Mengenal Istilah Ahlul Fatrah dalam Islam

0
104

BincangSyariah.Com – Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam khazanah keislaman ialah status tentang ahlul fatrah, atau orang-orang yang hidup sebelum Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu tentang syariat Islam. Bagaimanakah status mereka? Berada dimanakah mereka kelak di akhirat? Surga ataukah neraka?

Secara kebahasaan, dalam kitab Mukhtar al-Shihah, fatrah diartikan sebagai terputus atau lemah. Kata ini kemudian digunakan oleh para ulama sebagai istilah bagi kondisi diantara dua rasul. Maka kemudian kita mengenal istilah “zaman fatrah”, sebagai masa kekosongan diantara dua rasul. Sekaligus kita mengenal istilah ahlul fatrah sebagai orang-orang yang hidup di masa tersebut.

Menyikapi hal ini, terkait dengan kapan zaman fatrah terjadi, ada berbagai perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa bagi Kaum Bani Israil, atau keturunan Nabi Ya’qub AS, tidak ada zaman fatrah. Karena pada mereka, senantiasa dikirimkan utusan mulai dari masa Nabi Ishaq AS hingga Nabi Isa AS. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi Ibrahim AS memiliki dua putra, yakni Nabi Ishaq AS yang tinggal di Madyan, dan Nabi Ismail AS yang tinggal di Mekkah. Nabi Ishaq inilah yang kemudian melahirkan Nabi Ya’qub AS yang kemudian melahirkan kaum Bani Israil. Sementara Nabi Ismail AS, pada kurun jauh sesudah beliau, melahirkan Nabi Muhammad AS. Dalam hal ini, beberapa ulama berpendapat bahwa bagi keturunan Nabi Ismail AS, atau mereka yang tinggal di Mekah, masa fathrah terjadi sejak masa Nabi Ismail hingga Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat demikian, karena beranggapan bahwa Nabi-Nabi yang berasal dari Bani Israil merupakan utusan-utusan yang tidak universal, artinya hanya berlaku untuk umat mereka saja, berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang menjadi utusan bagi seru sekalian alam.

Baca Juga :  Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah

Pendapat kedua menyatakan bahwa zaman fatrah terjadi pada masa pasca terutusnya Nabi Isa AS hingga diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan ini berlaku bukan hanya pada sebagian umat saja, namun menyeluruh pada semua umat manusia. Dengan demikian, mereka berkesimpulan bahwasanya ahlu fatrah adalah orang-orang  yang hidup di antara dua rasul. Rasul yang pertama tidak diutus kepada mereka (yakni dakwahnya tidak sampai ke masa hidup mereka), dan mereka belum menemui rasul yang kedua.

Berikutnya, pula ulama juga berbeda pendapat tentang siapa saja orang-orang yang disebut sebagai ahlul fatrah. Ada yang berpendapat bahwa ahlul fatrah ialah mereka yang hidup pada zaman fathrah sebagaimana dijelaskan diatas, dan ada juga yang berpendapat bahwa ahlul fathrah ialah mereka yang belum mendapatkan dakwah risalah meskipun rasul telah dikirimkan.

Dalam Al-Quran sendiri, kata fatrah tertuang pada ayat QS. Al-Maidah [5]: 19,

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُوا۟ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَآءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum ‘alā fatratim minar-rusuli an taqụlụ mā jā`anā mim basyīriw wa lā nażīr, fa qad jā`akum basyīruw wa nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dari ayat diatas, Imam Ibnu Katsir berpendapat bahwa pada dasarnya fathrah tidak hanya dimaksudkan pada kaum tertentu seperti halnya masa antara Nabi Isa AS hingga Nabi Muhammad SAW, namun juga menyeluruh pada setiap kekosongan pengutusan Rasul. Seperti masa antara Nabi Idris AS dan Nabi Nuh AS, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Hukum Makan Ikan dalam Keadaan Masih Hidup

Jika kita mengacu pada pendapat yang menyatakan bahwa zaman fathrah ialah masa antara Nabi Isa AS hingga Nabi Muhammad SAW, maka dalam satu pendapat ini pun terjadi perbedaan pendapat lagi tentang berapa lama durasinya. Ada yang menyatakan 600 tahun, ada yang menyatakan 550 tahun, ada yang menyatakan 430 tahun, dan ada yang menyatakan 599 tahun.

Dari sekian banyak pendapat tersebut, penulis menganggap bahwa pendapat Imam Ibnu Katsir ialah pendapat yang paling sahih.

Pembahasan berikutnya ialah tentang bagaimana status mereka ketika mereka kelak di akhirat. Dalam pembahasan ini tentu saja yang dimaksud ialah orang-orang yang sudah mukallaf diantara ahlul fathrah tersebut.

Pendapat pertama sebagaimana dipegang oleh kelompok Asy’ariyyah dan Syafi’iyyah berpendapat bahwa ahlul fathrah selamat dari siksa api neraka dan masuk ke dalam surga. Hal ini didukung dengan dalil QS. Al-Qashash [28]: 59,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِىٓ أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِى ٱلْقُرَىٰٓ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَٰلِمُونَ

Wa mā kāna rabbuka muhlikal-qurā ḥattā yab’aṡa fī ummihā rasụlay yatlụ ‘alaihim āyātinā, wa mā kunnā muhlikil-qurā illā wa ahluhā ẓālimụn

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.”

Pendapat berikutnya menyatakan bahwa mereka masuk neraka. Pendapat ini dipegang oleh kaum Mu’tazilah, madzhab Hanafiyah dan Maturidiyah. Mereka berpendapat demikian karena beranggapan bahwasanya ahlul fathrah tetaplah masuk dalam kategori mukallaf meskipun tidak ada Rasul yang diutus kepada mereka. Hal ini karena menurut mereka, sesungguhnya ahlul fathrah itu tetaplah bisa menemukan Tuhan dengan menggunakan akal mereka. Didukung pula dengan penjelasan dalil QS. An-Nisa [4]: 18,

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis "Setan Dibelenggu di Dalam Bulan Ramadan"

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Wa laisatit-taubatu lillażīna ya’malụnas-sayyi`āt, ḥattā iżā ḥaḍara aḥadahumul-mautu qāla innī tubtul-āna wa lallażīna yamụtụna wa hum kuffār, ulā`ika a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”

Karena pada ayat diatas arahannya umum, maka siksa neraka bagi yang menyekutukan Allah berlaku baik bagi manusia yang menemukan dakwah rasul ataupun tidak.

Pendapat ketiga dipegang oleh mazhab Hanabilah termasuk Syaikh al-Islam Imam Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa status ahlul fatrah dikembalikan kepada ilmu Allah SWT. Mereka menggambarkan bahwa pada hari kiamat kelak, mereka, ahlul fatrah tersebut akan diuji dengan disuruh masuk ke dalam api. Apabila mereka memasuki api tersebut maka mereka masuk neraka, dan apabila mereka tidak memasukinya, maka selamatlah mereka.

Dari ketiga pendapat tersebut, penulis lebih memilih pendapat pertama karena ditunjang dengan dalil yang dilalahnya lebih jelas ketimbang pendapat lainnya. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here