Mengenal Ilmu Kaidah Fikih

0
56

BincangSyariah.Com – Salah satu kajian keilmuan yang cukup penting dalam khazanah Islam ialah ilmu kaidah fikih. Sesungguhnya, keilmuan ini merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kajian hukum Islam lainnya seperti fikih dan ushul fikih. Bahkan tidak jarang dari kita yang seringkali tertukar dan merasakan kebingungan antara ketiganya.

Tajuddin As-Subki, seorang ulama dari mazhab Syafii mendefinisikan kaidah fikih sebagai sebuah patokan umum yang dapat diterapkan untuk mengetahui hukum dari kebanyakan persoalan parsial lainnya. Karena menyebutkan kata “kebanyakan”, maka tidak semua persoalan parsial dicakup oleh kaidah itu.

Secara fungsional, kaidah fikih merupakan ketentuan yang bisa dipakai untuk mengetahui hukum tentang kasus-kasus yang tidak ada aturan pastinya di dalam sumber-sumber hukum Islam yaitu Al-Quran, Sunnah maupun Ijma’. Sehingga dengan menerapkan kaidah terhadap produk fikih, lahirlah produk fikih yang menjawab persoalan yang tidak ada dalil spesifiknya. Proses untuk mendapatkan fikih baru ini disebut dengan ilhaq, yaitu semacam proses mengqiyaskan hukum sesuatu dengan lainnya, namun dalam hal ini patokan qiyasnya tidak didapatkan dari sumber wahyu, melainkan dari hukum fikih yang sudah jadi.

Karena menjadikan sebuah produk fikih yang sudah jadi sebagai patokan bagi perumusan sebuah hukum fikih baru, maka secara periodik, kaidah fikih ini muncul secara bertahap mengiringi proses pemahaman hukum Islam yang terkandung dalam teks suci Alquran dan hadits.

Secara singkat, kaidah fikih merupakan sebuah rumusan umum yang dihasilkan dari karakteristik hukum-hukum fikih yang telah baku, yang selanjutnya kaidah tersebut bisa menjadi sebuah patokan bagi penentuan hukum fikih baru.

Agar tidak tertukar pemahaman dengan ushul fikih, maka dalam hal ini perlu kiranya untuk dijelaskan perbedaan antara keduanya. Secara materi, ushul fikih terdiri dari kaidah kebahasaan dan gambaran tentang hukum syariat, sementara kaidah fikih terdiri dari dalil syariat, tujuan umum syariat dan hukum parsial yang memiliki kemiripan dengan hukum asal yang telah dirumuskan secara fikih.

Baca Juga :  Rasulullah Menegakkan Hukum pada Wanita Bangsawan yang Mencuri

Berikutnya, apabila ushul fikih berkaitan dengan dalil pensyariatan, maka kaidah fikih terkaitnya dengan perbuatan-perbuatan mukalaf. Kemudian, apabila ushul fikih digunakan untuk menetapkan dalil hukum syariat, cara penggalian hukum dan dalil syariat, sementara kaidah fikih digunakan sebagai acuan umum bagi permasalahan fikih yang baru. Sedangkan secara fungsi, apabila usul fikih digunakan untuk menggali hukum syariat dari dalilnya, sementara kaidah fikih digunakan untuk menjawab berbagai kasus hukum baru (furu’) dengan menggunakan kaidah fikih tersebut. Sehingga dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kaidah fikih bergantung pada ushul fikih dan tidak sebaliknya.

Manfaat Memahami Ilmu Kaidah Fikih

Ada beberapa manfaat penting yang bisa kita dapatkan dengan kajian kaidah fikih ini. Diantaranya ialah bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam penanganan berbagai macam permasalahan hukum islam, khususnya yang baru, sekaligus menjadi sebuah konsep hukum yang mudah untuk diingat. Kaidah fikih juga bisa menjadi alat bantu dalam memahami hikmah pensyariatan serta sumber pengambilan berbagai permasalahan hukum. Berikutnya yang tidak kalah pentingnya ialah kita bisa mengilhaqkan sebuah permasalahan fikih baru dengan memakai kaidah fikih tersebut.

Sebagai contoh pemanfaatan kaidah fikih ialah dalam permasalahan menghapus tato yang terlanjur ada di badan seseorang dengan cara disetrika. Menggunakan kaidah al-akhdzu bi akhoffi adl-dlararain (mengambil bahaya yang lebih ringan) kita bisa mengatakan bahwa tidak boleh menghapus tato dengan cara tersebut.

Dalam persoalan tersebut, ada dua bahaya yang bisa terjadi, yakni bahaya tidak sempurnanya mandi atau wudlu karena air tidak menyentuh kulit secara langsung dan ada bahaya berupa rasa sakit dan kerusakan akibat kulit yang disetrika. Dari dua bahaya tersebut kemudian kita menimbang mana yang lebih besar, dan ternyata yang lebih besar ialah rasa sakit dan kerusakan kulit. Maka jawabannya adalah tidak boleh menghapus tato dengan cara disetrika.

Baca Juga :  Meniup Tempat Sujud Karena Kotor Saat Shalat, Batalkah?

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here