Mengapa Salat Kebanyakan Kita itu Tak Bisa Khusyuk? Ini Ulasan Menarik Ibnu Arabi

0
775

BincangSyariah.Com – Ibnu Arabi merupakan ulama sufi yang sangat terkenal dengan pandangan-pandangannya yang kontroversial. al-Jabiri menyebut dalam Bunyat al-Aql al-Arabi bahwa Ibnu Arabi ialah sosok yang dalam syariah mengikuti madzhab adz-Zahiri dan dalam tasawwuf mengikuti aliran kebathinan.

Lebih jauh lagi, al-Jabiri bahkan menilai Ibnu Arabi telah banyak menimba inspirasi pengetahuan kebatinannya dari kalangan Syiah Kebatinan yang bermuara kepada filsafat neo-platonisme dan Hermes. Gagasan-gagasannya tentang paham kebathinan ini sangatlah mengganggu ortodoksi ajaran keagamaan resmi.

Misalnya dalam Futuhat Makkiyah, Ibnu Arabi sering mengklaim dirinya sebagai khatam al-awliya (penutup para wali). Dan dengan konsep shathaha Munadiyin khatam al-awliya seperti yang dijelaskannya dalam kitab Futuhat Makkiyyah-nya ini, Ibnu Arabi seolah masih memberikan peluang bagi adanya pandangan bahwa sesudah Nabi Muhammad SAW masih ada nabi, tapi bukan nabi pembawa syariat dengan kitab suci yang baru melainkan nabi sekunder, nabi tersier dan seterusnya yang mendukung ajaran nabi pembawa syariat. Pandangan ini jelas sangat berbahaya. Mungkin Mirza Ghulam Ahmad yang diklaim para pengikutnya sebagai nabi menimba konsep kenabiannya ini dari Ibnu Arabi dalam kitabnya, Futuhat Makkiyyah.

Namun terlepas dari pandangan-pandangannya yang sangat kontroversial, Ibnu Arabi memiliki pandangan yang unik tentang salat. Ibnu Arabi mengatakan bahwa banyak sekali yang salat tidak mendapati salatnya kecuali lelah dan hanya melihat mihrabnya saja. Ibnu Arabi kemudian membuat syair yang kira-kira terjemahannya demikian: “Banyak pelaku salat tidak mendapati apa pun dari salatnya // selain melihat mihrab, capek, dan lelah saja // Tapi ada orang yang berhasil melakukan munajat, //meskipun dia sudah melakukan salat// dan tidak melupakan salat nafilah.”

Artinya di samping ada orang yang di dalam salatnya tidak meraih apa pun kecuali melihat mihrab – seperti salat yang dilakukan dalam masjid – atau kecapaian, ada juga orang yang meskipun sudah melakukan salat dan salat nawafil masih juga melakukan munajat. Munajat ini dalam bahasa Indonesia berarti membina komunikasi dengan Tuhan secara intim. Lalu pertanyaannya ialah bagaimana mungkin orang itu meyakini rahasia kebenaran?

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Berapakah Jumlah Para Nabi itu?

Salat dalam pandangan Ibnu Arabi ialah rahasia kebenaran, sir al-haqq – suatu istilah yang khas di kalangan sufi yang bermakna bahwa kebenaran adalah suatu rahasia. Menariknya, jika kebenaran dalam pandangan ilmu pengetahuan merupakan kebenaran yang bisa di-share kepada orang lain, kebenaran yang bersifat nisbi atau fisik yang dapat dibagi dengan orang lain. artinya kebenaran itu diberitahu kepada orang lain dan orang lain bisa mengerti; bisa mengulangi hal yang sama dan memperoleh sesuatu yang sama. Namun kebenaran dalam pandangan sufi merupakan kebenaran yang sangat rahasia.

Ibnu Arabi mengatakan bahwa tahrim-nya orang yang salat ialah takbir. Kalau seseorang melakukan salat dengan benar, ia membaca takbir. Kalau tidak, tidak ada lagi persoalan halal-haram.  Kita mengetahui takbir, takbir yang pertama adalah takbiratul ihram. Dalam perspektif fikih, kalau kita telah takbiratul ihram, kita diharamkan melakukan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan upaya mengingat Allah, tidak bersifat vertical, dan tidak hablun minallah, sehingga segala sesuatu yang bersifat hablun minannas menjadi haram.

Oleh karena itu, takbir tersebut disebut takbiratul ihram. Sementara dalam persepsi tasawwuf lebih tinggi dari itu. Sebab, dalam salat terjadi pencapaian tujuan yang juga rahasia. Taslim-nya adalah ucapan assalamu’alaikum sebagai tanda akhir salat. Dengan ucapan assalamu’alaikum itu, yang tadinya diharamkan dalam salat menjadi halal kembali. Berbicara halal jadi halal, makan jadi halal dan seterusnya. Akan tetapi menurut Ibnu Arabi taslim harus lebih tinggi daripada itu.

Orang yang salat harus benar-benar mengikuti Nabi Muhammad SAW ketika melakukan proses kembali yang sangat mulia dari peristiwa menghadap Tuhan pada saat Isra’ Mi’raj. Kita mengetahui bahwa Nabi SAW kembali dari Allah dengan salam yang sangat hormat. Seolah-olah begitu juga dalam salam kita ketika selesai salat, meniru Nabi Muhammad SAW. Dalam tinjauan lain disebutkan bahwa salat adalah mikrajnya orang yang beriman.

Baca Juga :  Ini Lima Keutamaan untuk Orang yang Mampu Menjaga Salat

Di antara dua maqam takbir dan taslim ada ghayah atau tujuan yang sangat tinggi, bahkan rahasia-rahasia kegaiban yang tidak dapat dirasakan dan dilihat. Di sini tampak Ibnu Arabi sangat ortodoks. Dia menghendaki kita agar kita tidak semata-semata melakukan salat secara lahiriah, secara fiqhiyyah semata – tempat harus bersih, pakaian harus bersih, harus menghadap qiblat, sesuai dengan rukunnya, dan sebagainya.

Sebab, selama ini tidak ada tafsiran mengapa kita menghadap kiblat; tidak ada tekanan bahwa dalam salat itu harus benar-benar sebagai sarana untuk menyingkap tabir-tabir yang menghalangi kita dari Allah. Tidak ingat kepada Allah memang tidak membatalkan salat tetapi menurut kaum sufi itu bisa mubah. Itulah makna yang ditekankan Ibnu Arabi dalam syairnya: “Banyak pelaku salat tidak mendapati apa pun dari salatnya // selain melihat mihrab, capek, dan lelah saja //.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here