salih dan selalu bertakwa. sebagaimana firman-Nya dalam surah Yunus: 62-64,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ – 64

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.”

Kabar gembira (busyra) adalah segala kebaikan yang akan diterima oleh orang-orang bertakwa. Kabar gembira dapat berupa mimpi yang baik yang dilihat oleh orang-orang bertakwa dalam tidurnya. Selain itu, kabar gembira juga dapat berupa mukasyafah, yaitu terbukanya hijab sehingga mereka dapat menyaksikan hal-hal yang sifatnya gaib bagi orang kebanyakan.

Bahkan, busyra dapat pula berupa terhalanginya seseorang dari sebagian jenis mukasyafah. Hal itu sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka agar tidak terganggu dalam perjalanannya menuju Allah. Misalnya, seseorang yang membaca sholawat terhalang dari bau harum sholawatnya. Dengan begitu, orang itu tetap fokus membaca sholawat dan tidak menyombongkan diri.

Banyak sekali pemberian-pemberian Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa dengan keimanan dan ketakwaan yang hakiki. Allah anugrahkan itu semua sebagai busyra, kabar gembira bagi mereka. Busyra itu sendiri memiliki tingkatan-tingkatan sesuai kadar keimanan dan ketakwaan seseorang. Ada busyra yang berupa khariqun lil adah, sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar manusia dan hukum kebiasaan yang biasanya terlihat dari orang-orang yang sudah sampai pada derajat kewalian karena istiqomah mengamalkan Alquran dan Sunnah. Busyra yang beerupa khariqun lil ‘Aadah inilah yang diantaranya dinamai sebagai karomah.

Lalu apa perbedaan antara karomah dengan mukjizat? Paling tidak ada tiga perbedaan antara karomah dengan mukjizat, yaitu :

  1. Mukjizat tampak dari seseorang yang diutus oleh Allah sebagai rosul kepada umatnya. Sedangkan karomah muncul dari seseorang yang mengikuti seorang rosul
  2. Mukjizat wajib ditampakkan untuk mengalahkan segala bentuk perlawanan dan pembangkangan. Sedangkan karomah bisa saja ditampakkan dalam bentuk yang sepadan dengan perlawanannya atau lebih tinggi, berupa khariqun lil adah.
  3. Para utusan diperintah untuk manampakkan mukjizat sedangkan pemilik karomah tidak diperintah untuk menampakkan khariqun lil adah. Bahkan mereka, para wali lebih senang menyembunyikannya kecuali jika dapat menguatkan syariat.
Baca Juga :  Cara Merawat Bagian Tubuh yang Diamputasi

Dalil-dalil tentang adanya karomah bersumber dari Alquran, Sunnah bahkan logika. Menurut Syaikh Abdul Karim Muhammad Al-Mudarris Al-Bahgdadi, dalam kitabnya Nurul Islam (h. 119) dalil karomah yang bersumber dari Alquran diantaranya adalah kisah Siti Maryam a.s sebagaimana disebutkan dalam surah Ali ‘Imran [3]: 37,

“Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.’”

Metode penarikan dalil keabsagan sebuah karomah dari ayat diatas adalah bahwa turunnya rezeki di sisi Maryam adalah sesuatu yang khariqun lil adah (berada di luar jangkauan nalar manusia dan hukum kebiasaan). Dan sesuatu yang khariqun lil adah yang terjadi pada pribadi dengan karakter spiritual seperti Maryam maka hal tersebut adalah karomah.

Contoh karomah berikutnya adalah tidurnya Ashabul Kahfi selama 309 tahun dengan jasad yang masih tetap sama seperti pada saat awal tidur, tidak mengalami kerusakan apapun, juga merupakan dalil keabsahan karomah dalam bentuk khariqun lil adah yang terdapat di dalam al-qur’an. Kita tahu Ashabul Kahfi adalah para pemuda sholeh dengan tauhid dan keimanan yang kuat dan kokoh. Mereka lari dari kekejaman raja Dikyanus, bersembunyi dan tertidur di dalam gua selama 309 tahun.

Cerita karomah dalam bentuk khariqun lil ‘adah yang tidak kalah masyhur adalah kisah sahabat Nabi Sulaiman as, sebagaimana diabadikan dalam al-qur’an, surat an-naml, ayat 38-40. Allah mengisahkan, “Berkata Sulaiman: ‘Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.’” (QS. an-Naml: 38)

Baca Juga :  Dua Mata yang Tidak Disentuh Api Neraka

Menanggapi tawaran Nabi Sulaiman as tersebut, salah seorang pembesar dari golongan Jin menyanggupi, “Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.’” (QS. an-Naml: 39)

Mendengar tawaran Ifrit yang mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum Nabi Sulaiman As berdiri dari tempat dudukya, seorang pembesar yang lain merasa dapat memindahkan lebih cepat daripada itu. Allah berfirman, “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’, maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) diriku sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. an-Naml: 40)

Yang menarik dari kisah-kisah karomah diatas adalah Allah selalu menyifati pemilik karomah dengan kebaikan dan kesalehan yang merupakan karakter spiritual yang menjadi prasyarat seseorang mendapatkan karomah. Lihatlah bagaimana seorang Siti Maryam yang kesehariannya berada di mihrob, mengabdikan diri kepada Allah. Lalu Ashabul Kahfi yang lari dari kejaran raja zalim, Dikyanus, karena mempertahankan iman dan tauhid mereka. Sahabat Nabi Sulaiman yang Allah anugerahi ilmu dari al-kitab sehingga mamp. Kesemua sifat itu sudah cukup membuktikan bahwa apa yang terjadi, khariqun lil ‘adah  pada mereka adalah karomah semata dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here