Mengapa Ulama Dulu Haramkan Ucapan Selamat Natal, Sekarang Tidak? Ini Kata Habib Ali al-Jufri

12
6837

BincangSyariah.Com – Perayaan Hari Natal bagi umat Kristiani mungkin akan segera berakhir karena waktu sudah sore. Di kalangan umat Islam sendiri, perlahan perdebatan itu akan sirna ketika 25 Desember berakhir, dan berganti menjadi perdebatan-perdebatan lainnya. Tapi, sekali lagi kami menuliskan ini agar kita sama-sama mengetahui dan menghargai bahwa ulama saat ini juga punya pendapat soal mengucapkan Natal. Meskipun agak berbeda dengan yang mengatakan tidak boleh, tapi yang menfatwakan boleh juga punya argumen yang menarik juga untuk dicermati, dan mereka adalah tokoh besar di dunia Islam, saat ini.

Berikut ini adalah petikan penjelasan dari Habib ‘Ali al-Jufri, ulama besar, salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw. dan kini tinggal di Uni Emirat Arab. Beliau menyampaikan pernyataan dalam sebuah forum seminar, tentang mengapa ada perbedaan fatwa antara dahulu dengan sekarang dalam persoalan menyampaikan ucapan selamat Natal. Berikut poin-poin pendapat beliau,

Pertama, benar sekali kalau mayoritas ahli fikih terdahulu (al-mutaqaddimun) mengatakan bahwa mengucapkan selamat (arab: at-tahni’ah) terhadap hari-hari besar umat agama lain itu diharamkan. Kita tidak bisa ulama fikih dahulu sebagai ulama yang mutasyaddid (keras). Pendapat itu benar di zaman itu. Tapi hari ini, fatwa atau pendapat keagamaan tersebut wajib berubah.

Kedua, alasan wajibnya berubah tersebut adalah dahulu para ulama fikih melarang untuk mengucapkan selamat karena budaya pada masa itu mengucapkan selamat berarti sama dengan ikut meyakini keyakinan agama tersebut. Pada masa yang sangat lama dahulu orang berbuat baik seperti mengucapkan selamat kepada agama lain itu nilainya sama dengan menetapkan kalau akidah mereka benar. Jelas itu salah

Ketiga, Di masa itu, tidak seperti sekarang, tidak ada gereja yang mengucapkan ucapan selamat atas perayaan agama lain. Tidak ada dahulu kondisi seperti sekarang misalnya, “selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri”, “selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan”, dan sebagainya. Sekarang kondisi telah berbeda sama sekali.

Baca Juga :  Terkait Haikal Hassan Baras, Ini Hukum Mengucapkan Salam pada Non Muslim

Keempat, sekarang mengucapkan selamat tidak sama sekali menunjukkan kalau kita menegaskan kalau akidah/keyakinan mereka benar. Ucapan selamat saat ini hanya bermakna berbuat baik (al-birr), interaksi yang baik nan akbar (husn al-‘isyrah), hidup bersama, saling mencintai, saling bersaudara dalam makna kemanusiaan dan mewujudkan kedamaian. Karena itu, fatwanya sudah semestinya bisa berubah. Kondisi demikian, justru sesuai firman Allah Swt. dalam surah al-Mumtahanah: 8,

 لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil, kepada orang-orang yang tidak memerangi dan mengusir kalian dari rumah-rumah yang kalian tempati. Sesungguhnya Allah Swt. mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Kelima, dengan dasar tersebut sangat mungkin hukum mengucapkan selamat kepada hari-hari besar agama lain berubah hukumnya dari haram menjadi dianjurkan (mustahabb). Alasannya adalah karena ‘illah hukumnya telah berubah. Disinilah berlaku hukum al-hukmu yadūru ma’a ‘illatihi wujūdan wa ‘adaman (hukum dilaksanakan bersama dengan ada tidaknya ‘illat hukum itu). Mengapa berubah? Inilah yang disebut sebagai pandangan yang jernih (tanqiyyatu al-‘uquul)dalam melihat teks-teks turats keagamaan yang ditulis oleh para ulama.

Semoga dengan pandangan ini, kita semua bisa semakin lebih baik dalam menjalankan ajaran agama. Seperti pandangan beliau, Habib Ali al-Jufri di tempat yang lain, kita sangat bisa untuk tidak setuju dengan pandangan soal mengucapkan selamat untuk perayaan agama lain. Tapi kita tidak seyogyanya mengatakan kepada yang mengatakan boleh itu telah keluar dari agama, karena persoalan ini masuk ke dalam wilayah ijtihad. Wallahu A’lam.

12 KOMENTAR

  1. *Seorang Nasrani sejati, meski tak diberi ucapan Natal, tak akan berkurang kadar bahagianya dan ia memaklumi pendapat saudaranya yang berbeda Iman…*

    *Seorang Muslim sejati, meski tak mengucapkan Natal, tak akan berkurang rasa sayangnya terhadap saudaranya yang berbeda Iman …*

    *agamamu, tetap agamamu, agama q tetap agama q , namun engkau adalah saudaraku yang mesti kujaga, kusayangi dan kuhormati, sebagaimana engkau menjaga, menyayangi dan menghormatiku*

    • “Seorang Nasrani sejati…Seorang Muslim sejati…”

      Soal sejati atau enggak, biar urusan Tuhan yang menilai. Karena cuma Dia yang tau.

      “…meski tak diberi ucapan Natal, tak akan berkurang kadar bahagianya.”

      Kalau bisa menambah kebahagiaannya hanya dengan mengucapkan, apa salahnya kan? Menambah kebahagiaan dan tidak mengurangi kebahagiaan, jelas lah ya mana yang lebih utama.

      “…ia memaklumi pendapat saudaranya yang berbeda Iman…”

      Kalau orang Kristen diminta bisa memaklumi pendapat yang berbeda agama, kenapa muslim sendiri mesti sulit memaklumi saudara seiman yang berpendapat mengucapkan selamat Natal itu boleh?

      “agamamu, tetap agamamu, agama q tetap agama q”

      Ada yang menganggap ucapan selaman bagian dari gangguan iman, ada yang anggap itu biasa saja. Jadi ga perlu pakai ukuran sendiri untuk menilai orang lain. Yang penting semua saling menghormati dan menyayangi

  2. Sepertinya dapat tempat di hati kalian orng orang kafir, sebaik baik org kafir tetap dia buruk di mata allah karena ia tdk beriman kpd allah dan rosulullah, wahai admin engkau yg menukilkan dan yg menulis akan bertanggung jawab di akhirat

  3. Berita ini hoaks..terjemahan bahasa arabnya dirubah. Padahal inti dari bahasa arabnya habib telah melarang ucapan Natal..namun kalau mengucapkan atas kelahiran Nabi ‘Isa a.s Boleh ada illahnya..

  4. mengucapkan assalamu’alaikum dan wa’alaikum salaam hrs diganti wa’alaikum saja. Dan ini hanya ucapan yg isinya lebih ringan dari selamat.natal. Itu saja Rasul Saw berani bersikap. Dan Rasulpun bisa melakukan ucapan selamat natal pada kaum nasrani di madinah yg tdk pernah dilakukannya…..

    terlalu banyak asosiasi dan cocokologi dalam mengambil hukum..
    Ambil pendapat jumhur ulama yg wara’ saja sdh cukup…

    Bersikap wara’lah..
    Semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak..

    • Yang harus mas tahu, ketika itu Nabi Saw. merespon orang Nasrani yang mempermainkan Assalamualaikum menjadi Assamu ‘Alaikum (racun bagi kamu). Berarti konteksnya, permusuhan bukan.

      Sekali lagi, tidak setuju juga tidak apa-apa

  5. Yg haram sdh jelas, begitupun yg halal. Diantaranya ada syubhat.
    Dan barang siapa yg meninhgalkannya dia sdh menyelamatkan dirinya dan kehormatannya.
    Apalagi kalau menyangkut aqidah.
    Terlalu besar resikonya.
    Mending cari aman sj min.
    Taukan t4nya org kafir diakhirat???

  6. Yang aman ya bersikap hati-hati. Adakah orang-orang shaleh dahulu mengucapkannya ?? Adakah ulama-ulama dahulu mengucapkan ?? Adakah ketika mengucapkannya Allah s.w.t. memberikan pahala kepada kita ?? Adakah ketika kita mengucapkannya akan menjadi asbab mereka mendapatkan Hidayah masuk Islam ??Kalau jawabannya TIDAK, buat apa kita mengucapkannya !!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here