Mengapa Cahaya Ilahi Sulit Masuk dalam Hati Kita? Ini Kata Buya Syakur

0
61

BincangSyariah.Com – Kita mungkin sering bertanya mengapa cahaya ilahi sulit masuk ke dalam hati kita. Sebelum bertanya lebih jauh dan menduga yang tidak-tidak tanpa bertumpu pada alasan yang jelas, mari simak penjelasan Buya Syakur Yasin tentang cahaya ilahi dalam video di youtube channel Wamimma TV sebagai berikut:

Menurut Buya Syakur Yasin, masalah pencahayaan begitu lengkap sekali. Terkait cahaya ilahi, al-Qur’an telah mencantumkannya dalam Q.S. an-Nur ayat 35 sebagai berikut:

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun ‘alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

Artinya:

Allah Swt. (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah Swt., adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah Swt. membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Baca Juga :  Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Menurut Buya Syakur Yasin, alasan mengapa cahaya ilahi sulit masuk pada hati kita diakibatkan beberapa hal. Saat cahaya tidak masuk ke dalam hati seseorang, jangan mengatakan bahwa cahaya lemah. Cahaya sangat kuat sekali. (Baca: Dua Golongan yang Dekat dengan Allah Menurut Ibnu Athaillah)

Jika cahaya ilahi kuat, lantas mengapa tidak kunjung masuk? Sebab dalam ruangan hatimu banyak barang-barang bodol (rusak). Terlalu banyak yang rusak sehingga cahaya ilahi sulit masuk. Buya Syakur Yasin menganalogikan adanya kursi, kasur, mobil, sertifikat, anak-anak, dan sebagainya yang berjubel dalam satu ruangan.

“Bayangkan, ruangan tersebut diisi kardus-kardus kaleng. Bagaimana bisa terang?” Tanyanya, menekankan. Ia lalu menambahkan, “Teori suluk adalah mengosongkan hati agar cahanya masuk. Hati kita penuh dengan sampah-sampah. Jadi akhirnya kita mesti cepat kembali pada teori suluk yang sudah dijalankan ratusan tahun lamanya dan efektivitas sudah kita rasakan, membersihkan diri jangan ada maksud apa pun di dalam hati kita.”

Saat mengucapkan kalimat syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah Swt.”

Tidak ada Tuhan berarti kosongkan hatimu dari segala Tuhan kecuali Allah Swt. Teorinya, hati adalah interior decoration. Ruangan didekorasi sedemikian rupa agar bagus dan rapi dalam menata barang-barang.

Sebagai penutup, Buya Syakur Yasin menganalogikan bahwa seorang interior decoration akan mengosongkan seluruh ruangan tersebut dari semua barang barulah diisi seperti imajinasi, bagaimana dekorasinya dan lain sebagainya.

Karena itulah kalimat syahadat berbunyi “Tiada Tuhan” terlebih dahulu kemudian “Selain Allah Swt.” Alasan mengapa cahaya ilahi sulit masuk pada hati kita adalah karena ruangan hati yang belum kosong dan masih dipenuhi hal-hal yang tidak berguna.[]

Baca Juga :  Bertanya Kritis Ala Anak Kecil, Ternyata Sesuai Sunah Nabi dan Hasil Riset

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here