Empat Catatan Untuk Ustadz Hijrah

3
3386

BincangSyariah.Com – Kebanyakan Muslim akan bersimpati, kagum, hingga menjadikan idola kepada orang-orang yang memiliki masa lalu kelam. Kemudian, orang-orang tersebut berhijrah dan memutuskan menjadi muslim kaffah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang “berhijrah” itu kemudian didaulat menjadi ustaz (ustaz hijrah) karena mampu berbicara di podium dakwah dengan mengutip dalil-dalil populer. Mirisnya, dakwah “hijrah” hari ini seolah hanya mengejar label ustaz di dunia digital dan mengenyampingkan keilmuan ulama yang lebih senior dan alim darinya.

Kebanyakan dakwah “hijrah” dimulai dengan munculnya seorang pendakwah yang menceritakan masa lalunya yang kelam. Karena mendapatkan simpati dari banyak orang, dengan sendirinya popularitas pendakwah tersebut meroket. Dalam waktu cepat, pendakwah tadi sudah memiliki jamaah yang turut aktif serta dalam perkembangan dakwahnya, khususnya di dunia digital.

Apakah hal itu baik? Tentu saja baik. Melihat seseorang yang meninggalkan perkara buruk dan berjalan mendekati jalan Allah, tentu saja merupakan hal yang baik. Namun terdapat catatan-catatan yang harus diperbaiki oleh para pendakwah “hijrah” dalam hal menyampaikan dakwahnya kepada jamaah.

Pertama, ilmu. Sebagai publik figur yang memiliki jamaah aktif, para pendakwah “hijrah” tak boleh berhenti hanya pada kegiatan berdakwah saja. Namun juga harus aktif untuk terus belajar dan berguru lagi kepada para ulama yang sudah lebih lama mengkaji ajaran agama. Hal ini penting karena khazanah keilmuan agama Islam amatlah luas, jadi tak cukup hanya belajar dari satu guru apalagi belajar dari diri sendiri.

Kesalahan dalam menyampaikan tafsiran dalil saja, jika disampaikan ke jamaah luas, efeknya akan menimbulkan kebingungan yang dahsyat. Apalagi hal itu tidak dibarengi dengan adanya pembelajaran kembali metode-metode pengkajian hadis dan Alquran yang baik dan benar, maka efeknya akan membuat dakwahnya menjadi rancu dan cenderung dipahami gagal paham oleh kalangan agamawan.

Baca Juga :  Pesan Penuh Hikmah untuk Orang yang Merasa Kesepian

Kedua, empati. Berdakwah adalah perihal menyampaikan hal-hal baik dan mengajak orang untuk meninggalkan hal buruk dengan cara-cara yang baik. Namun yang terjadi, para pendakwah “hijrah” kerap kali menanggalkan empatinya karena nafsu menasihati seseorang atau satu golongan lebih besar daripada spirit dakwah itu sendiri. Misalnya saja ada seorang ustaz yang memposting tentang larangan terhadap ibu rumah tangga yang mencari nafkah. Alih-alih memberikan solusi atau pandangan secara keagamaan yang kontekstual, ustaz tersebut justru membuli ibu rumah tangga yang pergi mencari nafkah.

Bayangkan, berapa banyak ibu rumah tangga yang terjebak keadaan sebagai tulang punggung keluarga harus menanggung beban mental karena dibuli oleh seseorang yang didaulat sebagai “ustaz”?

Empati menjadi penting dalam berdakwah. Kita tidak bisa menyeragamkan suatu permasalahan hanya dengan satu pandangan. Itulah mengapa Rasulullah selalu mengajarkan kita untuk bermusyawarah dan memiliki hati yang luas dalam mengarungi rintangan dakwah yang dihadapinya. Rasulullah tidak memukul orang yang salah dalam beribadah, tapi menaunginya dengan hikmah dan rahmah. Melalui cinta, duri menjelma mawar. Kata filsuf Islam, Maulana Jalaludin Rumi.

Ketiga, kesopanan. Hari ini kita seolah hidup di mana seorang alim ulama yang belajar agama sejak kecil, mengabdikan dirinya pada jalan dakwah, dan terus menyumbangkan gagasan dan sumbangsih pada umat dan peradaban Islam, justru dibodoh-bodohkan dan dikafir-kafirkan oleh para pendakwah “hijrah”. Kesopanan yang hilang dari akhlak para pendakwah tadi, selain mencerminkan dirinya sebagai orang yang kurang ajar juga terlihat sebagai orang yang merasa dirinya paling benar.

Keempat, sombong. Banyaknya jumlah followers di media sosial para pendakwah “hijrah” seolah melegitimasi kesombongan para pendakwah tadi. Serta merta mereka menihilkan teguran para ulama atas dakwahnya yang dianggap keliru dan menyesatkan umat karena ulama-ulama itu hanya memiliki jumlah followers sedikit. Ada juga dari pendakwah “hijrah” tadi yang menerima kritik dan saran dari para ulama, namun tak sedikit yang menghiraukan teguran para ulama.

Baca Juga :  Kapankah Pintu Langit Dibuka dan Doa Diterima?

Para pendakwah itu lupa akan dalil yang sering mereka kutip di mimbar dunia digital: “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Sombong adalah sifat setan, manusia tak boleh mengikuti jejak setan karena kita adalah keturunan Bani Adam.

Maraknya dakwah “hijrah” di dunia digital hari ini yang keliru dan mengabaikan aspek-aspek dakwah yang benar, seolah menegaskan bahwa pemburuan label “ustaz” di dunia digital menjadi penting demi meraup followers. Nafsu berdakwah harus dihentikan jika orientasinya adalah kebatilan. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang selalu menerima saran dari kritik untuk kebaikan diri kita ke depan.
Wallahu a’lam.

3 KOMENTAR

  1. Sebaiknya mereka pun tahu diri, berdakwa pada bidang yg mereka mampu. Jangan nekad ikut2an membahas bidang2 yg mereka tidak mampu.

    Pernah seorang ustadz artis ditanya:
    Apakah dosa syirik itu diampuni?

    Sang ustadz me jawab: Diampuni lalau Allah berkehendak. Ckckckckķ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here