Mengenal Istilah Diat, Had dan Takzir dalam Syariat

0
1811

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah di muka bumi, salah satu fungsinya ialah sebagai basyiran wa nadziran, yakni sebagai pemberi kabar menggembirakan tentang akan adanya balasan surga bagi mereka yang mau beriman dan beribadah kepada Allah SWT, sekaligus pemberi kabar buruk tentang adanya neraka bagi mereka yang membangkang.

Bukan hanya di dunia, kabar baik dan buruk itu pun berlaku pula di dunia. Kebaikan di dunia bagi mereka yang beriman dan ancaman hukuman di dunia bagi mereka yang melawan perintah Allah SWT. Hukuman tersebut dalam syariat Islam diantaranya tertuang dalam tiga hal, yakni diat, had dan takzir.

Tiga hal di atas secara keseluruhan masuk dalam bab jinayat (pidana) dalam kitab-kitab fikih. Sebagaimana kita tahu, bahwa bukan melulu ibadah yang dibahas dalam syariat Islam, namun juga muamalah, jinayat dan lainnya. Hal ini bisa kita maklumi karena memang Islam hadir satu paket lengkap yang membahas semua hal terkait peri kehidupan manusia.

Sayyid al-Alamah Ahmad bin Umar asy-Syathiri al-Husaini dalam kitab Al-Yaqut al-Nafis (Beirut: Resalah, 2009), hal. 184 menyebutkan pengertian diat ialah:

الدية هو المال الواجب بالجناية علي الحر في نفس او ما دونها

Artinya: “Diat adalah harta yang wajib disebabkan tindak kriminal terhadap orang merdeka baik dalam soal penghilangan nyawa ataupun serendahnya”

Diat ini erat kaitannya dengan qishash, yakni ketika sebuah tindak kriminal tidak memenuhi persyaratan untuk diberlakukan qishash atau adanya pengampunan dari pihak pemilik kisas. Besaran diat ini merupakan hal yang sudah dipastikan dalam syariat Islam.

Contohnya ialah ketika seseorang membunuh orang lain secara tidak sengaja, maka ia wajib membayar diat berupa 100 ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Dengan perincian 20 ekor unta bintu makhadz (betina 1-2 tahun), 20 ekor unta ibnu makhadz (jantan 1-2 tahun), 20 ekor unta bintu labun (betina 2-3 tahun), 20 ekor unta hiqqah (3-4 tahun) dan 20 ekor unta jadza’ah (4-5 tahun). Untuk waktu pembayarannya ialah diangsur selama 3 tahun.

Baca Juga :  Klarifikasi K.H. Ma'ruf Amin tentang Larangan Mengucapkan Selamat Natal

Masih dari kitab yang sama, pengertian had ialah:

الحدّ : لغة : المنع . و شرعاً : عقوبة مقدرة ، وجبت زجراً عن ارتكاب ما يوجبها .

Artinya: “Had secara bahasa bermakna mencegah, secara syara’ bermakna hukuman yang telah ditetapkan yang hukumnya wajib dalam rangka mencegah seseorang melakukan tindak kriminal yang menyebabkan timbulnya hukuman tersebut”.

Sebagaimana diat, besaran had ini sudah ditetapkan oleh syariat dan tidak bisa dikurangi atau ditambahi. Contohnya ialah had minum miras ialah 40 kali cambukan. Angka 40 tersebut didasarkan pada teks sumber hukum Islam yang tidak bisa dirubah-rubah.

Terakhir, untuk pengertian takzir ialah:

التعزير لغة : التأديب . و شرعاً : تأديب على ذنب لا حد فيه ولا كفارة غالباً .

Artinya: “Takzir secara bahasa adalah pengajaran tatakrama. Sedangkan menurut syara’ ialah pengajaran tatakrama atas perbuatan dosa yang tidak ada batasan serta tebusan yang jelas (tentang hukumannya) dalam agama, secara umum.

Karena tidak ada batasan yang jelas dari agama, maka takzir ini tergantung pada Imam atau pejabat pemerintahan. Seperti misalkan ada seseorang yang bersaksi palsu, dimana hal tersebut dilarang namun tidak ada hukuman pasti bagi hal tersebut. maka Imam boleh berijtihad dengan menjatuhkan hukuman semisal kurungan sekian bulan atau tahun bagi pelaku saksi palsu. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here