Jangan Mengartikan Cinta Sembarangan, Begini Hakikat Cinta

0
116

BincangSyariah.Com – Kita sering menemukan cinta diartikan dengan sembarangan. Banyak orang mengartikan cinta sebagai kelanjutan dari hawa nafsu semata. Apakah sebenarnya arti dan hakikat cinta? Bagaimana ulama Islam memandang cinta sebagai bentuk dari ekspresi manusia di dunia?

Cinta bisa diartikan sebagai suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga bisa diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang karena faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi, cinta adalah sifat baik yang mewarisi semua kebaikan dan perasaan belas kasih serta kasih sayang.

Kita juga bisa mengartikan cinta sebagai sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain. Dalam hal ini, cinta bisa berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu sesama manusia, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.

Satu hal yang pasti, cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Perasaan ini juga bisa dialami oleh semua makhluk. Penggunaan kata cinta juga dipengaruhi perkembangan zaman.

Arti cinta bisa berubah arti sesuai dengan tanggapan, pemahaman dan penggunaannya di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda-beda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad sebelumnya atau satu abad yang lalu.

Syeikh Athiyyah Shaqr pernah menyatakan bahwa dari segi hukumnya, cinta diklasifikasikan sesuai dengan tata cara dan tujuannya. Klasifikasi cinta bisa sangat spesifik, tergantung ruang dan waktu, serta situasi dan kondisi.

Sebagai misal, ada cinta pada orang-orang saleh, cinta orang tua kepada anak-anaknya, cinta antara  suami istri, cinta antar teman, cinta murid kepada gurunya, dan cinta kepada alam dan pemandangan yang indah atau suara yang bagus, atau segala sesuatu yang indah.

Baca Juga :  Islam Agama Cinta Menurut Said Ramadhan al-Buthi

Dalam Fatwa Kontemporer Seputar Dunia Remaja (2003), Syeikh Athiyyah Shaqr menuliskan bahwa para ulama berkata: “Terkadang cinta menjadi wajib seperti cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, dan terkadang sunnah seperti mencintai para orang saleh. Bahkan terkadang haram seperti mencintai minuman keras dan lawan jenis dengan cara atau tujuan yang diharamkan.”

Intinya, jika cinta terlahir karena sebab yang haram atau untuk tujuan terlarang, maka hukumnya menjadi haram. Dalam hal ini, apabila tidak demikian, maka halal hukumnya. Tapi, perlu diingatkan pada para pemuda dan pemuda agar tidak menjerumuskan diri dalam gelora perasaan hati dan syahwat kepada lawan jenisnya.

Sebab, lautan cinta sangat dalam. Gelombang cinta sangat keras dan membahayakan. Orang tidak akan selamat dari gelombang cinta yang besar kecuali seseorang yang mempunyai akal kuat, serta moral dan agama yanf mantap. Sangat sedikit sekali orang yang bisa menghindar dari godaan cinta yang begitu dahsyat.

Quraish Shihab mengungkapkan bahwa Islam merupakan agama cinta. Mengapa Islam dikatakan agama cinta? Sebab, Islam menuntut umatnya untuk beriman dan berislam. Allah Swt. menciptakan manusia tidak hanya dilihat dari konteks keimanannya, tapi Dia juga menciptakan alam dan segala isinya untuk manusia.

Semua yang ada di langit dan bumi ditundukkan oleh Allah Swt. karena cintanya kepada manusia. Karena itu cintailah Allah, karena Dia mencintai umatnya. Bentuk kecintaan lainnya yang diungkap oleh Quraish Shihab adalah mencintai Rasul. Karena Rasul mencintai manusia, sebelum manusia mencintainya.

Ia berpesan agar setiap orang mencintai dirinya sendiri dan jangan menjerumuskan sesuatu yang dapat merugikannya. Cinta tidak menjerumuskan. Cinta adalah anugerah apabila kita bisa mengendalikannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here