Mengenal Ibn Shalah as-Syahrazuri: Penyusun Metodologi Ilmu Musthalah al-Hadits

0
688

BincangSyariah.Com – Perkembangan kajian hadis dalam sejarah Islam mendapat perhatian serius pada masa Dinasti Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beragam literatur menyebutkan bahwa tokoh sentral dalam kodifikasi hadis adalah Ibnu Syihab az-Zuhry. Pasca era itu, hadis Nabi mulai dikompilasi secara masif.

Perkembangan Awal Studi Ilmu Hadis

Meski hadis telah banyak dikumpulkan, namun kaidah dalam telaah hadis belum tersusun secara baku. Ilmu hadis belum banyak dibicarakan, sehingga kritik sanad, kemudian bagaimana menilai kualitas suatu hadis belum sistematis. Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan dalam Nukhbatul Fikr bahwa penyusunan dasar-dasar ilmu hadis baru dimulai oleh Syeikh Ar-Ramahurmuzi dalam kitabnya al Muhaddits al Fashil bainar Rawi wal Wa’i.

Kajian itu disempurnakan selanjutnya oleh Imam al-Hakim an-Naisabury dalam kitab Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits. Dicatat pula oleh Ibnu Hajar, beragam karya tersebut masih belum cukup sistematis dan lengkap – karena antar disiplin pokok ilmu hadis masih terpisah. Ilmu hadis mulai mendapat perhatian khusus sejak era Ibnu Shalah as-Syahrazuri, pasca terbitnya kitab ilmu hadis Ma’rifatu anwaa’ ‘uluum al hadis, yang lebih sering disebut dengan kitab Muqaddimah Ibnus Shalah.

Ibn Shalah: Pemuda Irak Utara

Ibn Shalah bernama asli adalah Utsman bin Abdurrahman bin Shalah as-Syahrazuri. Dilahirkan di daerah Syarakhan di distrik Syahrazur, Irak Utara, masa kecilnya banyak bergumul dengan masyarakat yang heterogen.

Ibnu Shalah memulai pendidikan agamanya di bawah asuhan dari bapaknya sendiri semasa masih berdomisili di daerah Irbil yang dikuasai Dinasti Ayyubiyah. Bani Syahrazur sebagai klan dari Ibnu Shalah, adalah kalangan yang disegani masyarakat dan pendapatnya didengar oleh negara pada masa Dinasti Zaidiyah dan Ayyubiyah. Golongan ini merupakan penganut mazhab Syafii.

Pada masa kebanyakan masyarakat Irbil menganut paham Sunni, paham yang dikembangkan di madrasah pembelajaran hadis Al Muzaffariyah. Ketika itu forum pengajian agama, atau yang disebut madrasah, yang berfokus pada ilmu hadis amatlah sedikit, kendati karya-karya Imam asy-Syafii yang sarat telaah hadis sudah ada. Ilmu hadis belum banyak mendapat perhatian dari penguasa setempat. Ibnu Shalah mulai tertarik pada ranah kajian hadis, terutama sejak berdiam di daerah Mosul.

Ibn Shalah menunjukkan perhatian lebih terhadap ilmu hadis, salah satunya dalam proses penulisan karya terbesarnya, Muqaddimah ibn Shalah. Tak kurang dari 64 bab ditulis dalam kitab tersebut, merentang dari kriteria dan kualitas hadis, klasifikasi jenis hadis, sampai masalah-masalah perawi tentang nasab, masa hidup, dan daerah tinggal. Dia menjadi guru di berbagai madrasah, diakui kepakarannya oleh banyak kalangan dalam ilmu hadis sampai akhir hayat pada 643 H. 

Menyempurnakan Teori Sanad Panjang (Naazil) dan Pendek (‘Aaly)

Sebagaimana disebutkan pada paragraf pembuka makalah ini, Muqaddimah Ibnu Shalah merupakan karya ilmu musthalah al-hadits, yang dalam berbagai aspeknya lebih sistematis. Selain menyusun dan memperkokoh teori ilmu hadis, Ibn Shalah juga melakukan penyempurnaan terhadap beberapa teori, salah satunya terkait sanad yang ‘aaly (luhur/pendek) dan naazil (rendah/panjang).

Ibnu Shalah merumuskan bahwa penyampaian hadis dari tingkat perawi yang lebih tinggi ke generasi setelahnya, patut memperhatikan banyaknya perawi yang meriwayatkan hingga sampai kepada seseorang. Singkatnya, rantai sanad yang lebih pendek lebih mendukung penilaian kualitas suatu hadis, dan jika memenuhi syarat kesahihan, maka ia memiliki derajat yang lebih tinggi.

Secara teoritis, panjang pendeknya suatu sanad tidak memengaruhi kualitas hadis, jika hadis itu telah memenuhi kriteria shahih dalam sanad periwayatannya. Namun perlu dicermati bahwa generasi yang lebih dekat pada generasi terdahulu, mereka lebih bisa dipercaya, ketersambungannya lebih terukur, dan lebih baik dari generasi yang belakangan. Seseorang biasa memilih guru dari kalangan sepuh karena otoritasnya, dan pesannya masih belum banyak terdistorsi.

Salah satu basis argumen Ibnu Shalah soal sanad ali dan nazil adalah lewat hadis “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang mengikuti selanjutnya…”. Ulama hadis banyak menyatakan bahwa para sahabat Nabi adalah orang yang ‘aadil, dan periwayatan dari mereka diterima secara mutlak. Karena itulah, rantai periwayatannya yang lebih pendek dengan kalangan sahabat, dianggap memiliki derajat lebih tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here