Mengenal Istilah Ayat Qath’i dan Zhanni

0
60

BincangSyariah.Com – Al-Quran merupakan sumber hukum paling utama dalam Islam yang mengatur peri kehidupan manusia baik dalam persoalan ibadah maupun muamalah. Dalam Alquran, terdapat berbagai ayat yang memberikan keterangan tentang hukum yang biasa disebut sebagai ayatul ahkam.

Dari sudut pandang keasliannya, ayatul ahkam tersebut harus kita yakini sebagai sesuatu yang pasti, karena ia merupakan bagian daripada Alquran yang mesti kita yakini sebagai qath’iyul wurud, yakni tidak ada keraguan atau kesangsian tentang keotentikan Alquran yang merupakan firman Allah SWT. Transformasi Alquran dari Rasulullah SAW hingga sampai ke kita, umat di masa sekarang ini pun melewati proses yang mutawatir, artinya diriwayatkan oleh bukan hanya satu orang saja, sehingga terjaga kebenarannya secara transformasi dan juga terjaga keotentikannya, bahwa hal itu benar-benar merupakan wahyu yang datang dari Allah SWT. Demikian, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Wahbah al-Zuhaily dalam kitab Ushul al-Fiqh al-Islami (j. 1 h. 410).

Dari sudut pandang yang lain, yakni pada persoalan penyampaian pesan hukum, Alquran memiliki dua model penyampaian pesan, yakni qath’iyu al-dalalah dan dzanniyu al-dalalah. Qath’iyu al-dalalah ialah pemahaman makna yang timbul dari lafadz yang hanya memiliki satu makna dan tidak memiliki kemungkinan untuk dimaknai dengan makna lain. Contohnya ialah lafadz-lafadz bilangan baik dalam bab waris, hudud, kafarat, dan lainnya, sebagaimana terdapat dalam firman Allah Q. Al-Mujadalah: 4:

فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِن قَبْلِ أَن يَتَمَآسَّا ۖ فَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Fa mal lam yajid fa ṣiyāmu syahraini mutatābi’aini ming qabli ay yatamāssā, fa mal lam yastaṭi’ fa iṭ’āmu sittīna miskīnā, żālika litu`minụ billāhi wa rasụlih, wa tilka ḥudụdullāh, wa lil-kāfirīna ‘ażābun alīm

“Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”

Ayat diatas menjelaskan tentang denda bagi orang yang bersumpah dzihar, yakni berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang. Lafadz 2 bulan dan 60 fakir miskin, keduanya merupakan lafadz qath’i yang sifatnya pasti, hanya satu makna, yakni 2 bulan, dan 60 orang, tidak bisa kita memahami dengan pemahaman lainnya.

Baca Juga :  Kesunahan Memberi Minum pada Orang Sakaratul Maut

Berikutnya, dzanniyu al-dalalah ialah pemahaman makna yang timbul dari lafadz atau kalimat yang memang secara redaksi memiliki lebih dari satu makna, sehingga membuka kemungkinan lahirnya dua atau lebih penafsiran yang berbeda. Contoh lafadz yang dzanniyu al-dalalah dalam Alqur’an adalah surah Al-Baqarah [2]: 228,

وَٱلْمُطَلَّقَٰتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَٰثَةَ قُرُوٓءٍ ۚ

Wal-muṭallaqātu yatarabbaṣna bi`anfusihinna ṡalāṡata qurū`

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.

Lafaz quru’ yang terdapat pada ayat diatas, secara tekstual memang memiliki dua kemungkinan makna, yakni bisa diartikan suci, bisa juga diartikan haidl.

Sementara contoh rangkaian kalimat yang memiliki pemahaman dzanniyu al-dalalah ialah QS. An-Nisa [4]: 29 yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar transaksi (akad),

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ

Yā ayyuhallażīna āmanụ lā ta`kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili illā an takụna tijāratan ‘an tarāḍim mingkum,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu.”

Pada ayat diatas, kita memahami bahwa prinsip dasar perniagaan ialah kerelaan antara pihak-pihak yang bertransaksi dan tidak adanya potensi untuk saling merugikan. Dalam praktiknya, bagaimana mekanisme dari pada konten perniagaan itu sendiri, diserahkan kepada manusia sehingga manusia bisa berkreasi bagaimanapun juga dalam bertransaksi, asalkan tetap menganut kepada prinsip tersebut. Tidak ada mekanisme khusus yang ditentukan oleh Alquran dalam perniagaan ini selama masih berada dalam rel saling rela dan tidak merugikan. Oleh karena itu, kita menyebutnya sebagai ayat yang pemahamannya dzanniyu al-dilalah.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here