Mengenal Hakikat Nur Muhammad Saw

3
4375

BincangSyariah.com – Ketika Allah Swt berkehendak menciptakan alam semesta, hal mana pada saat itu tidak ada yang wujud selain Allah, maka pertama kali yang Allah lakukan adalah mendesain sebuah ciptaan yang dapat menggambarkan keadaan diri-Nya sejauh, sedalam dan sesempurna yang Dia kehendaki. Desain tersebut ibarat cetakan bagi semua makhluk yang akan Dia ciptakan setelahnya. Oleh karenanya, di sisi Allah, semua makhluk adalah hidup karena mereka dicetak dari cetakan yang merupakan tajalli dari Zat yang maha hidup.

Secara maknawi, Ciptaan tersebut mengandung makna-makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sehingga setiap makhluk yang dicetak darinya secara otomatis membawa misi agung yaitu memperkenalkan Allah pada alam semesta. Maka, setiap yang bertafakkur tentang makhluk dengan tafakkur yang benar akan menghasilkan makrifah tentang Allah bukan tentang makhluk itu sendiri. Atas dasar hal tersebut, sebagian sufi berpendapat bahwa setiap eksistensi wujud yang kita saksikan adalah mursyid yang dapat mengantarkan manusia kepada Allah Swt.

Secara maknawi, desain ciptaan itu senantiasa menyejarah, menjadi sumber eksistensi semua makhluk yang akan Allah ciptakan, karenanya ia dinamai Hazratul Jam’i wal Wujud, tempat berkumpul dan asal seluruh eksistensi makhluk. Ia juga dinamai akal pertama karena yang pertama kali dapat memahami perintah Allah, Kun. Atau, ia dinamai akal pertama karena ia adalah makhluk pertama yang terikat (‘aqola artinya mengikat) oleh ismil ghoiriyah (nama selain Allah/nama makhluk).

Ia juga dinamai al-qolam al-a’la (pena ketinggian) karena citra/rupa semua yang maujud bersumber dari desain ciptaan tersebut sebagaimana tulisan keluar daripada pena. Tentu saja ia juga dinamai ruh, nur, dan hakikat Muhammad Saw karena seluruh makna yang tersimpan di dalam desain tersebut secara sempurna dan paling sempurna tertampakkan pada diri Muhammad Saw.

Baca Juga :  Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

Hakikat Muhammad yang merupakan desain dan cetakan bagi makhluk di alam semesta ini hanya satu dan bersifat universal. Oleh karena semua makhluk yang ada di alam semesta berasal dari satu desain yang sama, maka walaupun secara lahiriah/penampakan berbeda-beda, namun pada hakikatnya, semua makhluk di alam semesta ini memiliki kesamaan makna. Hanya saja, Allah menjaga mereka tetap berada dalam martabat (kedudukan) yang sesuai dengan fungsi yang telah digariskan, sehingga sunnatullah pada alam semesta berjalan secara sempurna.

Allah swt. memiliki sifat hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara. Sifat-sifat tersebut kemudian tertajallikan (tertampakkan) pada hakikat Muhammad Saw. Artinya, sifat-sifat tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari desain makhluk di alam semesta ini. Maka, semua makhluk yang didesain dengan hakikat Muhammad Saw pasti bersifat dengan sifat-sifat Allah diatas.

Mereka hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara. Tentu saja, kemudian Allah mengatur sedemikian rupa alam semesta ini sesuai dengan pengetahuan, kehendak dan kekuasaannya. Ada makhluk yang hidupnya Allah tampakkan dalam wujud yang sempurna dan mereka menyadari kesempurnaanya dengan cara yang sangat sempurna. Mereka adalah manusia-manusia sempurna dari kalangan para rasul, nabi dan wali-wali Allah yang mulia.

Ada juga makhluk yang Allah tampakkan hidupnya dalam wujud yang sempurna namun mereka tidak mengenali kesempurnaannya secara sempurna. Mereka adalah orang-orang awam pada umumnya. Di sisi lain, ada makhluk yang Allah tampakkan bagi mereka sifat hidup, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka hidup. Mereka adalah hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pada martabat paling bawah, ada makhluk yang Allah tampakkan kehidupannya dalam wujud yang tidak hidup, seperti benda-benda yang dianggap mati oleh manusia.

Baca Juga :  Mengenal Tafsir "al-Durr al-Mantsur" karya Imam Al-Suyuthi

Diferensiasi kehidupan makhluk tersebut sengaja Allah buat, sekali lagi dengan maksud dan tujuan agar sunnatullah berjalan pada alam semesta. Tidak dapat dibayangkan, seandainya semua makhluk di alam semesta ini hidup pada martabat yang sama. Misalnya, benda-benda ‘mati’ dapat berbicara, melihat dan mendengar layaknya manusia, maka manusia akan merasa sangat malu saat akan buang air kecil (besar), saat akan berhubungan suami istri dan lain sebagainya.

Demikian pula, saat manusia berbuat maksiat akan diteriaki, disoraki dan dicaci-maki oleh benda-benda di sekelilingnya, bahkan mungkin saja tembok dan bangunan akan menjatuhkan diri pada orang-orang yang akan berbuat maksiat. Barangkali bumi pun siap membelah diri bagi yang hendak berbuat maksiat sehingga mereka ambles, terkubur hidup-hidup.

Adam as. tidak akan memakan buah khuldi, karena buah khuldi akan berteriak sekuat tenaga, mengatakan bahwa hal tersebut adalah larangan dari Allah Swt. Saat adam mendekat, buah khuldi akan melarikan diri dari Adam as. sebagaimana manusia melarikan diri dari bahaya. Pada akhirnya, semua manusia tidak akan jadi berbuat maksiat. Jika demikian yang terjadi, apalah fungsi sifat Allah yang maha pengampun dan pemaaf jika tidak ada yang perlu diampuni dan dimaafkan? Apa pula, gunanya Allah menciptakan neraka jika tidak ada makhluk yang akan diazab karena dosa-dosa?.

Maka, merupakan kebijaksanaan Allah yang maha bijaksana, Dia menciptakan segala sesuatu dan menempatkannya pada martabat (kedudukan) yang mendukung terselenggaranya sunnatullah pada alam semesta. Namun, pada intinya semua makhluk adalah makhluk hidup yang berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara, karena mereka didesain dan dicetak dari hakikat Muhammad Saw.

Pemahaman tentang hakikat Muhammad saw sebagai desain/cetakan semua makhluk yang akan diciptakan Allah tidak seperti desain/cetakan produk-produk tertentu yang dibikin manusia, misalnya desain pakaian, gambar-gambar, cetakan kue (roti) dan lain-lain. Dimana, mereka hanyalah desain/cetakan yang fungsinya untuk menyeragamkan bentuk, ukuran dan spesifikasi produk yang dihasilkan. Meskipun, hal tersebut ditinjau dari satu sisi mengandung kebenaran.

Baca Juga :  Hadis Tentang Makruhnya Bertani, Bagaimana Memahaminya?

Artinya, salah satu fungsi hakikat Muhammad memang mencetak makhluk menurut sepesifikasi, kriteria dan makna yang melekat pada hakikat Muhammad. Lebih dari itu, hakikat Muhammad Saw juga merupakan bahan baku bagi segala sesuatu yang akan dicetak tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hakikat Muhammad adalah desain dalam pengertian yang sesungguhnya.

Itu sebabnya, menurut Syaikh Abdul Karim Al-Jili dalam kitabnya, Al-Kamalatul Ilahiyah fi Shifatil Muhammadiyah, “Di dalam al-qur’an Allah menyebut Muhammad Saw sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah swt berfiman “Sesungguhnya, kami mengutus engkau sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. 21:107).

Hakikat Muhammad Saw adalah rahmat (anugerah) bagi semesta karena segala sesuatu yang ada di alam semesta ini diwujudkan dengan perantara hakikat Muhammad Saw. Rahmat sebagaimana dimaksud pada ayat diatas adalah rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu sebagaimana dalam firman-Nya “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. 7:156)”.

Oleh karena hakikat Muhammad merupakan cetakan sekaligus bahan baku alam semesta, maka Allah swt menciptakannya sebelum alam semesta diciptakan. Jadi, makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah hakikat (nur) Muhammad Saw.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here