Mengapa Ada Perbedaan Pendapat dalam Hukum Islam?

1
122

BincangSyariah.Com – Seringkali kita temukan perbedaan pendapat dari para ulama terkait dengan persoalan fikih. Satu diantara yang paling kerap dibicarakan dari dulu dan tidak kelar hingga kini ialah soalan doa qunut dalam salat shubuh. Ada Imam yang mengatakan bahwa hukumnya adalah sunnah ab’ad, dan ada pula yang mengatakannya tidak. Mengapa perbedaan pendapat dalam hukum Islam bisa terjadi? Bukankah semua hukum syariah berasal dari Allah SWT? Mengapa bisa terjadi dan bagaimana pula kita akan menyikapinya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama kali izinkan penulis untuk mengingatkan kembali tentang definisi fikih. Para ulama mendefinisikan fikih sebagai “pengetahuan tentang hukum syariah amaliah berdasarkan dalil terperinci dan menggunakan metode ijtihad”. Dari definisi ini kita bisa pahami bahwa tidak semua hukum syariah merupakan bagian dari fikih. Fikih hanya mencakup hukum-hukum yang untuk mengetahuinya memerlukan proses ijtihad.

Gambaran proses ijtihad ini misalkan ada sebuah pertanyaan terkait hukum islam yakni, “Apa hukumnya transaksi menggunakan bitcoin?”

Dari pertanyaan ini kemudian para ulama mencari dalil-dalil yang bisa menjawab persoalan tersebut, kemudian menggunakan metode pemahaman dalil dan lain sebagainya, melakukan proses berfikir dan menimbang, hingga akhirnya memberikan jawaban hukumnya. Dari sini bisa kita pahami bahwa wilayah kajian fikih ialah seputar persoalan-persoalan hukum yang jawabannya tidak bisa kita temukan secara instan di dalam Alquran maupun hadits Nabi, namun yang membutuhkan proses fikir berkelanjutan.

Mungkin akan muncul pertanyaan dalam benak anda. Bagaimana mungkin ada proses berfikir manusia dalam merumuskan hukum islam, sementara kita tahu bahwa hukum Islam itu bersumber dari Allah SWT dan bukankah islam itu merupakan sebuah agama yang kaffah, yang bisa menjawab semua persoalan?

Baca Juga :  Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi Bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Pembaca yang budiman, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, izinkan penulis menjelaskan dulu makna kata “pengetahuan” dalam definisi fikih yang telah disebutkan diatas. Para ulama membagi pengetahuan dalam berbagai klaster. Klaster tertinggi ialah “ilmu”, disusul dengan “dzann”, dan terakhir ialah “syaqq”.

Ilmu didefinisikan sebagai mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Seperti misalkan kita mengetahui bahwa di Makkah terdapat bangunan yang dinamakan Ka’bah. Kita meyakini itu sebagai sebuah kebenaran karena beberapa dari kita pernah kesana dan melihat ka’bah secara langsung kasat mata, dan yang belum pernah kesana telah mendapatkan kabar bukan hanya dari satu orang tentang keberadaan bangunan Ka’bah tersebut. Apalagi kabar tersebut divalidasi dengan adanya gambar atau visual yang sering kita lihat lewat berbagai media baik televisi atau internet. Kebalikan dari ilmu ialah jahl atau bodoh.

Berikutnya ialah “dzann” atau persangkaan. Contohnya ialah ketika diatas langit kita melihat awan tebal, maka kita menyangka bahwa akan terjadi hujan. Bisa jadi hujan lantas tidak turun namun dugaan kuat berdasarkan pengalaman menyatakan bahwa awan tebal di langit biasanya disusul dengan turunnya hujan. Adapun ketika mendung tersebut tipis-tipis saja, maka dugaan kita tidak kuat, dan membuat kita ragu apakah akan turun hujan atau tidak. Keraguan semacam ini disebut sebagai “syaqq”.

Lantas apa hubungan ketiganya dengan hukum? Kita tahu bahwa di masa hidup Rasulullah, semua persoalan bisa dijawab langsung oleh beliau sebagai pembawa risalah. Maka di masa tersebut, hampir tidak ada perdebatan karena semua perdebatan bisa diselesaikan oleh Rasulullah. Sepeninggal Rasulullah, beliau mewariskan dua hal sebagai pedoman hidup kita, yakni Alquran dan hadits.

Masalahnya adalah, teks itu terbatas sementara persoalan hukum akan terus bertambah dan berkembang seiring perubahan zaman dan perbedaan tempat. Alquran dan hadits merupakan dua hal yang haram hukumnya untuk kita rubah, tambah atau kurangi, sementara persoalan yang membutuhkan jawaban hukum akan selalu ada. Dari sinilah dibutuhkan proses ijtihad oleh para ulama untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut.

Baca Juga :  Empat Kasus Rajam di Zaman Rasulullah, Semua atas Inisiatif Sendiri

Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh para ulama ketika tidak terdapat jawaban pasti dalam Alquran atau hadits ialah membuat sebuah dugaan kuat atau dzann. Kita menyatakannya sebagai dzann karena pengetahuan pasti (ilmu) tentang hal tersebut hanyalah Allah yang tahu. Bila kita kembali contohkan persoalan bitcoin diatas, maka dalam hal ini, Alquran tidak pernah membicarakan bitcoin. Hadits pun tidak. Namun didalam Al-Quran terdapat petunjuk tentang sebuah transaksi yang halal dan haram.

Maka para ulama menggali dalil-dalil tersebut, kemudian memikirkan rumusan jawaban mereka sesuai dengan pertimbangan yang mereka buat hingga akhirnya memutuskan sebuah jawaban. Dalam proses berfikir itu, bisa jadi ada perbedaan antara satu ulama dengan ulama lainnya. Jawaban mereka pun bisa saja saling berbeda. Namun mesti diingat, bahwa yang mereka rumuskan adalah dzann/dugaan kuat belaka, bukan sebuah kepastian karena dalam hal ini kepastian pengetahuan hanya milik Allah SWT.

Lantas bagaimana status kekuatan dari dugaan-dugaan yang telah dirumuskan oleh para ulama itu? Rasulullah jauh-jauh hari sudah menyatakan bahwa bagi setiap orang yang berijtihad, mereka akan mendapatkan pahala, lepas dari apakah hasil ijtihad mereka itu benar ataupun tidak kelak di hari akhirat. Maka dengan demikian, adalah wajar apabila ada ulama yang menyatakan sunnah qunut shubuh dan ada yang tidak, karena proses berfikir mereka berbeda-beda. Keduanya tidaklah bisa kita salahkan mengingat Rasulullah pun membenarkan mereka. Sebagaimana materi klasik ceramah K.H. Zainuddin MZ, dalam hal ini yang salah ialah yang tidak salat shubuh.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here