Mengapa Belajar Filsafat Penting?

1
28

BincangSyariah.Com – Belajar filsafat kerap dikaitkan dengan kekeliruan cara berpikir, bahkan ateisme. Padahal, belajar filsafat sebenarnya membentuk logika yang terukur dan kemampuan mengamati obyek dengan clear. Setiap mengamati sebuah obyek, filsafat akan menguraikan dalam ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Sebelum memahami apa itu filsafat, seharusnya kita terlebih dahulu menjadi gelas kosong, melepaskan segala stigma yang melekat dan mencoba menelan apa-apa yang ada dalam filsafat dengan lapang dada, tanpa tendensi apa pun. Cara tersebut akan lebih efektif dalam belajar filsafat ketimbang membuat asumsi-asumsi tidak jelas sebelum mempelajarinya.

Stigma Tentang Filsafat

Banyak orang memiliki anggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang membingungkan bahkan menyesatkan manusia. Anggapan ini menimbulkan bahwa orang yang belajar filsafat akan menjadi sesat dan cara berpikirnya berbeda dengan orang lain atau masyarakat umum, bahkan dianggap menyalahi aturan-aturan yang ada.

Pandangan tersebut sebenarnya sangat keliru sebab jika seseorang mampu mempelajari filsafat dengan clear, filsafat secara esensial justru sangat penting artinya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan.

Sebab, filsafat secara umum sebenarnya bisa diartikan sebagai cara berpikir yang menyeluruh, mendalam, radikal dan rasional, tentang sesuatu, hal apa pun yang bisa dianalisis. Banyak orang mengartikan filsafat sebagai jalan mencari kebenaran.

Pengertian tersebut bisa disahkan mengingat bahwa filsafat sebenarnya adalah sikap bertanya secara terus menerus tentang segala hal, dari persoalan kecil sampai persoalan besar, dari perkara hukum sampai politik, bahkan bisa juga moral dan metafisika.

Memang ada banyak istilah dalam filsafat yang tidak ada dalam kamus bahasa biasa. Ada banyak pembahasan dalam filsafat yang menggunakan istilah tertentu dan hanya bisa ditemukan artinya dalam kamus filsafat. Wajar apabila dalam menggeluti fisafat atau belajar filsafat, seorang filsuf membutuhkan waktu yang sangat banyak.

Kerumitan bahasa inilah yang kemudian memunculkan stigma bahwa filsafat sangat rumit untuk dipelajari. Filsafat sebenarnya bukan rumit. Filsafat hanya sangat detail sehingga banyak orang yang tak mampu memahami detailing tersebut lalu menyerah dan menganggapnya sebagai hal yang sulit untuk dipelajari.

Jika dikulik secara akademik, Himyari Yusuf dalam buku Filsafat Ilmu (2009) menuliskan sebagai berikut: filsafat adalah disiplin ilmu yang berkiatan dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah titik ideal dalam kehidupan manusia, sebab kebijaksanaan menjadikan manusia untuk bersikap dan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi. Belajar filsafat adalah tentang memanusiakan manusia.

Pengertian tersebut membawa filsafat memiliki arti berpikir secara menyeluruh, radikal dan rasional. Filsafat adalah proses tanpa henti untuk mencari kebenaran secara terus menerus. Pada akhirnya, orang yang menggeluti filsafat akan dapat memahami makna segala sesuatu termasuk makna kehidupan manusia.

Memang dalam tema-tema filsafat ada beberapa tokoh yang menyinggung tentang ateisme. Tapi, mesti digarisbawahi bahwa ateisme hanyalah secuil pembahasan dalam filsafat. Filsafat mencakup banyak hal yang tak terbatas, sejak dulu hingga nanti di masa depan.

Pentingnya Memahami Filsafat Islam

Filsafat bukan hanya dari Yunani dan negara-negara Barat. Di masa lalu, filsafat Islam justru diagungkan bahkan menjadi pembahasan yang elegan dan unik hingga saat ini. Filsafat Islam bisa diartikan sebagai cara berpikir secara menyeluruh, radikal dan rasional sebagai proses yang tanpa henti untuk mencari kebenaran secara terus menerus. Filsafat Islam juga bisa dipahami sebagai makna segala sesuatu termasuk makna kehidupan manusia dan seluruh rangkaian yang terkait dengannya.

Dalam tataran ontologis, filsafat Islam dirumuskan sebagai hakikat manusia dan kemanusian. Pada tataran epistemologis, filsafat Islam bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dalam filsafat Islam, ada pula potensialitas indera, akal, hati (intuisi). Tataran aksilogis menjadikan filsafat Islam memiliki nilai guna untuk kesejahteraan hidup manusia lahir dan batin, secara jasadiah dan ruhaniah.

Tradisi intelektual Islam bisa menjadi istilah lain dalam belajar filsafat Islam sebab merupakan istilah yang umum untuk filsafat. Ada juga istilah hikmah yang kerap disamakan dengan filsafat Islam agar orang-orang tidak memiliki kesan bahwa filsafat adalah barang asing. Filsafat Islam bukan hal yang asing, akan tetapi berasal dan bermuara pada al-Qur’an.

Meskipun filsafat adalah tradisi intelektual Islam, tapi tidak sedikit juga yang orang Islam yang anti dengan filsafat. Pemahaman ini muncul dikarenakan filsafat dianggap mengandung unsur-unsur ateisme, sekularisme, relativisme, pluralisme, dan liberalisme. Padahal, filsafat Islam erat kaitannya dengan pencarian kebenaran kemanusiaan yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah yang tidak meninggalkan indera, akal dan intuisi.

Dalam ajaran Islam, manusia memiliki kedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi. Maka dari itu, seorang manusia harus benar-benar memahami siapa dirinya, berada di mana, dan untuk apa dia ada.

(Baca: Benarkah Filsafat Islam Sudah Tidak Relevan?)

Penting Gak Sih Memahami Relasi Filsafat dan Kehidupan?

Keberadaan manusia sebagai sentral dari semesta mesti memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama manusia dan alam atau lingkungan lainnya. Untuk itu, belajar filsafat mestinya menjadi pendekatan untuk menggali fungsi moral dan agama bagi kehidupan masyarakat, baik teoritis ataupun praktis.

Filsafat di sini digunakan sebagai jembatan dari nilai-nilai moral dan agama yang bisa dipahami sebagai hakikat atau dasarnya. Pendekatan tersebutlah yang memungkinkan hakikat, fungsi moral, dan agama bisa diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya.

Mohammad Muslih dalam Filsafat Ilmu, Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (2004) mencatat bahwa Fazlur Rahman menyatakan: filsafat sangat diperlukan untuk menerobos kemacetan dan jalan buntu yang dihadapi ilmu, baik keilmuan alam, sosial maupun humanitis, termasuk masalah-masalah keagamaan.

Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri bahwa filsafat adalah alat intelektual yang terus menerus diperlukan di mana filsafat dipakai sebagai pendekatan. Hal tersebut wajar sebab filsafat membiasakan akal pikiran untuk bersikap kritis-analitis dan melahirkan ide-ide segar yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Maka, filsafat adalah alat yang sangat penting untuk intelektual dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan termasuk dalam agama dan teologi.

Sejatinya, filsafat ada untuk kepetingan kehidupan manusia. Filsafat bisa dijadikan sebagai alat pendekatan dalam mengkaji dan menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan manusia. Maka dari itu, belajar filsafat mestinya menjadi hal yang wajib dalam kehidupan, bukan dipelajari sambil lalu begitu saja.

Urgensi filsafat tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan, tapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk permasalahan moral dan agama. Saat ini, masyarakat kontemporer sedang menghadapi permasalahan hidup yang sangat kompleks, atau hampir dalam setiap aspek kehidupan menghadapi problem yang mesti diselesaikan.

Peradaban dunia mengalami berbagai kemajuan. Kemajuan diiringi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan spektakuler. Fakta menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan telah melahirkan berbagai teknologi canggih, terutama teknologi dalam bidang komunikasi dan transformasi.

Kedua bidang teknologi tersebut mengubah peradaban manusia yang luar biasa. Dunia seakan tanpa batas, semua hal menjadi tak bersekat. Tak ada pembatas yang memisahkan negara yang satu dengan lainnya, komunitas yang satu dengan lainnya, bahkan antara individu dengan individu lainnya.

Sayangnya, kemajuan pesat tersebut juga menimbulkan hidup yang kosong. Kegamangan sikap hidup dan kegersangan jiwa yang dialami masyarakat adalah akibat dari menipisnya nilai-nilai moral dan agama. Filsafat ada untuk memahami hakikat moral dan agama dan sekaigus nilai-nilai moral dan agama untuk manusia khususnya masyarakat global.

Quraish Shihab dalam Wawasan al-Qur’an (2007) mencatat bahwa tidak sedikit orang yang menuntut perubahan di segala hal, termasuk nilai-nilai dasar agama. Agama Islam menurut kelompok tertentu harus juga menyesuaikan diri dengan perubahan itu.

Perubahan tersebut sebenarnya banyak menimbulkan krisis atau kemiskinan yang sangat mendasar. Ada kekeringan nilai-nilai moral dan spiritual atau miskin spiritualitas. Nilai-nilai kemanusiaan kian terpuruk, sampai pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Maka dari itu, filsafat ada agar manusia memahami makna yang lebih dalam dari setiap hal dan peristiwa.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here