Mengenal Akad Istishna, Akad Pemesanan Pengerjaan Barang

1
504

BincangSyariah.Com – Akad istishna terjadi ketika seseorang memerintahkan kepada seorang pekerja untuk memproduksi suatu barang sesuai dengan profesinya dengan ketentuan tertentu, dimana bahan produksi berasal dari sang produsen.

Akad ini kerap terjadi di masa sekarang dan tentu saja membutuhkan kejelasan hukum. Contoh paling simpel dari akad ini ialah ketika seseorang memesan pengerjaan rumah sesuai dengan keinginan pemesan dengan seluruh alat produksi dan bahan material semuanya berasal dari pihak yang dipesani atau biasa kita sebut sebagai pemborong.

Ada Tiga Pendapat: Dari Haram sampai Bagian dari Akad Pesanan

Dalam hal ini, terjadi berbagai perbedaan pendapat ulama mengenai keabsahan akad istishna’. Ada ulama yang memperbolehkannya dan ada yang tidak. Ulama yang menganggap akad istishna’ tidak diperbolehkan diantaranya ialah ulama pengikut mazhab Hanbali dengan dasar bahwa dalam akad istishna’ terdapat potensi seorang produsen menjual barang yang belum ia miliki. Mereka berargumen dengan menggunakan hadits:

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Dawud)

Alasan berikutnya dari pelarangan akad ini ialah bahwasanya produsen yang menjual barang yang belum ada tidak mengindahkan syarat-syarat sebagaimana dalam akad salam. Meski demikian, mereka memberikan solusi bagaimana caranya agar akad ini menjadi sah ialah dengan jalan bahan material berasal dari pihak pembeli, yang kemudian merubah substansi akad menjadi akad ijarah dengan pemberian upah yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Sementara ulama yang memperbolehkan akad istishna ialah ulama mazhab Maliki dan Syafi’i yang menganggap bahwa akad ini merupakan salah satu bentuk akad salam sehingga akan menjadi sah apabila menepati persyaratan akad salam dan menjadi batal jika ada salah satu persyaratan yang tidak terpenuhi.

Baca Juga :  Hukum Makan Laron, Halal atau Haram?

Lain lagi dengan ulama madhab Hanafi dan sebagian ulama kontemporer yang menganggap bahwa akad istishna’ merupakan akad yang berdiri sendiri dan bukan merupakan bagian daripada akad salam. Mereka mendasari pendapat ini dengan suatu hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memesan untuk dibuatkan cincin dari perak:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ الْعَجَمَ لاَ يَقْبَلُونَ إِلاَّ كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتِمٌ. فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ. قَالَ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِى يَدِهِ. رواه مسلم

Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu, pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menuliskan surat kepada seorang raja non arab, lalu dikabarkan kepada beliau: Sesungguhnya raja-raja non arab tidak sudi menerima surat yang tidak distempel, maka beliaupun memesan agar ia dibautkan cincin stempel dari bahan perak. Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau.” (HR. Muslim)

Perbuatan Nabi diatas dianggap sebagai bukti nyata bahwa akad permintaan pembuatan barang (al-istishna’) itu diperbolehkan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here