Mengenal Aturan Saudara Sepersusuan Dalam Islam

0
76

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, ada isitilah saudara sepersusuan. Maksudnya, ketika seorang bayi menyusu kepada orang lain, maka orang yang menyusuinya disebut ibu susu bagi bayi tersebut. Tidak hanya itu, keturunan sang ibu yang menyusuinya dan generasi pendahulu sang ibu (ayahnya, kakeknya, dan seterusnya) ke atas menjadi mahrom bagi si bayi. Konsekuensinya, maka anak sang ibu sepersusuan menjadi mahram bagi si bayi. Sehingga ketika si bayi dewasa nanti, tidak bisa menikah dengan anak sang ibu sepersusuan karena ada ikatan mahrom.

Aturan dan konseksuensi dari persoalan saudara sepersusuan dalam Islam ini, dalam kitab-kitab fikih disebut dengan ar-rodho’ atau ar-rodho’ah. Secara bahasa, rodho’ adalah istilah untuk menyesap puting perempuan dan meminum susunya. Sementara secara istilah, seperti disebutkan Syekh Abdul Aziz al-Malibari dalam Fath al-Mu’in adalah istilah untuk sampainya air susu perempuan yang telah mencapai umur baligh pada bayi yang berumur kurang dari dua tahun ke dalam tenggorokannya.

Rukun dari rodho’ itu ada tiga, yakni orang yang menyusui (ibu), anak yang disusui (bayi) dan susu (asi). Sedangkan syarat yang boleh melakukan rodho’ atau sepersusuan ini ada tiga:1

  1. Orang perempuan. Maka rodho’ itu tidak terjadi dari susunya banci atau hewan.
  2. Mencapai usia baligh (9 tahun). Maka rodho’ tidak haram dari perempuan yang masih belum baligh. Menurut Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Syarh al-Yaaquut an-Nafiis karena perempuan yang masih belum balightidak memungkinkan untuk melahirkan.
  3. Masih hidup ketika menyusui. Maka tidak dapat menyebabkan hubungan mahrom apabila bayinya menyusui pada ibu yang sudah mati.

Selanjutnya, syarat bayi yang menyusui itu ada empat, yaitu,

  1. Menurut Syekh Ahmad bin Umar asy-Syathiri dalam kitab al-Yaaquut an-Nafiis, maka tidak membuat hubungan mahrom menyusui bayi yang sudah mati.
  2. Kurang dari dua tahun. Maka menyusui bayi yang lebih dari usia dua tahun tidak menyebabkan hubungan mahram.
  3. Menyusuinya sebanyak lima kali susuan secara terpisah-pisah. Maksudnya ketika jabang bayi menyusu pada sang perempuan sebanyak lima kali dalam waktu yang berbeda. Jadi, bila si bayi melepas puting sebentar saja, atau sang perempuan memindah susuan bayi dari puting satu ke puting yang lainnya, maka itu dihitung satu kali susuan.
  4. Susunya sampai pada tengorokan si bayi. Maka tidak bisa menjadi rodho’ apabila susunya dituangkan di mata, karena kondisi tersebut tidak menyebabkan susu masuk ke tenggorokan.

Terakhir, konsekuensi hukum dari rodho’ ini ada macam. Konsekuensi ini terjadi apabila semua rukun dan syarat yang diatas sudah terpenuhi. Dua konsekuensi tersebut adalah

  1. nasab keatas (bapak, ibu, kakek, nenek dst.), anak cucu dan kerabat-kerabatnya orang yang menyusui menjadi mahrom pada si bayi yang menyusui. Oleh karena itu, si perempuan yang menyusui itu menjadi ibu sepersusuan pada si bayi. Begitu pula ayah, kakek hingga keatas. Tidak hanya itu, anak, cucu dan kerabat ibu sepersusuan itu juga menjadi mahrom bagi si bayi.
  2. anak, cucu, dan keturunan ke bawah dari anak yang menyusui tadi menjadi mahram bagi yang menyusui ibu (atau neneknya) serta suaminya.

Keteran diatas bersumber dari kitab al-Yaaquut an-Nafiis karya Ahmad bin Umar asy-Syathiri sebagaimana berikut:

الرضاع لغة اسم لمص الثدي و شرب لبنه و شرعا اسم لحصول لبن امرأة او ما حصل منه في جوف طفل على وجه مخصوص. اركان الرضاع ثلاثة مرضع ورضيع و لبن وشروط المرضع ثلاثة كونها امرأة وكونها بلغت سبع سنين وكونها حال انفصال اللبن حية مستقرة. شروط الرضيع اربعة : كونه حيا و كونه حيا وكونه دون الحولين وان ترضعه خمس رضاعات متفرقات وان يصل اللبن فيهن الى جوفه يترتب على الرضاع المتوفر الشروط: تحريم اصول المرضع ومن له اللبن وفروعهما وحواشيهما على الرضيع وتحريم فروع الرضيع فقط عليهما

rodho’ secara bahasa adalah nama untuk menghisap puting dan meminum air susunya. Secara syara’ adalah nama untuk sampainya susu perempuan atau sesuatu yang hasil darinya didalam tenggorokan anak atas cara tertentu. Rukun-rukun rodho’ ada tiga: orang yang menyusui, orang yang disusui dan susu. Syarat orang yang menyusui ada tiga: perempuan, sudah mencapai usia baligh (9 tahun) dan ketika keluarnya susu dia masih hidup. Syarat anak yang disusui ada empat: hidup, berusia kurang dari dua tahun, menyusui sebanyak lima kali susuan secara terpisah-pisah, susunya sampai ke tenggorokannya. Konsekuensi dari rodho´ setelah semua syarat-syaratnya terpenuhi adalah orang yang menyusui, suami serta kerabat-kerabatnya menjadi mahrom bagi si anak yang menyusui (1) dan anak-cucu si anak yang menyusui menjadi mahrom pada orang yang menyusui dan suaminya.

Wallahu a’lam. Sekian. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here