Mengapa Perlu Ada Asuransi? Ini Pandangan Hukum Islam

2
965

BincangSyariah.Com – Asuransi merupakan akad muamalah yang tidak sedikit orang menggunakannya. Mengapa perlu ada asuransi? Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah [5] ayat 2, Allah Swt. memerintahkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Takutlah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Keras siksa-Nya.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 2)

Perintah yang terdeteksi dari ayat ini, adalah agar seorang hamba gemar untuk melakukan tolong-menolong (ta’awun) dalam perbuatan al-birr yang disertai dengan takwa, dan Allah Swt. melarang perbuatan dosa serta menimbulkan permusuhan (‘udwan). (Baca: Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi Bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional)

Ada pernyataan menarik dari al-Mawardi mengenai maksud dari perbuatan al-birru dalam ayat di atas. Hal ini, sebagaimana dikutip oleh Al-Qurthuby:

وقال الماوردي : ندب الله سبحانه إلى التعاون بالبر وقرنه بالتقوى له ; لأن في التقوى رضا الله تعالى ، وفي البر رضا الناس ، ومن جمع بين رضا الله تعالى ورضا الناس فقد تمت سعادته وعمت نعمته

“Al-Mawardi mengatakan:  Allah Swt. menyunnahkan tolong menolong dalam berbuat al-birru yang dibarengi dengan ketakwaan kepadanya, karena sesungguhnya di dalam takwa terdapat keridhaan Allah, dan di dalam al-birru, terdapat keridhaan manusia. Terkombinasinya antara ridha Allah dan ridha manusia pada diri seorang insan, maka jadilah manusia yang paripurna kebahagiaannya dan kenikmatan yang diperolehnya.” (Tafsir al-Qurthubi Q.S. Al-Maidah [5]: 2, shahihaf: 106).

Meski Allah Swt. menganjurkan tolong menolong dalam perbuatan baik, namun Allah Swt. juga tidak memerintahkan agar manusia melakukannya di luar batas kemampuan insan tersebut.

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وسعهَا

“Allah tidak memaksa individu kecuali sebatas kemampuannya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 285)

Antara perintah tolong-menolong (ta’awun) dalam kebaikan yang disertai ketaqwaan dari yang menolong, dan dibatasi oleh adanya takhfif (keringanan) bahwa pertolongan lahir bukan karena sifat keterpaksaan melainkan sebatas kemampuan, maka dalam Islam muncul banyak akad yang berkaitan dengannya. Ada akad utang-piutang (qardl), qiradl (bantuan modal), rahn (gadai), dlaman (ganti rugi/pertanggungan risiko), hawalah (pengalihan tanggungan), syuf’ah (aquisisi), ijarah (sewa menyewa), dan kafalah (pasang badan) atau bahkan syirkah (kemitraan).

Baca Juga :  Benarkah Premi Asuransi itu Sama dengan Pungutan Liar?

Itulah sebabnya, berbagai akad tersebut kemudian dibatasi oleh beberapa ketentuan yang berkaitan dengannya, agar tidak muncul sikap melampaui batas (al-ta’addy), tetap dalam koridor keadilan (al-adlu), menghilangkan sikap eksploitatif (al-dhulmu), gharar (menipu), ghabn (curang), riba, maisir (spekulatif), risywah (suap-menyuap).

Alhasil, tolong menolong harus terhindar dari semua bentuk transaksi haram dan dilarang oleh syara’. Dan tujuan utama dari tolong menolong (ta’awun) adalah meneguhkan relasi antara sesama orang Islam (ukhuwah Islamiyah), baik atas dasar agama maupun atas dasar kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) atau warga negara (ukhuwah wathaniyah).

Kafalah, merupakan relasi perlindungan / penjaminan terhadap orang lain melalui sikap berani pasang badan terhadap orang yang dijamin, atau siap menanggung resiko dengan harta terhadap pihak yang dijamin itu. Alhasil, rukun yang termuat dalam akad kafalah ini, mencakup:

  1. Adanya orang yang siap pasang badan (kafil)
  2. Adanya orang yang dijamin (ashil)
  3. Adanya bentuk obyek yang dijamin (makful bih), misalnya jiwa atau harta
  4. Hal-hal yang berkaitan dengan obyek dijamin (makful lah), misalnya utang (dain), jiwa (nafs), pekerjaan (amal), atau segala sesuatu yang tidak masuk kategori utang, jiwa atau pekerjaan (ma laisa dainan, nafsan, atau amalan)

Bedanya akad kafalah dengan akad dhaman, adalah kafil merupakan pihak ketiga yang tidak secara langsung berkaitan dengan sifat obyek yang dijamin. Sementara itu, pada dhaman, penjamin (dhamin) adalah orang yang berkaitan langsung dengan “obyek ganti rugi” milik pihak yang dijamin. Oleh karenanya, dhamin, merupakan pihak kedua (secara langsung).

Karena perintah ta’awanu (tolong menolong) disampaikan dengan muatan dlamir jama, maka ada dua akibat yang muncul. Pertama, adakalanya sikap tolong menolong itu dilakukan oleh seorang individu. Kedua, adakalanya sikap tolong menolong itu dilakukan secara bersama-sama (gotong-royong). Berangkat dari sini, maka apabila sikap tolong-menolong (ta’awun) ini disampaikan melalui akaad kafalah (pasang badan), maka itu menandakan bahwa sikap pasang badan bisa dilakukan juga, baik secara individu, maupun secara bersama-sama. Itulah sebabnya, maka kerjasama dalam tolong-menolong dengan basis akad kafalah ini, dinamakan dengan istilah takaful. Para fuqaha’ modern selanjutnya menyebut sebagai istilah “asuransi”.

Baca Juga :  Hukum Makan Bekicot, Halal Atau Haram?

Karena awal mula kafalah merupakan akad pertolongan terhadap seorang individu dan bersifat insidental, maka jika kafalah itu berupa harta (kafalat al-mal), maka harta yang dijadikan penjamin sudah pasti asalnya adalah dana sukarela (tabarru’). Hal ini berangkat dari sikap ta’awun itu sendiri yang memuat di dalamnya sikap sukarela karena semata mengharap ridha Allah SWT. Termasuk dalam hal ini adalah kafalah bi al-badan (pasang badan). Tidak ada beban kewajiban berupa pengembalian harta atau jiwa bagi individu yang ditanggung (ashil), misalnya ganti mengembalikan harta atau ganti pasang badan terhadap kasus yang ditimpa kafil di masa yang akan datang. Sekali lagi ini adalah hukum asal (awal mula) disyariatkannya kafalah.

Namun, seiring perkembangan bahwa yang dipasangbadani terdiri dari harta yang bersifat utang (dain), sementara pihak yang berani pasang badan adalah pihak yang miskin (sama-sama dalam kesulitan), maka otomatis bila terjadi penarikan pada hartanya kafil disebabkan utangnya ashil, maka harta itu menjadi harta utang bagi pihak yang ditanggung (ashil) terhadap kafil.

Hal yang sama juga berlaku untuk jenis obyek yang ditanggung terdiri atas pekerjaan yang sebenarnya harus ditanggung oleh ashil. Bila ternyata kafil yang melakukan pekerjaan itu, maka dirinya berhak untuk mendapatkan ujrah (fee) dari ashil, disebabkan relasi antara ashil dan kafil adalah menyerupai relasi wakil dan muwakkil, khususnya bila peran kafil itu adalah peran yang dipinta oleh ashil. Fee yang diterima oleh kafil dari ashil ini, dikenal sebagai akad wakalah bi al-ujrah. Namun, ulama memperselisihkan hal ini karena menyerupai riba, sebab kafil menerima dua hal, yaitu pokok utang, dan ujrah (fee) yang dalam beberapa segi ujrah ini dianggap sebagai utang yang disyaratkan. Di antara ulama yang  membolehkan, menyatakan sebagi berikut:

Baca Juga :  Doa Mohon Perlindungan dari Gangguan Setan

لو كفل به علي أنه إن لم يواف به غدا ففلان يعني رجلا آخر وكيل في خصومته فما قضى به عليه فأنا ضامن له فرضي بذلك المطلوب فهو جائز إذ لافرق أن يكون الوكيل والضامن للمال هو الكفيل بالنفس وبين أن يكون غيره إذا وجد منه القبول لذلك

“Seandainya seseorang melakukan pasang badan lewat ucapan: “Saya siap menanggung bila ia tidak mampu menunaikan kewajibannya besok.” Maka dalam konteks seperti ini, keberadaan orang lain (pihak ketiga yang menjadi menyatakan siap menanggung tersebut) berlaku sebagai wakil bagi ashil dalam sengketa yang dihadapinya. Oleh karena itu, maka ungkapan “jika ia tidak mampu membayar utangnya, maka saya siap menjadi penjamin baginya, dan silahkan penagihan dibebankan padaku”, hukumnya adalah jaiz (boleh), karena tidak ada beda antara ia beraku sebagai wakil, atau penjamin, dua-duanya adalah sama-sama merupakan peran kafil bi al-nafs. Hal yang sama juga berlaku bila pihak kafil tersebut diperankan orang lain, dengan catatan adanya lafadh penerimaan (persetujuan / qabul) dari ashil terhadap kafil.” (al-Mabshuth li Syamsuddin al-Sarakhsy, Juz 20, halaman 3-4)

Alhasil, dengan mencermati ini, maka unsur penyusun utama akad “asuransi syariah” adalah terdiri dari 2 hal, yaitu: 1) ada dana tabarru’ (dana khusus untuk niat tolong menolong), dan 2) ada dana premi (wajib), khususnya bila asuransi itu disusun atas usaha bersama. Sebab, dalam usaha bersama, meniscayakan orang yang mengurusi sehingga berhak mendapatkan ujrah (fee). Kedudukan pihak yang khusus mengurusi asuransi ini adalah bertindak selaku kafil, dlamin dan wakil. Wallahu a’lam bi al-shawab

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Sikap berani pasang badan terhadap pihak bermasalah dalam kajian fikih sering dikenal sebagai objek kajian kafalah. Sikap ini bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) dengan badan si penanggung itu sendiri (kafalah bi al-nafsi), dan 2) dengan harta yang dimiliki pihak penanggung (kafalah bi al-mal). (Baca: Mengapa Perlu Ada Asuransi? Ini Pandangan Hukum Islam) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Ketika seseorang memutuskan untuk ikut dalam sebuah asuransi (takaful), yang berarti ikut dalam kesepakatan ikatan untuk saling bergotong-royong dan tolong-menolong dalam menanggung beban risiko yang mungkin akan dihadapi oleh salah seorang anggotanya, maka umumnya ia dikenai kewajiban membayar iuran yang dipungut setiap bulannya atau periode tertentu yang disyaratkan. Iuran ini kemudian dikenal dengan istilah biaya Premi. (Baca: Mengapa Perlu Ada Asuransi? Ini Pandangan Hukum Islam) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here