Mengenal Ilmu Ushul Fikih

2
83

BincangSyariah.Com – Salah satu dari sekian banyak keilmuan yang cukup penting dalam khazanah Islam ialah Ushul Fikih. Secara garis besar, Imam al-Ghazali membagi keilmuan Islam dalam dua bagian yakni ilmu naqli yang hanya mengandalkan pembacaan dan hafalan seperti ilmu hadits, dan ilmu aqli yang bukan hanya mengandalkan pembacaan dan hafalan, namun juga menggunakan penalaran. Ilmu Ushul Fikih masuk dalam kategori ilmu naqli ini.

Sejarah mencatat bahwa peletak pertama keilmuan ini ialah Imam Asy-Syafi’i yang menyusun kitab Ushul Fikih pertama bernama Ar-Risalah. Sebuah kitab yang memuat “risalah-risalah” atau surat-surat Imam Syafi’i kepada para sahabatnya terkait persoalan bagaimana metode yang tepat untuk meracik sebuah putusan hukum Islam.

Untuk mengenal ilmu ushul fikih, kita bisa melihatnya dari dua model pertimbangan, yakni dengan mempertimbangkan kata-kata penyusunnya (pertimbangan mufradiyyah) dan mempertimbangkan perihal Ushul Fikih yang telah menjadi sebuah istilah tersendiri (pertimbangan laqabiyyah).

Dari sudut pandang mufradiyyah, Ushul Fikih terdiri dari dua kata, yakni “ushul” yang merupakan bentuk plural dari kata “ashl”, dan kata “Fikih” atau “al-fiqh”. ashl dalam bahasa Arab bermakna sesuatu yang menjadi tempat bersandar bagi yang lainnya, seperti pondasi bangunan (ashl al-jidar) yang menjadi tempat berdirinya tembok, atap dan lainnya, atau seperti akar pohon (ashl al-syajarah) yang menjadi muasal bercabangnya batang dan ranting pohon serta dedaunan dan bunga. Dalam Alquran, kata ashl diantaranya disebutkan dalam ayat QS. Ibrahim [14]: 24,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ

A lam tara kaifa ḍaraballāhu maṡalang kalimatan ṭayyibatang kasyajaratin ṭayyibatin aṣluhā ṡābituw wa far’uhā fis-samā`

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Berikutnya ialah kata al-fiqh. Secara kebahasaan, al-fiqh bermakna “paham”. Penggunaan kata al-fiqh dengan makna “paham” ini bisa kita temukan dalam QS. Thaha [20]: 28,

Baca Juga :  Maslahah Mursalah sebagai Sumber Hukum Islam

يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى

yafqahụ qaulī

“Supaya mereka mengerti perkataanku”

Sedangkan menurut terminologi syariah, al-fiqh didefinisikan sebagai: “Pengetahuan tentang hukum-hukum syariat amaliah berdasarkan dalil-dalilnya yang terperinci, menggunakan metode ijtihad”.

Mari kita bedah definisi tersebut.

Pertama, pengetahuan. Maksudnya ialah fikih itu berarti sebuah pengetahuan atau dalam bahasa lain disebut sebagai ilmu. Ilmu sendiri pengertiannya ialah mengetahui tentang sesuatu sesuai dengan hakikatnya.

Kedua, hukum-hukum syariat. Maksudnya ialah hukum-hukum sebagaimana yang diajarkan oleh syariat Islam seperti hukum wajib, haram, dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, mengecualikan hal-hal yang tidak terkait dengan hukum syariat sebagaimana pengetahuan bahwa api itu membakar. Pengetahuan semacam ini ialah ilmu pasti (dlaruri). Juga tidak mencakup pengetahuan tentang hukum-hukum alam seperti pengetahuan bahwa mendung yang tebal merupakan pertanda turunnya hujan.

Ketiga, amaliah. Maksudnya ialah fikih hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan seseorang seperti salat, zakat, dan lain sebagainya. Fikih tidak mencakup hal-hal yang berkaitan dengan akidah seseorang karena hal tersebut masuknya dalam keilmuan tauhid.

Keempat, berdasarkan dalil-dalil terperinci. Maksudnya ialah melahirkan suatu hukum berdasarkan dalil yang sudah ditentukan dan tidak bersifat global. Contohnya ialah ayat tentang puasa dalam Alquran yang menjadi dalil kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan.

Kelima, menggunakan metode ijtihad, artinya untuk mengetahuinya harus dengan cara ijtihad, yakni proses pencarian dalil dan perumusan hukum berdasarkan dalil tersebut.

Dengan menggunakan pertimbangan mufradiyyah kita bisa mengetahui definisi dari kata-kata yang menyusun frasa “Ushul Fikih”. Selanjutnya, kita menggunakan pertimbangan laqabiyyah untuk mengetahui definisi Ushul Fikih sebagai sebuah nama dari suatu cabang ilmu.

Para ulama mendefinisikan Ushul Fikih sebagai: “Ilmu yang membahas dalil-dalil fikih yang bersifat global, metode pemanfaatan dalil hingga melahirkan sebuah hukum dan perihal kriteria pelaku (mujtahid) yang melakukan proses pemanfaatan dalil tersebut”.

Baca Juga :  Apa Itu Maqashid Syariah ?

Seperti sebelumnya, mari kita bedah definisi diatas.

Dalil-dalil fikih yang bersifat global ialah kaidah-kaidah yang bersifat umum. Tentu saja berbeda dengan dalil fikih terperinci yang telah dibahas diatas seperti ayat puasa yang menjadi dalil kewajiban berpuasa. Dalil tersebut dianggap sebagai dalil yang bersifat terperinci/khusus karena hanya berlaku terkait kewajiban berpuasa. Maka ia tidak bisa digunakan untuk menunjukkan kewajiban zakat, kewajiban salat, atau lainnya. Sementara dalil fikih global ialah dalil fikih yang bersifat umum seperti kaidah “Perintah menunjukkan kewajiban”, “larangan menunjukkan keharaman”. Kaidah tersebut bisa berlaku secara umum, artinya setiap ada perintah dalam Alquran maka hal itu secara umum menunjukkan kewajiban, dan setiap ada larangan dalam Alquran maka secara umum menunjukkan keharaman.

Metode pemanfaatan dalil. Maksudnya ialah metode apa saja yang bisa digunakan untuk mengambil pemahaman hukum dari sebuah dalil. Ada beberapa metode yang bisa digunakan, seperti metode kebahasaan, dimana kita memilah mana saja dalil dalam Alquran yang bersifat mutlak dan mana yang tidak, mana saja yang bersifat umum dan mana yang khusus, dan lain sebagainya. Bisa juga menggunakan metode maqashid syariah, dan metode-metode lainnya.

Kriteria pelaku (mujtahid) maksudnya ialah apa saja syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa menjadi seorang mujtahid yang tugasnya ialah menjawab persoalan hukum islam terbaru dengan menggunakan dalil-dalil syariat yang ada.

Dari penjelasan diatas, bisa kita pahami bahwasanya dalam keilmuan Ushul Fikih, ada 3 hal terpenting yang dibahas, yakni dalil itu sendiri dengan berbagai macam varian dan jenisnya, kemudian metode untuk memanfaatkan dalil agar bisa menjadi sebuah jawaban hukum dan terakhir, ialah kriteria mujtahid yang memanfaatkan dalil tersebut.

Baca Juga :  Apakah Semua Kata Perintah dalam Al-Quran Bermakna Kewajiban

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi-shawab.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here